Gejolak Iran: Minyak Meroket, Bitcoin Anjlok 7 Hari

Bitcoin Melemah di Tengah Eskalasi Konflik Timur Tengah dan Kekhawatiran Inflasi Global

Perdagangan awal pekan ini menyaksikan pergerakan harga Bitcoin yang cenderung melemah, bahkan menyentuh level terendah dalam sepekan. Penurunan ini terjadi bersamaan dengan lonjakan harga minyak mentah global, yang dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap eskalasi konflik yang melibatkan Iran di Timur Tengah.

Pada Senin (9/3), Bitcoin sempat mengalami koreksi hingga 2,36%, diperdagangkan pada angka US$65.633. Pergerakan harga ini sejalan dengan kenaikan harga minyak Brent yang melonjak signifikan, menyentuh US$118,73 per barel. Angka ini merupakan level tertinggi yang dicapai minyak Brent sejak Juni 2022. Meskipun mengalami pelemahan, pada pukul 10.30 waktu Singapura, Bitcoin masih berhasil bertahan di atas level US$66.000.

Sentimen Risk-Off Mendorong Tekanan pada Aset Kripto

Tekanan terhadap aset kripto secara umum disebabkan oleh meningkatnya sentimen risk-off atau penghindaran risiko di pasar keuangan global. Sentimen ini diperparah oleh kekhawatiran akan inflasi yang semakin meningkat, terutama akibat lonjakan harga energi.

Hayden Hughes, managing partner Tokenize Capital, menyoroti bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah kini telah bertransformasi dari sekadar peristiwa militer sporadis menjadi gangguan ekonomi yang lebih berkelanjutan. “Situasi geopolitik di Timur Tengah telah melampaui satu peristiwa militer dan berubah menjadi gangguan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Hughes.

Lebih lanjut, investor saat ini juga tengah bersiap menghadapi rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat yang dijadwalkan keluar pekan ini. Data inflasi yang diperkirakan akan tinggi, terutama dengan kenaikan biaya energi, membuat pasar mengambil posisi yang lebih defensif. “Pasar mulai mengambil posisi defensif menjelang data inflasi yang kemungkinan akan tinggi, mengingat biaya energi yang meningkat,” tambah Hughes.

Dampak Luas pada Pasar Keuangan Global

Fenomena tekanan terhadap aset berisiko tidak hanya terbatas pada pasar kripto. Pasar saham Asia juga menunjukkan pelemahan, dengan indeks Kospi Korea Selatan bahkan sempat merosot hingga 8,1%. Di sisi lain, dolar Amerika Serikat mengalami penguatan terhadap hampir seluruh mata uang utama. Dolar AS seringkali dianggap sebagai aset safe haven atau lindung nilai di tengah meningkatnya tekanan inflasi dan ketidakpastian ekonomi.

Obligasi pemerintah Amerika Serikat juga tidak luput dari aksi jual. Imbal hasil obligasi Treasury dengan tenor 10 tahun kembali mengalami kenaikan dan kini bergerak lebih tinggi dibandingkan dengan posisi di awal tahun. Hal ini menandakan investor lebih memilih aset yang memberikan imbal hasil lebih tinggi atau bergeser ke aset yang dianggap lebih aman.

Bitcoin Menunjukkan Ketahanan Relatif

Meskipun mengalami pelemahan, Damien Loh, chief investment officer Ericsenz Capital, mencatat bahwa penurunan Bitcoin relatif lebih terbatas jika dibandingkan dengan aset berisiko lainnya. “Penurunan Bitcoin sebenarnya cukup mengejutkan karena relatif kecil jika dibandingkan dengan kontrak berjangka Nasdaq atau indeks Kospi, yang menunjukkan bahwa saat ini hanya sedikit posisi long dengan leverage yang tersisa di pasar,” ujar Loh. Hal ini bisa diartikan bahwa pasar kripto mungkin telah mengalami pembersihan posisi spekulatif yang berlebihan, sehingga lebih tahan terhadap guncangan eksternal.

Arus Dana Keluar dari ETF Bitcoin Tetap Memberi Beban

Sentimen pasar kripto juga masih terbebani oleh arus dana keluar dari produk exchange-traded fund (ETF) Bitcoin. Data yang dihimpun menunjukkan bahwa ETF spot Bitcoin yang terdaftar di Amerika Serikat telah mencatat arus keluar bersih hampir US$6 miliar sejak November. Menurut Hughes, tren arus keluar ini mengindikasikan bahwa modal institusional masih cenderung meninggalkan pasar, alih-alih bersiap untuk masuk kembali.

Level Kunci yang Perlu Diperhatikan

Dari sisi teknikal, level US$64.000 menjadi batas penurunan terdekat yang perlu dicermati bagi Bitcoin. Jika level ini ditembus, maka level dukungan berikutnya yang menjadi perhatian adalah US$61.000.

Sementara itu, pada sisi kenaikan, level US$68.000 menjadi level resistensi berikutnya yang perlu ditembus oleh aset kripto terbesar di dunia ini untuk melanjutkan tren positifnya.


Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan untuk mengajak pembaca membeli atau menjual aset kripto. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Pihak kami tidak bertanggung jawab atas segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Pos terkait