Bule Berburu Takjil di Kampung Muslim Bali

Masjid Raya Baiturrahmah di Denpasar, Bali, telah bertransformasi menjadi pusat keramaian selama bulan Ramadan dengan menyelenggarakan pasar Ramadan yang dikenal sebagai Kampung Muslim Wanasari. Fenomena unik ini menarik perhatian tidak hanya umat Muslim dan penduduk lokal, tetapi juga wisatawan asing yang turut memeriahkan suasana perayaan bulan suci.

Ketua Koordinator Pasar Ramadan Masjid Raya Baiturrahmah Denpasar, Marjuki Fathan, menjelaskan bahwa popularitas pasar Ramadan ini semakin meroket setiap tahunnya, terutama setelah viral di media sosial. Banyak pengunjung, baik masyarakat umum maupun wisatawan, datang tidak hanya untuk berburu takjil dan menikmati aneka kuliner, tetapi juga untuk mengabadikan momen serta membuat konten digital.

“Pengunjung kami sangat beragam, tidak hanya umat Muslim. Kami tidak menghalangi siapa pun. Bahkan, wisatawan asing pun ikut mencari makanan di sini. Sementara itu, bagi umat Muslim, biasanya keramaian terjadi sekitar jam 5 sore, saat jam pulang kantor, mereka singgah ke sini,” ungkap Marjuki Fathan di Denpasar pada Sabtu, 21 Februari 2026.

Antusiasme Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk berpartisipasi dalam pasar Ramadan ini terus meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Peningkatan jumlah pedagang ini bahkan telah melampaui kapasitas area Kampung Muslim Wanasari yang tersedia.

Tantangan Kapasitas dan Solusi Penempatan UMKM

Marjuki Fathan menambahkan, “Setiap tahun, jumlah peserta semakin meningkat. Namun, kami menghadapi keterbatasan tempat untuk UMKM. Tahun ini, tercatat ada 79 usaha yang berpartisipasi. Kami terpaksa membagi lokasi berjualan mereka. Sekitar 35 usaha ditempatkan di area sekitar masjid, sementara sisanya dialihkan ke lahan masjid yang berada di seberang pusat perbelanjaan ritel.”

Puluhan UMKM yang berpartisipasi ini akan berjualan sepanjang periode 19 Februari hingga 16 Maret 2026. Aktivitas pasar Ramadan ini akan berakhir menjelang Hari Suci Nyepi.

Berkah Ramadan bagi UMKM Lokal

Pasar Ramadan di Masjid Raya Baiturrahmah tidak hanya membawa keceriaan dan nuansa perayaan bagi masyarakat serta wisatawan, tetapi juga diyakini memberikan berkah yang signifikan bagi para pelaku UMKM. Berdasarkan perhitungan panitia tahun lalu, setiap pedagang mampu memperoleh pendapatan bersih minimal Rp 1 juta per hari selama periode pasar Ramadan.

Proses pemilihan UMKM yang berhak berjualan tidak dilakukan secara sembarangan. Mayoritas pedagang yang dipilih adalah warga setempat yang aktivitas ekonominya sehari-hari sangat bergantung pada hasil berdagang. Sisanya adalah pedagang dari luar Kampung Muslim Wanasari yang mengajukan diri untuk berpartisipasi.

“Kami tidak terlalu ketat dalam seleksi, yang terpenting adalah mereka bersedia mengikuti arahan yang telah ditetapkan. Arahan tersebut mencakup pembayaran iuran yang dimulai dari Rp35 ribu per hari, serta kewajiban untuk memastikan bahwa dagangan yang dijual tidak menggunakan pemanis, pewarna, dan pengawet buatan. Kebijakan ini kami laksanakan demi mensejahterakan para pelaku UMKM,” jelas Marjuki.

Sate Susu, Sang Primadona Kuliner Ramadan

Di antara beragam jajanan yang ditawarkan, Sate Susu menjadi salah satu kuliner yang paling banyak dilirik oleh masyarakat dan wisatawan. Sate Susu merupakan hidangan unik yang berbahan dasar daging sapi dan secara khusus hanya dijual selama bulan Ramadan di pasar tersebut.

Salah satu pengunjung setia pasar kuliner ini, Kadek Yudia, seorang warga lokal, mengungkapkan bahwa ia sudah merasakan kelezatan kuliner di Kampung Muslim Wanasari sejak Ramadan tahun lalu. Meskipun ia tidak menjalankan ibadah puasa, ia tetap antusias membeli berbagai jajanan dan makanan berat yang dijual di sana untuk kebutuhan makan malam dan camilan.

“Tahun lalu saya juga datang ke sini. Karena saya tidak berpuasa, saya membeli sate susu, gorengan, dan aneka jajanan manis untuk dibawa pulang dan dinikmati nanti. Harganya juga tidak terlalu mahal. Sambil berbelanja, saya juga sempat merekam suasana untuk membuat konten,” tutur Kadek Yudia.

Kehadiran pasar Ramadan di Masjid Raya Baiturrahmah ini tidak hanya menjadi ajang kuliner, tetapi juga menjadi simbol kerukunan dan kebersamaan yang memperkaya pengalaman budaya di Pulau Dewata, menarik berbagai lapisan masyarakat untuk turut serta dalam kemeriahan bulan penuh berkah ini.

Pos terkait