Menggali Potensi Budaya Garut: Strategi Inovatif Dorong Ekonomi Lokal Melalui Pemberdayaan Generasi Muda
Pemerintah Indonesia, melalui Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) bersama Kementerian Kebudayaan, tengah merancang strategi inovatif untuk memaksimalkan potensi budaya Kabupaten Garut. Fokus utama dari upaya ini adalah mendorong Pemerintah Kabupaten Garut untuk mengemas kekayaan budaya lokal menjadi daya tarik wisata yang tidak hanya memukau, tetapi juga mampu memberikan dampak ekonomi signifikan bagi masyarakat. Kunci dari keberhasilan strategi ini terletak pada pemberdayaan generasi muda sebagai motor penggerak utama.
Anggota Komisi X DPR RI, Ferdiansyah, menekankan bahwa pengembangan wisata berbasis budaya bukan sekadar tren sesaat, melainkan sebuah strategi jangka panjang yang berpotensi meningkatkan lama tinggal wisatawan di Garut. Dengan demikian, peluang ekonomi baru akan terbuka lebar, terutama jika generasi muda dilibatkan secara aktif dalam setiap lini pengembangannya.
Pilot Project: Kolaborasi Antara Pemerintah dan Pelaku Industri
Salah satu gagasan konkret yang diusulkan adalah pembentukan agenda budaya yang akan dijadikan sebagai proyek percontohan atau pilot project. Ferdiansyah berharap agar pemerintah daerah dapat berkolaborasi erat dengan para pelaku industri pariwisata, termasuk Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI).
“Berharap pemerintah daerah bersama PHRI duduk bersama memberikan satu dua kegiatan kebudayaan saja untuk dijadikan pilot project nanti. Kalau ini jalan, bisa ditawarkan kepada pihak hotel atau restoran,” ujar Ferdiansyah saat Seminar Budaya Lokal sebagai Penguat Karakter Generasi Muda Menuju Indonesia 2045 di Sabda Alam Garut, Minggu, 8 Maret 2026.
Melalui seminar ini, Komisi X DPR RI bersama mitra kerjanya di Kementerian Kebudayaan, berupaya memperkuat karakter bangsa sekaligus melestarikan nilai-nilai budaya. Keterlibatan berbagai pihak, utamanya para pelaku seni dan budaya di daerah, menjadi elemen krusial dalam mewujudkan tujuan ini.
Seminar tersebut menjadi wadah penting untuk mengajak pemerintah daerah, kalangan muda, serta komunitas seni dan budaya di Garut agar kembali memfokuskan perhatian pada upaya pelestarian sekaligus pemanfaatan potensi budaya lokal yang melimpah.
Memperluas Definisi Budaya: Dari Kesenian Hingga Aset Pembangunan
Ferdiansyah menggarisbawahi pentingnya pandangan yang lebih luas terhadap konsep budaya. Pemahaman masyarakat tidak seharusnya dibatasi hanya pada kesenian tradisional semata, seperti tarian atau permainan alat musik angklung. Budaya harus dipandang sebagai aset yang memiliki potensi luas bagi pembangunan daerah.
“Tentang budaya itu jangan berpikir sempit, hanya sekadar tari-tarian atau angklung. Budaya itu memiliki arti luas yang ingin saya tanamkan bahwa suatu saat budaya bisa dimanfaatkan dan akhirnya menjadi kesejahteraan,” tegasnya.
Ia menambahkan, berbagai produk budaya unik yang dimiliki Garut perlu terus digali dan dimanfaatkan dalam beragam kegiatan. Hal ini diharapkan dapat menjadi daya tarik tambahan yang signifikan bagi para wisatawan yang berkunjung ke Garut.
Menciptakan Wisatawan Budaya: Meningkatkan Tingkat Kunjungan dan Pengeluaran
Apabila pertunjukan budaya dapat disajikan dengan format yang menarik dan diselenggarakan secara rutin, dampaknya akan sangat terasa. Wisatawan yang datang ke Garut tidak hanya akan menginap dalam waktu singkat, tetapi berpotensi untuk tinggal lebih lama demi menikmati berbagai atraksi budaya yang ditawarkan.
“Wisatawan tidak hanya menjadi wisatawan alam, tetapi juga wisatawan pertunjukan budaya, sehingga destinasinya semakin banyak berbasis budaya,” tutur politisi Partai Golkar ini.
Perubahan paradigma ini akan mengubah Garut menjadi destinasi wisata yang tidak hanya mengandalkan keindahan alamnya, tetapi juga kekayaan budayanya yang dinamis dan menarik.
Dukungan Pemerintah Daerah: Budaya Bambu sebagai Awal Perjalanan
Menanggapi inisiatif ini, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut, Beni Yoga Gunasantika, menyatakan kesiapan pemerintah daerah untuk mendorong generasi muda dalam menjaga karakter budaya. Upaya ini diyakini akan menjadi bagian integral dari pembangunan ekonomi daerah.
Sebagai langkah awal, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan tengah menyiapkan sebuah kegiatan budaya yang berfokus pada kerajinan bambu. Kegiatan ini rencananya akan diselenggarakan di Desa Mekarsari, Kecamatan Selaawi, dan akan melibatkan partisipasi aktif dari kalangan muda. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya Sunda kepada generasi penerus sekaligus memperkuat karakter mereka sebagai bagian dari masyarakat Garut. Inisiatif ini diharapkan menjadi pijakan awal yang kokoh untuk pengembangan pariwisata berbasis budaya di Garut di masa mendatang.






