Alih Fungsi Lahan Hulu: Biang Kerok Banjir Banjar Buleleng

Banjir Bandang di Buleleng: Alih Fungsi Lahan Diduga Jadi Pemicu Utama

Bencana banjir bandang yang baru-baru ini melanda Desa/Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, telah menimbulkan keprihatinan mendalam. Dugaan kuat mengarah pada alih fungsi lahan di wilayah hulu sebagai salah satu faktor utama yang memperparah kejadian tragis ini. Pernyataan ini disampaikan oleh Anggota DPR RI, I Ketut Kariyasa Adnyana, saat melakukan peninjauan langsung ke lokasi bencana pada Sabtu, 7 Maret 2026 sore.

Kariyasa Adnyana menyatakan keprihatinan dan rasa dukacita yang mendalam atas musibah yang menimpa masyarakat Buleleng. Ia menyoroti tren peningkatan intensitas dan kuantitas bencana alam di Bali sejak tahun 2002. “Contohnya, Denpasar yang sebelumnya tidak pernah banjir, kini sering dilanda banjir. Ini menjadi kewaspadaan bagi kita semua,” ungkapnya, menekankan bahwa fenomena ini memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak.

Selain faktor cuaca, yang seringkali menjadi penyebab utama kejadian ekstrem, Kariyasa Adnyana menilai bahwa aktivitas manusia memiliki potensi besar untuk memperparah dampak bencana. Deforestasi dan alih fungsi lahan menjadi perhatian utamanya. Ia mengamati bahwa sejumlah kawasan hutan di Bali belakangan ini mengalami perubahan fungsi yang signifikan, beralih menjadi lahan pertanian produktif atau untuk aktivitas ekonomi lainnya.

Dampak Alih Fungsi Lahan terhadap Kemampuan Tanah

Perubahan fungsi lahan dan modifikasi vegetasi secara drastis dapat memengaruhi kemampuan tanah dalam menyerap dan menahan air. Situasi ini menjadi semakin rentan ketika tanaman keras yang memiliki sistem perakaran kuat digantikan oleh tanaman lain dengan akar yang tidak mampu menahan tanah secara optimal.

Sebagai contoh konkret, Kariyasa Adnyana menyoroti adanya perubahan vegetasi di beberapa lokasi dari tanaman keras menjadi tanaman produktif seperti kopi, pisang, atau berbagai jenis tanaman buah-buahan. Dalam proses peralihan ini, seringkali pohon-pohon besar yang sudah tua harus ditebang untuk memberikan ruang dan sinar matahari yang cukup bagi tanaman baru agar dapat tumbuh optimal.

Secara ekonomi, perubahan ini mungkin memberikan keuntungan langsung bagi masyarakat karena lahan menjadi lebih produktif dan menghasilkan. Namun, di sisi lain, modifikasi vegetasi semacam ini berpotensi mengurangi daya serap tanah terhadap air hujan. Akibatnya, risiko terjadinya tanah longsor dan banjir bandang saat curah hujan tinggi meningkat secara signifikan.

Perlunya Kajian Mendalam dan Respons Cepat

Menyikapi kondisi tersebut, Kariyasa Adnyana mendorong dilakukannya kajian mendalam. Tujuannya adalah untuk memastikan secara ilmiah sejauh mana alih fungsi lahan berkontribusi terhadap terjadinya bencana banjir bandang di Banjar. Kajian ini penting untuk merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran dan berkelanjutan di masa depan.

Sebagai seorang politisi dari PDI Perjuangan, ia menekankan bahwa persoalan kebencanaan harus menjadi prioritas perhatian serius. Hal ini terutama berlaku bagi Bali, yang merupakan daerah pariwisata utama dan sangat sensitif terhadap isu keamanan serta kelestarian lingkungan.

Jika kejadian bencana terus berulang dan menjadi sorotan luas di media sosial, hal ini dikhawatirkan dapat memengaruhi persepsi wisatawan mengenai keamanan dan stabilitas Bali.

“Bali ini pulau kecil dan daerah pariwisata. Isu bencana bisa berdampak pada citra pariwisata jika tidak ditangani dengan baik,” tegasnya.

Penanganan bencana yang efektif dan mitigasi risiko yang terencana dengan baik tidak hanya penting untuk melindungi masyarakat dan lingkungan, tetapi juga krusial untuk menjaga reputasi Bali sebagai destinasi wisata dunia yang aman dan menarik. Upaya bersama dari pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya sangat diperlukan untuk mengantisipasi dan mengatasi ancaman bencana di masa mendatang.

Pos terkait