Dua Wanita Adu Jotos, Polisi Melerai

Wakil Gubernur Kepri Marlin Agustina membuka Sosialisasi Pendidikan untuk Kaukus Perempuan Politik Indonesia dan Organisasi Perempuan. (Foto: Ist)

Duel Maut Perebutkan Pria: Dua Wanita Adu Jotos di Tengah Jalan, Berujung Polisi Turun Tangan

Sebuah insiden memilukan terjadi di jantung Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, pada Minggu pagi, 8 Maret 2026. Dua orang wanita terlibat dalam perkelahian sengit yang menarik perhatian publik di tempat umum. Pertarungan fisik yang berujung saling jambak ini dipicu oleh perselisihan panas yang diduga kuat berkaitan dengan isu perselingkuhan dan tudingan sebagai “perebut laki orang” atau yang lebih dikenal dengan istilah “pelakor”.

Peristiwa dramatis ini berlangsung di Jalan Bandang, Kelurahan Sodohoa, Kecamatan Kendari Barat. Keributan berawal dari adu mulut yang kemudian memanas menjadi aksi baku hantam. Salah satu wanita, yang mengenakan daster, dengan nada tinggi dan gestur menunjuk-nunjuk, melayangkan tuduhan bahwa wanita lainnya, yang berpakaian serba hitam, telah merebut suaminya.

Sementara wanita berbaju hitam tersebut tampak lebih tenang, bahkan terkesan cuek sambil memainkan ponselnya, provokasi tersebut justru membakar amarah wanita berdaster. Tanpa ragu, wanita berdaster melayangkan pukulan keras yang mendarat tepat di wajah lawannya.

Aksi balasan tak terhindarkan. Wanita berbaju hitam yang merasa diserang, tak tinggal diam. Ia membalas dengan menggunakan ponsel yang dipegangnya untuk menghantam kepala lawannya. Pertarungan pun berubah menjadi aksi saling jambak yang brutal, menarik perhatian warga sekitar yang menyaksikan kejadian tersebut dengan campuran rasa ngeri dan penasaran.

Keadaan semakin memanas, namun keberuntungan berpihak pada kedua belah pihak. Seorang wanita yang berada di lokasi kejadian segera bertindak cepat untuk melerai perkelahian tersebut. Tak lama berselang, personel dari Polsek Kemaraya tiba di lokasi untuk mengamankan situasi dan mencegah eskalasi lebih lanjut.

Kapolsek Kemaraya, Iptu Busran, mengonfirmasi bahwa pihak kepolisian telah turun tangan untuk meredakan ketegangan. Ia menjelaskan bahwa kedua belah pihak akhirnya sepakat untuk tidak melanjutkan permasalahan ini ke ranah hukum.

“Tidak ada laporan yang masuk ke Polsek. Dua personel kami segera melerai keributan yang terjadi di pagi hari itu. Hingga malam ini, kedua belah pihak tidak ada yang melayangkan laporan resmi,” ujar Iptu Busran pada Minggu (8/3/2026).

Lokasi kejadian di Jalan Bandang sendiri berjarak sangat dekat dengan Markas Polsek Kemaraya yang beralamat di Jalan Dr Moh Hatta, Kelurahan Sodohoa, Kecamatan Kendari Barat. Jaraknya yang hanya sekitar 300 meter membuat respons kepolisian menjadi sangat cepat, hanya memakan waktu sekitar satu menit jika ditempuh dengan kendaraan bermotor.

Meskipun insiden ini berakhir tanpa laporan resmi, kejadian ini menjadi pengingat akan dampak buruk dari perselisihan yang dipicu oleh isu-isu sensitif seperti perselingkuhan. Perkelahian di tempat umum tidak hanya merusak ketenangan warga, tetapi juga menunjukkan betapa emosi yang tak terkendali dapat berujung pada tindakan kekerasan.

Dampak Perselingkuhan dan Tudingan Pelakor

Isu perselingkuhan dan tudingan sebagai “pelakor” memang menjadi salah satu pemicu konflik rumah tangga dan sosial yang paling umum. Dalam kasus ini, amarah yang meluap dari wanita berdaster menunjukkan betapa dalamnya rasa sakit hati dan kepercayaan yang dikhianati.

  • Kerusakan Kepercayaan: Perselingkuhan merusak fondasi kepercayaan dalam sebuah hubungan, yang seringkali sulit untuk diperbaiki.
  • Stigma Sosial: Tudingan “pelakor” seringkali membawa stigma sosial yang berat bagi wanita yang dituduh, terlepas dari kebenaran tudingan tersebut.
  • Dampak Emosional: Pihak yang merasa dikhianati dapat mengalami berbagai emosi negatif seperti kemarahan, kesedihan, kecemburuan, dan rasa tidak berdaya.
  • Konflik Fisik: Dalam beberapa kasus, emosi yang memuncak dapat berujung pada konflik fisik, seperti yang terjadi di Kendari.

Pihak kepolisian berharap agar masyarakat dapat menyelesaikan setiap permasalahan dengan cara yang lebih damai dan dewasa, menghindari kekerasan fisik yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Mediasi dan komunikasi yang baik menjadi kunci utama dalam menyelesaikan setiap konflik, terutama yang berkaitan dengan masalah pribadi dan rumah tangga.

Pos terkait