ESDM Pertimbangkan Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi

Pemerintah Masih Membahas Perubahan Harga BBM Nonsubsidi

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa pemerintah masih dalam proses pembahasan terkait perubahan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Ia menjelaskan bahwa dalam pembahasan ini, pihak swasta yang mengelola Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) juga turut serta.

“Menyangkut dengan harga BBM nonsubsidi, kami sedang melakukan pembahasan. Pembahasan ini sudah barang tentu melibatkan badan usaha swasta lainnya,” ujar Bahlil saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Senin 6 April 2026.

Meskipun demikian, Bahlil tidak menyangkal adanya rencana untuk menaikkan harga BBM nonsubsidi tersebut. Hingga saat ini, ia menambahkan, pemerintah masih mencari skema penetapan harga yang sesuai dengan kondisi perekonomian.

“Sampai sekarang kita lagi mengatur dan mencari formulasi yang baik dan bijaksana. Yang jelas pemerintah sangat memahami kondisi masyarakat, baik itu yang untuk subsidi maupun non-subsidi,” katanya.

Rencana kenaikan harga BBM nonsubsidi muncul di tengah melambungnya harga minyak mentah dunia akibat konflik di Timur Tengah. Informasi tentang kenaikan harga BBM ini mulai beredar di media sosial dalam bentuk tangkapan layar yang menyebutkan dugaan kenaikan signifikan pada April 2026.

Dalam dokumen yang beredar, disebutkan bahwa harga indeks pasar (HIP) untuk bensin RON 92 naik sekitar 62,99 persen, sementara gasoil (solar) melonjak hingga 91,30 persen. Proyeksi harga BBM juga disebutkan, seperti Pertamax yang akan naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 17.850 per liter. Pertamax Green 95 diperkirakan naik menjadi Rp 19.150 per liter, dan Pertamax Turbo menjadi Rp 19.450 per liter.

Kenaikan paling besar terjadi pada BBM jenis solar nonsubsidi. Pertamina Dex diproyeksikan naik menjadi Rp 23.950 per liter dan Dexlite menjadi Rp 23.650 per liter.

“Informasi proyeksi kenaikan harga BBM yang beredar tidak dapat dipertanggungjawabkan,” kata Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron kepada Tempo melalui pesan tertulis, Senin, 30 Maret 2026.

Strategi Pemerintah dalam Menghadapi Kenaikan Harga BBM

Strategi pemerintah menjaga anggaran tanpa menaikkan harga BBM bersubsidi adalah dengan membebankan kenaikan biaya penyediaan BBM kepada PT Pertamina (Persero). Menteri Keuangan Purbaya mengatakan bahwa Pertamina mampu menanggung beban itu karena memiliki likuiditas yang cukup.

Terlebih pemerintah terus membayar 70 persen kewajiban kompensasi tiap bulan. “Ia mampu karena pembayaran dari pemerintah kan lancar, jadi keuangan Pertamina amat baik. Untuk jangka pendek enggak ada masalah,” tuturnya.

Dalam jangka panjang, Purbaya menjelaskan, Kementerian Keuangan telah menetapkan tambahan anggaran sebesar Rp 90-100 triliun untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan subsidi bahan bakar, terutama solar dan elpiji 3 kilogram.

Berdasarkan hitungan pemerintah, berbagai strategi penghematan yang akan dijalankan ditargetkan menghemat anggaran sebesar Rp 204,4 triliun. Jumlah itu antara lain dicapai melalui pengalihan anggaran belanja kementerian dan lembaga dari pos nonprioritas, seperti perjalanan dinas, rapat, kegiatan seremonial, dan belanja nonoperasional, ke belanja yang lebih produktif. Upaya ini ditargetkan menghasilkan penghematan Rp 121,2-130,2 triliun.

Praga Utama berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Pos terkait