Sektor Non-Tambang Menggerakkan Ekonomi NTB: UMKM dan Keuangan Syariah Jadi Kunci
Pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) saat ini menunjukkan geliat yang luar biasa, didominasi oleh lonjakan signifikan pada sektor non-tambang. Angka ini mengindikasikan pergeseran fundamental dalam struktur perekonomian daerah, dengan sektor-sektor yang lebih beragam dan berdaya tahan menjadi tulang punggung utama.
Kepala Bank Indonesia (BI) Nusa Tenggara Barat, Hario Kartiko Pamungkas, mengungkapkan bahwa pada tahun 2025, pertumbuhan ekonomi non-tambang di NTB tercatat mencapai angka impresif sebesar 8,54 persen. Angka ini jauh melampaui pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan yang berada di angka 3,22 persen. Fenomena ini menegaskan bahwa sektor-sektor di luar pertambangan, seperti pariwisata, industri kreatif, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), telah menjelma menjadi motor penggerak utama perekonomian NTB.
UMKM: Pilar Penting Sektor Non-Tambang
Untuk mempertahankan dan bahkan meningkatkan momentum pertumbuhan yang positif ini, Bank Indonesia memfokuskan dukungannya pada tiga kelompok komoditas UMKM yang strategis. Tiga fokus utama tersebut meliputi:
- Komoditas Penyumbang Inflasi: Kelompok ini mencakup berbagai produk pangan yang ketersediaan dan harganya sangat memengaruhi tingkat inflasi daerah. Dengan memastikan stabilitas pasokan dan harga komoditas pangan, BI turut berkontribusi dalam menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi secara makro.
- Komoditas Unggulan Daerah: Merujuk pada produk-produk khas NTB yang memiliki potensi pasar luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Pengembangan komoditas unggulan ini tidak hanya meningkatkan nilai tambah produk lokal, tetapi juga membuka peluang ekspor dan penguatan identitas daerah.
- Komoditas Ekspor Pendukung Pariwisata: Kelompok ini sangat krusial mengingat NTB memiliki potensi pariwisata yang besar. Dukungan difokuskan pada produk-produk yang dapat melengkapi pengalaman wisatawan, mulai dari kerajinan tangan, kuliner khas, hingga produk-produk yang mencerminkan budaya lokal.
Hario Kartiko Pamungkas menekankan bahwa pemberdayaan UMKM, khususnya yang mendukung sektor pariwisata, menjadi prioritas utama. Hal ini didasari oleh keyakinan bahwa UMKM memiliki peran vital dalam menciptakan lapangan kerja, mendistribusikan pendapatan, dan memperkuat rantai pasok industri pariwisata. Dengan semakin besarnya kontribusi UMKM, diharapkan roda perekonomian NTB akan berputar lebih kencang dan merata.
Keuangan Syariah: Akselerator Ekonomi Kreatif dan Desa Wisata
Selain berfokus pada komoditas UMKM, potensi besar juga terlihat pada sektor keuangan syariah dalam menunjang pengembangan ekonomi kreatif dan desa wisata di NTB. Mengingat julukan NTB sebagai “Daerah Seribu Masjid”, provinsi ini memiliki ekosistem syariah yang kuat, yang diperkuat dengan keberadaan institusi keuangan syariah seperti Bank NTB Syariah.
Bank Indonesia berperan strategis sebagai “mak comblang” atau penghubung. Peran ini sangat penting untuk menjembatani para pelaku UMKM, termasuk pengelola desa wisata, dengan lembaga-lembaga keuangan yang siap memberikan pembiayaan yang tepat sasaran dan sesuai dengan prinsip syariah. Melalui upaya temu bisnis dan fasilitasi ini, diharapkan para pelaku usaha dapat memperoleh akses modal yang dibutuhkan untuk mengembangkan usaha mereka, meningkatkan kualitas layanan, dan memperluas jangkauan pasar.
Keberadaan desa wisata yang terus berkembang juga menjadi perhatian khusus. Dengan dukungan pembiayaan yang memadai, keberlangsungan dan daya saing desa wisata di NTB dapat terus terjaga. Hal ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat lokal, tetapi juga turut melestarikan kekayaan budaya dan alam NTB.
Sinergi untuk Ketahanan Ekonomi
Sinergi antara pertumbuhan sektor non-tambang yang pesat dan penguatan ekonomi syariah menjadi pondasi optimisme terhadap peningkatan ketahanan ekonomi daerah NTB. Dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal secara maksimal, mendorong inovasi, dan memastikan akses terhadap pembiayaan yang berkelanjutan, NTB diproyeksikan akan terus tumbuh dan berkembang, menjadi salah satu provinsi terdepan dalam pembangunan ekonomi di Indonesia.
Dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat, akan menjadi kunci keberhasilan dalam mewujudkan visi NTB sebagai destinasi ekonomi yang kuat, inklusif, dan berdaya tahan. Fokus pada sektor-sektor yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi dan berkelanjutan, seperti yang ditunjukkan oleh sektor non-tambang, akan terus menjadi agenda utama dalam upaya memajukan perekonomian NTB di masa depan.






