Perkembangan Terkini tentang ChatGPT dan Keamanan Data
Lini masa media sosial saat ini tengah diramaikan dengan unggahan video yang memperlihatkan ChatGPT mampu mengetahui privasi pengguna, bahkan melihat apa yang sedang mereka lakukan. Dalam sejumlah video yang beredar, terlihat pengguna mengajukan pertanyaan sederhana kepada ChatGPT, lalu menerima jawaban yang dinilai seolah-olah sesuai dengan kondisi nyata di sekitar mereka.
Salah satu video tersebut diunggah oleh akun TikTok @vioh**, pada Minggu (18/1/2026). Dalam narasi unggahannya, pengguna menyampaikan bahwa video ini membuatnya sadar bahwa kehidupan manusia seperti hidup di rumah kaca. Menurutnya, ChatGPT bisa tahu apa yang digunakan pengguna hanya dari suara. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa akses kamera mungkin nyata.
Hingga Sabtu (24/1/2026) sore, video tersebut telah ditonton lebih dari 3,1 juta kali dan memicu ribuan komentar dari warganet. Fenomena ini juga memunculkan kekhawatiran publik terkait keamanan data dan perlindungan privasi pengguna. Lantas, benarkah ChatGPT dapat mengetahui aktivitas pengguna dan mengakses privasi mereka?
Penjelasan dari Ahli Keamanan Siber
Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC, Pratama Persadha, menanggapi isu yang ramai beredar di media sosial terkait klaim bahwa ChatGPT mampu mengetahui detail pribadi pengguna, seperti warna pakaian atau apakah seseorang mengenakan jam tangan. Menurutnya, klaim tersebut telah memicu kegelisahan publik mengenai keamanan privasi.
Dalam berbagai unggahan video, terlihat pengguna mengajukan pertanyaan sederhana kepada ChatGPT, lalu menerima jawaban yang dinilai seolah-olah sesuai dengan kondisi nyata. Situasi ini menimbulkan kesan bahwa kecerdasan buatan tersebut dapat mengamati pengguna secara langsung, bahkan memunculkan dugaan bahwa sistem AI diam-diam mengakses kamera atau memantau aktivitas sehari-hari tanpa sepengetahuan pemilik perangkat.
Pratama menegaskan, pemahaman teknis menjadi kunci untuk meluruskan persepsi tersebut. Ia pun memastikan bahwa ChatGPT tidak dirancang untuk menyalakan kamera perangkat, mengamati lingkungan sekitar, atau mengetahui apa yang dikenakan pengguna tanpa adanya informasi yang secara sengaja diberikan.
“Akses semacam itu secara teknis tidak mungkin terjadi tanpa izin eksplisit dari pengguna dan tanpa tanda yang jelas di tingkat sistem operasi,” ujar Pratama.
Mekanisme Kerja ChatGPT
Ia menjelaskan, perangkat modern seperti Android dan iOS mewajibkan setiap aplikasi meminta persetujuan pengguna sebelum menggunakan kamera. Selain itu, sistem operasi juga menampilkan indikator visual ketika kamera aktif, sehingga penggunaan kamera secara tersembunyi tidak dapat dilakukan.
Terkait jawaban ChatGPT yang terlihat akurat, Pratama menyebut fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui mekanisme kerja model bahasa. Dalam banyak kasus, respons yang dihasilkan merupakan prediksi berbasis probabilitas yang disusun dari konteks percakapan, pilihan kata, serta asumsi umum yang lazim digunakan manusia.
Sebagai model bahasa besar, kata dia, ChatGPT mengolah pola bahasa dari input pengguna dan menghasilkan jawaban yang paling masuk akal secara statistik. Tidak jarang, jawaban tersebut kebetulan sesuai dengan kenyataan, meskipun tidak didasarkan pada pengamatan visual apa pun.
“Mekanisme ini mirip dengan teknik cold reading, yakni menyusun tebakan dari petunjuk umum tanpa akses langsung terhadap fakta sebenarnya,” jelas Pratama.
Fitur Khusus dan Batasan Penggunaan
Di sisi lain, ia mengakui bahwa terdapat fitur tertentu yang memungkinkan AI menganalisis gambar atau video. Namun, fitur tersebut hanya dapat digunakan apabila pengguna secara sadar mengaktifkannya, seperti menekan ikon kamera, memberikan izin akses, atau mengunggah konten visual secara langsung.
“Dalam kondisi itu, ChatGPT hanya memproses informasi visual yang memang disediakan oleh pengguna, bukan mengambil data dari kamera secara otomatis atau memantau aktivitas tanpa sepengetahuan mereka,” kata Pratama.
Ia menambahkan, video viral yang memperlihatkan ChatGPT seakan mengetahui detail fisik pengguna kemungkinan besar terjadi karena adanya input visual yang telah diaktifkan, atau karena jawaban AI hanyalah prediksi yang kebetulan tepat berdasarkan teks pertanyaan.
Menurutnya, tidak terdapat sistem atau mekanisme yang memungkinkan ChatGPT melakukan pemantauan real-time terhadap kehidupan pengguna tanpa persetujuan eksplisit dan tanpa indikator kamera yang aktif di perangkat.
Pentingnya Kesadaran Pengguna
Pratama menilai, narasi yang berkembang di media sosial kerap berubah menjadi ketakutan berlebihan dan bercampur dengan informasi yang keliru. Padahal, isu privasi dalam penggunaan AI seharusnya difokuskan pada aspek yang lebih nyata, yakni data yang secara sadar dibagikan oleh pengguna.
“Percakapan teks, gambar atau video yang diunggah, serta integrasi dengan data lain seperti kalender atau kontak memang dapat diproses oleh layanan AI sesuai kebijakan privasi penyedia layanan,” tutur Pratama.
Dalam menghadapi era kecerdasan buatan, ia menekankan pentingnya sikap sadar dan kritis terhadap izin serta data yang diberikan. Pengguna perlu selektif dalam membagikan informasi pribadi, memahami fitur yang diaktifkan, serta memeriksa pengaturan privasi aplikasi agar teknologi AI dapat dimanfaatkan secara aman tanpa terjebak pada ketakutan yang tidak beralasan.






