Bocil Nekat Rakit Balon Udara, Jemaah Umrah Terjebak Perang: Fenomena Jatim Terpopuler

Waspada Uang Palsu Menjelang Lebaran, Polisi Ungkap Kasus di Kota Batu

Menjelang perayaan Idul Fitri, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap peredaran uang palsu. Peningkatan aktivitas transaksi tunai seringkali dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan uang palsu. Selain itu, maraknya aktivitas penukaran uang baru juga berpotensi menjadi celah bagi oknum tersebut.

Menanggapi potensi ini, pihak kepolisian terus mengingatkan masyarakat dan para pedagang untuk lebih berhati-hati. Di Kota Batu, Polres Batu pernah mengungkap kasus peredaran uang palsu yang melibatkan tiga tersangka. Penangkapan dilakukan pada tanggal 23 Maret 2025, dengan barang bukti uang palsu senilai Rp14.900.000 dalam pecahan Rp100 ribu.

Ps Kasi Humas Polres Batu, Iptu M Huda Rohman, menjelaskan bahwa dalam dua tahun terakhir, Polres Batu hanya menerima satu laporan terkait uang palsu. Namun, dari pengembangan kasus tersebut, berhasil diamankan tiga tersangka berinisial GA (19), AA (37), dan HP (22). Ketiganya terbukti menjual uang palsu yang mereka dapatkan dengan cara berkomunikasi melalui Facebook. Modus operandinya adalah menjual uang palsu senilai Rp10 juta dengan harga Rp2,5 juta.

“Kami imbau bagi masyarakat menjelang Idul Fitri seperti saat ini untuk lebih berhati-hati dan waspada,” ujar Iptu M Huda Rohman. Ia juga menekankan pentingnya memeriksa keaslian uang baru sebelum ditukarkan.

Para pedagang juga menjadi sasaran imbauan. Iptu Huda Rohman menyarankan agar para pedagang memiliki alat pendeteksi uang palsu, seperti lampu ultraviolet, di setiap toko. Hal ini penting mengingat seringkali pedagang baru menyadari adanya uang palsu setelah transaksi berlangsung.

Uang palsu yang berhasil disita dari tersangka memiliki ciri khas tekstur yang lebih halus dari uang asli. Untuk menyerupai uang asli, uang palsu tersebut disemprot dengan cat semprot pilox akrilik agar terasa kasar saat disentuh.

Salah satu pemilik toko kelontong di Kota Batu, Tutik Winarni, mengaku pernah menjadi korban uang palsu. Ia menerima dua lembar uang palsu pecahan Rp100 ribu dari total transaksi senilai Rp2 juta. Kejadian ini baru disadarinya saat akan menyetorkan uang tersebut ke bank.

“Bentuknya persis sama uang asli. Baru ketahuan pas mau saya setorkan ke bank. Setelah itu akhirnya saya beli alat untuk deteksi uang palsu,” tuturnya. Meskipun nominalnya tidak terlalu besar, Tutik segera menginformasikan pengalaman tersebut kepada sesama pedagang dan teman-temannya agar tidak mengalami hal serupa. Ia memilih untuk tidak melaporkan ke polisi karena jumlahnya yang tidak signifikan, namun ia menekankan pentingnya kewaspadaan bagi semua pihak.

Aksi Nekat Belasan Bocah Merakit Balon Udara dan Petasan Berujung Pembinaan

Di Ponorogo, Jawa Timur, sebuah rumah di Kecamatan Sukorejo menjadi lokasi penggerebekan oleh polisi karena diduga digunakan sebagai tempat merakit balon udara tanpa awak dan petasan oleh belasan anak-anak. Penggerebekan ini berawal dari laporan orang tua yang merasa resah karena anaknya sering menerima paket berisi bahan petasan.

Dalam penggerebekan tersebut, ditemukan 11 anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Mereka diduga secara otodidak merakit balon udara tanpa awak yang panjangnya mencapai 15 meter, serta puluhan selongsong petasan dan bubuk mesiu. Berbagai peralatan untuk meracik bahan berbahaya tersebut juga turut diamankan.

Kapolsek Sukorejo, IPTU Agus Tricahyo, menyatakan bahwa keresahan orang tua muncul karena anaknya kerap menerima paket COD dan rumahnya sering didatangi anak-anak lain. Setelah diselidiki, ternyata mereka tengah membuat balon udara dan meracik petasan.

Yang mengejutkan, anak-anak tersebut bahkan melakukan patungan uang saku. Masing-masing anak menyisihkan uang sakunya sebesar Rp30 ribu untuk membeli bahan-bahan tersebut. Laporan dari orang tua kepada perangkat desa kemudian diteruskan ke Polsek Sukorejo.

“Setelah itu kami datang dan kami cek dan ternyata benar di lapangan kami menemukan bahan peledak yang sudah diracik dan juga beberapa bahan bakunya serta plastik yang digunakan untuk membuat balon udara,” ungkap IPTU Agus Tricahyo.

Karena seluruh terduga pelaku masih di bawah umur, mereka tidak ditahan. Sebaliknya, seluruhnya diberikan pembinaan dan diminta untuk meminta maaf kepada orang tua mereka di hadapan polisi. Seluruh barang bukti, termasuk balon udara tanpa awak, selongsong petasan, dan bubuk mesiu, diamankan di Polsek Sukorejo.

Pihak kepolisian juga menghimbau kepada para orang tua untuk terus meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak mereka saat berada di luar rumah guna mengantisipasi kejadian serupa.

Jemaah Umrah Tetap Berangkat ke Jeddah, Hindari Transit di Tengah Konflik Timur Tengah

Di tengah situasi memanasnya konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat, keberangkatan jemaah umrah asal Jawa Timur tetap berjalan lancar. Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) Ziarah Hati Indonesia, milik Moch Mas Amiruddin, memastikan jemaah diberangkatkan menggunakan penerbangan langsung (direct flight) ke Jeddah.

Pada Kamis (5/3/2026), sebanyak 30 jemaah umrah asal Jawa Timur diberangkatkan melalui penerbangan reguler langsung dari Indonesia ke Jeddah. Mereka dijadwalkan menjalani rangkaian ibadah umrah selama 12 hari di Mekkah dan Madinah, dan akan kembali ke Tanah Air menggunakan penerbangan langsung dari Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, menuju Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo.

Mas Amiruddin menjelaskan bahwa jemaah yang mengalami penundaan keberangkatan atau kepulangan kemungkinan besar adalah mereka yang menggunakan jasa travel dengan penerbangan charter flights atau yang melakukan transit di negara-negara Timur Tengah. Penerbangan jenis ini, yang seringkali menggunakan pesawat berukuran lebih kecil dan sistem kuota, rentan terhadap pembatalan akibat situasi konflik yang sedang berlangsung.

“Kalau mereka travel yang menggunakan pesawat-pesawat yang transit di negara Timur Tengah, pasti tidak bisa. Dia harus me-schedule lagi,” jelasnya.

Berbeda dengan penerbangan charter, penerbangan reguler yang digunakan oleh biro travel miliknya memanfaatkan pesawat berukuran besar dan tetap diberangkatkan sesuai jadwal, terlepas dari jumlah penumpang. Mas Amiruddin secara konsisten menggunakan maskapai Garuda Indonesia untuk penerbangan langsung ke Jeddah, yang rutenya telah diatur untuk menghindari wilayah udara negara-negara yang berkonflik.

“Lah kami dari dulu itu memakai Garuda karena apa. Karena direct. Pesawat ini kan dari arah ke tujuan negaranya, ke Jeddah maupun ke Madinah. Sehingga tidak ada cancel dari airland (maskapai). Karena apa. Karena kita rutenya itu tidak melewati Timur Tengah,” katanya.

Ia menambahkan bahwa pilot pesawat sudah dipandu untuk menghindari teritori udara negara-negara yang sedang berkonflik, sehingga penerbangan Garuda Indonesia dinilai aman saat ini.

Situasi ketidakpastian di Timur Tengah memang menimbulkan kendala bagi beberapa jemaah umrah, terutama yang menggunakan penerbangan transit. Mas Amiruddin menceritakan bahwa ada seorang temannya sesama pengusaha biro travel yang membawa 35 jemaah asal Sidoarjo, yang kepulangannya tertunda dari jadwal semula. Penjadwalan ulang pun harus dilakukan, yang berarti pihak travel harus mengeluarkan biaya tambahan untuk akomodasi dan fasilitas lain selama masa tunggu jemaah.

Tips Memilih Travel Umrah di Tengah Ketidakpastian Situasi Timur Tengah

Menghadapi situasi genting akibat konflik Iran-Israel, memilih biro travel umrah yang tepat menjadi krusial untuk menjamin kelancaran perjalanan ibadah. Moch Mas Amiruddin memberikan beberapa tips penting:

  1. Pastikan Jenis Penerbangan: Pilih biro travel yang menyediakan penerbangan reguler langsung (direct flight) dari Indonesia ke Arab Saudi menggunakan maskapai besar. Hindari travel yang menggunakan pesawat transit di negara-negara Timur Tengah yang sedang berkonflik. Penerbangan langsung dinilai lebih aman dan meminimalkan risiko penundaan.

  2. Perhatikan Durasi Ibadah: Sebaiknya pilih paket umrah dengan durasi perjalanan yang relatif pendek, misalnya 12 hari. Hal ini memastikan bahwa waktu di Arab Saudi benar-benar difokuskan untuk rangkaian ibadah utama, sehingga jemaah dapat segera kembali ke Tanah Air. Kebijakan kunjungan di Arab Saudi bisa saja berubah sewaktu-waktu karena situasi yang tidak menentu.

Mas Amiruddin juga menyarankan agar Pemerintah Indonesia mengevaluasi kebijakan Umrah Mandiri. Ia berpendapat bahwa jemaah umrah mandiri akan lebih kesulitan menghadapi situasi genting seperti ini, karena harus mengurus semuanya sendiri jika terjadi pembatalan penerbangan atau penolakan masuk bandara. Sementara itu, jemaah yang menggunakan PPIU yang terpercaya akan mendapatkan jaminan keamanan, asuransi, serta fasilitas tempat tinggal, konsumsi, dan kesehatan yang memadai selama masa menunggu jika terjadi penundaan.

“Contoh, sampai bandara terus tertolak, karena karena pesawatnya tidak terbang, maka dia ya harus ngurus sendiri semuanya gitu loh. Cari informasi sendiri ya. Cari informasi itu kan enggak mudah gitu apalagi perorangan gitu,” pungkasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa perang yang berlanjut dapat menyebabkan penutupan seluruh jalur penerbangan, sehingga penting untuk selalu memantau perkembangan situasi dan memilih penyedia layanan perjalanan yang terpercaya.

Pos terkait