Kehilangan Ayah, Noval Sakib Berjuang untuk Masa Depan
Noval Sakib kini harus belajar mandiri menghadapi hidup setelah kehilangan sosok pencari nafkah utama keluarganya. Di balik duka yang mendalam, ia tetap memegang cita-cita besar demi masa depan yang lebih baik.
Hari terakhir bersama ayahnya masih terasa jelas di benak Noval. Pagi itu terasa berbeda dari biasanya. Ia diantar oleh sang ayah ke sekolah, setelah mandi dan sempat diberi jamu. Saat tiba di sekolah, Noval merasakan firasat yang tidak biasa.
“Pas datang ke sekolah itu perasaannya sudah tidak enak,” ujarnya. Kabar duka datang saat ia masih mengikuti kegiatan keagamaan di sekolah.
“Sehabis selawatan sama Yasinan, saya dipanggil guru. Katanya ada saudara datang. Terus dibilang, ‘Naufal, bapaknya… sudah tidak ada’. Saya nangis, Pak,” katanya dengan suara bergetar.
Noval harus menerima kenyataan pahit bahwa ayahnya, Masadira, meninggal dunia saat sedang menunggu penumpang di atas becaknya. Di mata Noval, sang ayah adalah sosok pekerja keras yang tak pernah menyerah meski kondisi tubuhnya sering sakit.
“Kerja keras terus, Pak,” ujarnya singkat. Selama ini, Masadira menjadi tulang punggung keluarga. Ia bekerja sebagai buruh di toko kacang maupun menarik becak, demi memenuhi kebutuhan istri dan anaknya.
Kini, beban itu harus dipikul oleh sang ibu, Kurinah (43), yang bekerja sebagai buruh harian pembuat kerupuk. “Dapatnya sekitar Rp 50 ribu sampai Rp 60 ribu sehari, tergantung banyaknya kerjaan,” ucap Kurinah.
Meski hidup dalam keterbatasan, Noval tak ingin menyerah. Ia bertekad melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. “Ini mau lanjut lagi sekolah. Masih ada cita-cita,” ujar Noval.
Ia berencana melanjutkan ke SMK dengan jurusan Teknik Sepeda Motor (TSM). Tak hanya itu, Noval juga memiliki impian besar untuk masa depannya. “Mau kerja di Jepang,” katanya. Ia memiliki alasan sederhana namun menyentuh. “Ingin membahagiakan Mamah sama keluarga,” ujarnya.
Bahkan, ia berharap bisa bekerja di perusahaan otomotif ternama. “Iya, di Honda, Pak,” ucap Noval. Di tengah keterbatasan ekonomi, Noval mengaku siap berjuang. Ia bahkan pernah bekerja serabutan demi mendapatkan penghasilan tambahan. “Kadang dapat Rp 100 ribu,” ucap dia.
Kurinah hanya bisa berharap anaknya tetap bisa melanjutkan pendidikan meski kondisi ekonomi serba terbatas. “Harapan Ibu penginnya sekolah lanjut terus lah Pak… biar sampai tua,” kata Kurinah.
Sementara itu, Pemerintah Desa Setu Kulon turut bergerak cepat membantu penanganan awal hingga berupaya mencarikan solusi jangka panjang bagi keluarga yang ditinggalkan. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Desa Setu Kulon, Tanto mengatakan, dirinya langsung turun ke lokasi setelah mendapat laporan dari warga.
“Terkait kejadian di hari Jumat tanggal 24 kemarin itu, saya dihubungi oleh warga saya, termasuk lembaga RT/RW, bahwa ada warga kami yang telah meninggal dunia di SD Setu Kulon, Kecamatan Weru,” ujar Tanto. Ia memastikan identitas korban sebagai warga setempat sebelum mengambil langkah penanganan.
“Saya langsung datang ke sana. Saya klarifikasi, ternyata memang warga Setu Kulon,” katanya. Pihak desa pun langsung memberikan bantuan awal, termasuk pengurusan jenazah. “Saya langsung spontan membawa mobil siaga, menghubungi lebbe desa supaya mengurus pulasaran jenazah almarhum. Waktu itu kami juga membantu pengadaan kain kafan,” ujar Tanto.
Ke depan, pemerintah desa berkomitmen mengupayakan bantuan sosial bagi keluarga yang ditinggalkan, khususnya untuk keberlanjutan pendidikan Noval. “Insya Allah ke depannya, saya dari Pemdes Setu Kulon akan mengupayakan supaya anak ini bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah. Entah itu PKH atau BPNT untuk orang tuanya,” ujarnya.
Ia mengakui, saat ini keluarga tersebut belum masuk kategori penerima bantuan. Meski demikian, pihaknya berjanji akan mengupayakan agar Noval tetap bisa melanjutkan sekolah. “Tapi dengan ada kejadian seperti ini, saya akan upayakan supaya anak kami ini tidak putus sekolah,” tegasnya.
Seperti diketahui, Masadira ditemukan meninggal dunia dalam kondisi duduk di kursi penumpang becaknya di depan SDN 1 Blok Kapling, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, Jumat (24/4/2026). Awalnya, ia dikira hanya beristirahat. Namun setelah tak merespons, warga menyadari ia telah meninggal dunia.
Kini, di tengah kehilangan sosok ayah, Noval harus menatap masa depan dengan langkah sendiri. Duka belum sepenuhnya hilang, namun harapan tetap ia genggam, di mana untuk mengangkat derajat keluarga yang kini hanya bergantung padanya.






