BEI Catat Lonjakan Transaksi Obligasi GSS 156 Kali Lipat, Tembus Rp 78 Triliun

Pertumbuhan Signifikan Instrumen Utang Hijau di Bursa Efek Indonesia

Dalam delapan tahun terakhir, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pertumbuhan yang signifikan pada instrumen utang Green Social and Sustainability (GSS) Bonds. Pejabat Sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyampaikan bahwa pada 2018, hanya ada instrumen utang senilai Rp 500 miliar yang dikucurkan untuk proyek terkait lingkungan, sosial, dan keberlanjutan. Namun, hingga Maret 2026, nilai transaksi GSS Bonds meningkat drastis menjadi sebesar Rp78,1 triliun.

“Kini, pencapaian GSS Bonds dan sukuk di BEI telah mencapai angka Rp78,1 triliun. Jika dilihat dari pertumbuhannya, angka ini tumbuh hingga 156 kali lipat,” ujar Jeffrey dalam sambutannya di ESG Forum: ESG untuk Akselerasi Dekarbonisasi dan Bisnis Hijau Indonesia, yang diselenggarakan di Jakarta pada Senin (6/4).

Meski demikian, Jeffrey menilai masih banyak ruang bagi pembiayaan hijau ini untuk berkembang lebih pesat. Hal ini mengingat kebutuhan Indonesia dalam upaya dekarbonisasi dan menghadapi perubahan iklim masih sangat besar.

Penerbitan Obligasi Hijau Meningkat Pesat

Penerbitan obligasi hijau di pasar modal Indonesia juga mengalami peningkatan yang pesat. Hingga saat ini, total penerbitan mencapai Rp31,6 triliun. Angka ini menunjukkan komitmen yang kuat dari berbagai pihak, termasuk perusahaan dan lembaga keuangan, untuk mendukung proyek-proyek ramah lingkungan.

Pasar Karbon Beroperasi Penuh

Selain itu, pasar karbon juga mulai beroperasi secara penuh pada bulan Juni. Hashim, seorang ahli ekonomi, memprediksi bahwa dana miliaran dolar akan masuk ke pasar ini. Prediksi ini didasarkan pada permintaan yang tinggi akan pengurangan emisi karbon serta kebijakan pemerintah yang semakin mendukung inisiatif lingkungan.

Bank DBS Salurkan Pembiayaan Hijau

Bank DBS juga turut berkontribusi dalam mendukung pembiayaan hijau. Hingga saat ini, bank tersebut telah menyalurkan dana sebesar Rp7,5 triliun untuk proyek-proyek ramah lingkungan. Empat proyek utama menjadi penopang dari program ini, yaitu:

  • Pengembangan energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin.
  • Proyek pengurangan limbah industri.
  • Pembangunan infrastruktur ramah lingkungan.
  • Program peningkatan efisiensi energi di sektor perumahan dan bisnis.

Ketersediaan Produk dan Infrastruktur

Jeffrey menjelaskan bahwa BEI terus memastikan ketersediaan produk dan infrastruktur yang mendukung agenda besar tersebut. Ia menilai indeks ESG semakin diandalkan sebagai alat bantu dalam pengambilan keputusan investasi, khususnya di sektor energi terbarukan dan transisi energi. Selain itu, laporan keberlanjutan hampir seluruhnya dipenuhi oleh perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEI.

“Ini bukan hanya soal kepatuhan yang sudah cukup tinggi, tetapi bagaimana secara substantif itu semakin baik dari waktu ke waktu,” tambah Jeffrey.

Kesimpulan

Pertumbuhan instrumen utang hijau di BEI menunjukkan komitmen yang kuat dari berbagai pihak dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Dengan adanya indeks ESG yang semakin diandalkan dan ketersediaan produk serta infrastruktur yang memadai, peluang untuk pengembangan pembiayaan hijau di Indonesia terbuka lebar. Meskipun ada tantangan, langkah-langkah yang diambil oleh BEI dan pihak terkait memberikan harapan besar untuk masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Pos terkait