Film ‘Na Willa’ yang Menyentuh Hati
Film ‘Na Willa’ mungkin terlihat sederhana, tapi di balik kesederhanaannya, film ini justru memiliki daya tarik yang luar biasa. Dibintangi oleh Luisa Adreena, film ini mengisahkan kisah seorang anak perempuan berusia 6 tahun yang tinggal di sebuah gang kecil di Surabaya. Dunianya penuh dengan keajaiban, hingga akhirnya perubahan datang saat teman-temannya mulai bersekolah dan ia merasa sendirian. Saat akhirnya ikut sekolah, Na Willa menghadapi dunia baru yang asing, dan perlahan belajar bahwa tumbuh berarti berdamai dengan perubahan.
Adaptasi dari Buku Anak yang Ikonik
Film ‘Na Willa’ diangkat dari buku karya Reda Gaudiamo berjudul ‘Na Willa: Serial Catatan Kemarin’. Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 2012 dan sudah dikenal sebagai salah satu karya sastra anak Indonesia yang sangat ikonik. Gaya berceritanya sederhana, tetapi penuh makna. Penulis berhasil menangkap hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari, yang mungkin terlihat biasa saja, tapi sebenarnya menyimpan makna yang dalam. Pendekatan ini juga dipertahankan dalam versi filmnya, sehingga penonton yang pernah membaca bukunya akan merasakan nostalgia yang kuat.
Dari Animasi ke Live Action
Sutradara Ryan Adriandhy sebelumnya dikenal lewat film animasi ‘Jumbo’, yang memiliki visual yang kuat dan dunia yang imajinatif. Namun, untuk ‘Na Willa’, ia memilih pendekatan yang berbeda, yaitu live action. Keputusan ini tidak tanpa alasan. Dengan format live action, emosi yang ingin disampaikan terasa lebih dekat dan nyata. Ekspresi karakter, interaksi antar tokoh, serta detail kecil dalam kehidupan sehari-hari menjadi lebih mudah dirasakan oleh penonton. Hasilnya, film ini terasa lebih personal, seolah kita ikut masuk ke dunia Na Willa, bukan sekadar menontonnya dari jauh.
Perspektif Anak-Anak yang Jujur
Salah satu kekuatan film ‘Na Willa’ adalah cara bercerita yang konsisten dari sudut pandang anak-anak. Ini bukan sekadar film tentang anak kecil, tapi benar-benar film yang “berpikir” seperti anak kecil. Artinya, cara melihat masalah, memahami dunia, sampai merespons hal-hal di sekitar semuanya terasa polos dan jujur. Hal-hal yang bagi orang dewasa terasa sepele, di mata anak-anak bisa jadi sesuatu yang besar dan penuh makna. Justru dari situlah, film ini terasa sangat relate, karena tanpa sadar, kita jadi diingatkan lagi dengan cara kita melihat dunia dulu.
Latar Surabaya Tahun 1960-an yang Aesthetic
Secara visual, ‘Na Willa’ juga punya daya tarik yang kuat lewat latar waktu dan tempatnya. Film ini mengambil latar di Surabaya era 1960-an, yang ditampilkan dengan detail yang cukup autentik. Mulai dari rumah-rumah sederhana, suasana kampung, hingga benda-benda seperti radio dan perabot jadul, semuanya membantu membangun atmosfer yang hangat dan nostalgic. Bagi sebagian penonton, ini mungkin terasa seperti perjalanan ke masa lalu. Tapi bahkan untuk yang tidak pernah mengalami era itu, suasananya tetap terasa akrab dan nyaman.
Produksi Child-Friendly dengan Waktu Tidur Siang
Selama proses syuting, Ryan Adriandhy menyediakan waktu khusus untuk tidur siang bagi para pemain dan kru. Setelah makan siang, seluruh tim diwajibkan istirahat sekitar 30 menit untuk recharge energi, terutama karena film ini melibatkan banyak aktor cilik. Bahkan, sang sutradara menyebut ini sebagai sesuatu yang jarang, atau bahkan belum pernah dilakukan di produksi film Indonesia lainnya.
Lokasi syuting juga dibuat ramah anak, mulai dari bebas asap rokok sampai disediakan area bermain seperti playground. Tujuannya jelas, yaitu memastikan anak-anak tetap nyaman, happy, dan bisa tampil maksimal di depan kamera.




Itulah beberapa fakta menarik seputar film ‘Na Willa’. Bagi kamu yang penasaran dengan jalan ceritanya, atau bahkan ingin melihat imutnya para bintang cilik, film ‘Na Willa’ sudah dapat kamu saksikan di bioskop!






