Bulog Bondowoso Capai 37 Persen Target Serapan Gabah Petani di Awal Maret
Perum Bulog Cabang Bondowoso menunjukkan progres yang signifikan dalam menyerap hasil panen petani. Hingga awal Maret 2026, Bulog Cabang Bondowoso telah berhasil menyerap gabah petani sebanyak 14.010 ton setara beras. Angka ini merepresentasikan 37 persen dari total target serapan yang telah ditetapkan untuk wilayah tersebut.
Pemimpin Cabang Perum Bulog Bondowoso, Hesty Retno Kusumastuti, merinci bahwa target serapan gabah untuk wilayah Bondowoso pada tahun ini adalah sebesar 38.132 ton setara beras. Target ini merupakan bagian integral dari target keseluruhan yang diemban oleh Bulog Cabang Bondowoso, yaitu mencapai 65.669 ton setara beras.
Untuk mencapai target ambisius ini, Bulog Cabang Bondowoso telah mengoptimalkan jaringannya di seluruh wilayah Bondowoso. Sebanyak 23 mitra kerja Bulog Bondowoso dilibatkan secara aktif dalam proses penyerapan gabah. Selain itu, kerja sama juga diperluas dengan sekitar 10 hingga 15 mitra maklon. Mitra maklon ini memegang peranan penting dalam tahapan krusial pengeringan dan penggilingan gabah, memastikan kualitas gabah yang diserap memenuhi standar.
Hesty menjelaskan lebih lanjut mengenai alur kerja sama ini. Meskipun Bulog memiliki kapabilitas untuk menyerap gabah secara langsung dari petani, kendala ketiadaan fasilitas penggilingan internal membuat gabah tersebut kemudian diarahkan ke mitra maklon. “Dari petani kemudian diarahkan ke mitra maklon yang melakukan proses pengeringan dan penggilingan,” ungkapnya. Pendekatan ini memungkinkan Bulog untuk tetap fokus pada aspek penyerapan, sementara proses lanjutan ditangani oleh mitra yang memiliki keahlian dan fasilitas yang memadai.
Optimisme Menghadapi Peningkatan Target
Meskipun target serapan gabah pada tahun ini mengalami peningkatan, Bulog Cabang Bondowoso menunjukkan optimisme yang tinggi untuk dapat mencapainya. Keyakinan ini didukung oleh beberapa faktor. Pertama, musim panen pada tahun ini diperkirakan akan datang lebih awal dibandingkan dengan tahun sebelumnya, memberikan periode waktu yang lebih panjang untuk pelaksanaan serapan. Kedua, terjadi peningkatan partisipasi dan kesiapan dari para mitra penggilingan.
Hesty membandingkan progres tahun ini dengan tahun sebelumnya. “Kalau tahun sebelumnya di Februari serapannya masih sekitar 5 sampai 10 persen. Sekarang akhir Februari saja sudah sekitar 30 persen,” ujarnya, menyoroti percepatan serapan yang signifikan. Peningkatan ini menjadi indikator positif bahwa strategi yang diterapkan Bulog berjalan efektif.
Menjaga Stabilitas Harga Melalui Harga Pembelian Pemerintah (HPP)
Proses penyerapan gabah yang dilakukan oleh Bulog Bondowoso mengacu pada Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Dengan HPP sebesar Rp6.500 per kilogram, Bulog berupaya menjaga stabilitas harga gabah di tingkat petani. Kebijakan ini penting untuk memastikan bahwa petani mendapatkan harga yang layak atas hasil jerih payah mereka, terutama pada saat musim panen raya ketika pasokan melimpah.
Tantangan Musim Hujan dan Solusi Pengeringan Gabah
Namun, musim hujan yang melanda pada tahun ini turut memberikan tantangan tersendiri. Kelembaban udara yang tinggi dan curah hujan yang intens dapat mempengaruhi kualitas gabah, khususnya dalam proses pengeringan. Proses pengeringan gabah yang secara tradisional mengandalkan sinar matahari menjadi lebih sulit dan memakan waktu lebih lama saat cuaca tidak mendukung.
Untuk mengatasi tantangan ini, Bulog Cabang Bondowoso mengambil langkah proaktif dengan mengoptimalkan kerja sama dengan mitra penggilingan yang telah dilengkapi dengan fasilitas pengering modern, atau yang dikenal sebagai dryer. “Kalau pakai alat pengering, hasilnya lebih stabil dibandingkan hanya mengandalkan lantai jemur yang sangat tergantung cuaca,” jelas Hesty. Penggunaan dryer memastikan bahwa gabah dapat dikeringkan secara efisien dan merata, terlepas dari kondisi cuaca, sehingga kualitasnya tetap terjaga.
Optimalisasi Kapasitas Gudang dan Jaringan Kemitraan
Selain fokus pada proses pengeringan dan penggilingan, Bulog Bondowoso juga tengah menggalakkan optimalisasi kerja sama dalam hal penyewaan gudang. Peningkatan volume serapan gabah pada tahun ini menyebabkan kapasitas gudang milik Bulog mulai terasa terbatas. Oleh karena itu, Bulog menjajaki dan memperkuat kerja sama penyewaan gudang dengan sejumlah mitra. Langkah ini penting untuk memastikan ketersediaan ruang penyimpanan yang memadai bagi gabah yang berhasil diserap, mencegah kerugian akibat penumpukan yang berlebihan.
Melalui kombinasi strategi yang matang, mulai dari penguatan jaringan mitra, pemanfaatan teknologi pengeringan, hingga manajemen logistik yang efisien, Bulog Cabang Bondowoso optimis dapat melampaui target serapan gabah petani dan berkontribusi pada ketahanan pangan nasional.






