Libur Lebaran 2026: Bioskop Sementara Jadi Daya Tarik di Hulu Sungai Tengah
Libur Lebaran Idulfitri 2026 membawa fenomena menarik di Hulu Sungai Tengah (HST). Selain aktivitas wisata yang ramai, terdapat sebuah bioskop sementara yang justru menjadi magnet bagi ribuan penonton. Fenomena ini menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap tontonan layar lebar sangat tinggi.
Dalam empat hari, dari tanggal 21 hingga 24 Maret, pemutaran film Kuyank di Balai Rakjat Barabai menjadi pusat perhatian. Sekitar 2.000 orang hadir secara bergantian, menunjukkan antusiasme yang luar biasa. Ketua Balai Rakjat Creative Hub, Ahmad Rizqan, menyebutkan bahwa fenomena ini bukan hanya tentang film, tetapi juga sebagai tanda kuat bahwa masyarakat HST siap menerima kehadiran industri kreatif yang lebih serius.
Menurutnya, eksperimen menghadirkan bioskop saat Lebaran memberikan peluang besar yang selama ini belum dimanfaatkan. “Antusiasme ini di luar dugaan. Ini bukan hanya soal hiburan, tapi juga gambaran bahwa pasar perfilman lokal itu nyata,” ujarnya.
Selain memancing perhatian penonton, kegiatan ini juga memiliki dampak ekonomi yang signifikan. Aktivitas jual beli di sekitar lokasi meningkat, sementara pemerintah daerah juga mendapatkan pemasukan dari sektor pajak hiburan dan penggunaan fasilitas publik.
Film Kuyank sendiri merupakan produksi Dari Hati Films yang mengangkat cerita rakyat khas Kalimantan Selatan tentang sosok kuyang. Disutradarai oleh Johansyah Jumberan, film ini masih berkaitan dengan semesta Saranjana: Kota Gaib, namun mengambil latar waktu sebelum kisah sebelumnya.
Cerita yang diangkat tidak hanya menonjolkan unsur horor, tetapi juga konflik sosial dan tekanan budaya dalam kehidupan rumah tangga, menjadikannya lebih dekat dengan realitas masyarakat lokal.
Keterlibatan Sekretaris Daerah HST, Muhammad Yani, sebagai salah satu pemeran turut memberi warna tersendiri. Hal ini memperlihatkan bahwa dukungan terhadap film lokal tidak hanya datang dari komunitas kreatif, tetapi juga dari unsur pemerintah.
Kesuksesan ini pun memunculkan wacana baru: kebutuhan akan bioskop permanen di HST. Selama ini, keterbatasan fasilitas menjadi salah satu hambatan berkembangnya industri film di daerah. Rizqan berharap momentum ini tidak berhenti sebagai euforia sesaat. Ia mendorong agar ruang-ruang pertunjukan terus dikembangkan, baik untuk film, seni, maupun musik, sehingga ekosistem kreatif bisa tumbuh berkelanjutan.
Di sisi lain, geliat sineas muda HST juga mulai terlihat. Sejumlah film pendek seperti “Radin Pangantin”, “Terlalu Berisik”, dan “Tiwikrama” menjadi bukti bahwa potensi lokal sebenarnya sudah ada dan hanya membutuhkan ruang untuk berkembang.
Pemutaran film ini menjadi contoh nyata bahwa kolaborasi antara komunitas, rumah produksi, dan pemerintah mampu menghadirkan dampak luas. Bukan sekadar tontonan, tetapi juga langkah awal membangun identitas budaya melalui medium film.
Jika tren ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin Barabai akan menjadi salah satu titik pertumbuhan industri kreatif di Kalimantan Selatan.






