Indonesia Dorong Perdamaian Iran-AS-Israel

Indonesia Aktif Mendorong Deeskalasi Konflik Global di Forum D-8

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus mendorong upaya deeskalasi guna mencegah meluasnya konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Sikap tegas ini disampaikan Indonesia dalam kapasitasnya sebagai pemegang keketuaan Developing Eight Organization for Economic Cooperation (D-8).

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Yvonne Mewengkang, menjelaskan bahwa Indonesia secara proaktif menjaga komunikasi intensif dengan seluruh negara anggota D-8. Tujuannya adalah untuk terus memantau dan merespons dinamika situasi global yang semakin kompleks.

“Sebagai Ketua D-8, Indonesia secara konsisten menekankan urgensi deeskalasi dan menyerukan kepada semua pihak yang terlibat untuk menahan diri dari tindakan provokatif yang dapat memperburuk situasi,” ujar Yvonne.

Lebih lanjut, Yvonne menambahkan bahwa persiapan menuju Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-12 D-8, yang dijadwalkan akan diselenggarakan di Jakarta pada bulan April 2026, berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Komunikasi yang konstruktif dengan seluruh negara anggota organisasi tersebut juga dilaporkan berjalan dengan baik, menunjukkan adanya kesamaan pandangan mengenai pentingnya stabilitas regional dan global.

Yvonne menegaskan kembali bahwa meningkatnya ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel tidak sedikit pun memengaruhi status keanggotaan Iran di dalam D-8. Indonesia tetap berkomitmen untuk menjaga integritas dan kohesi organisasi.

“Hingga saat ini, Indonesia terus melakukan berbagai persiapan yang diperlukan untuk KTT tersebut dan menjaga komunikasi yang terbuka dengan seluruh anggota D-8, termasuk Iran,” tegasnya.

Harapan Iran Terhadap Dukungan D-8

Di sisi lain, Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyampaikan harapan agar D-8 dapat memberikan dukungan konkret dan nyata bagi negaranya dalam menghadapi situasi yang pelik ini. Ia secara spesifik menginginkan agar organisasi ini secara tegas mengutuk serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

“Berkaitan dengan D-8, kami sangat berharap organisasi penting ini dapat memberikan kutukan yang kuat dan tegas terhadap serangan yang telah dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap negara kami. Dukungan ini akan sangat berarti bagi kami,” ujar Boroujerdi, menggarisbawahi pentingnya solidaritas antarnegara berkembang.

Seruan deeskalasi dari Indonesia dan harapan dari Iran ini muncul di tengah eskalasi ketegangan yang signifikan. Ketegangan tersebut meningkat tajam setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap sejumlah target di wilayah Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026.

Laporan awal dari kantor berita Tasnim, yang mengutip data dari Iranian Foundation of Martyrs and Veterans Affairs, menyebutkan bahwa jumlah korban tewas akibat serangan tersebut mencapai angka yang mengkhawatirkan, yaitu 1.045 orang. Angka ini kemudian diperbarui oleh Bulan Sabit Merah Iran pada Selasa, 3 Maret 2026, yang melaporkan korban jiwa sebanyak 787 orang. Angka ini mencakup baik warga sipil maupun personel militer yang menjadi korban.

Pemerintah Iran sendiri telah mengonfirmasi berita duka gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam rangkaian serangan tersebut. Kehilangan figur sentral ini tentu menambah dimensi baru pada kompleksitas konflik yang sedang terjadi.

Mengenal D-8: Organisasi Kerja Sama Ekonomi Negara Berkembang

D-8 merupakan sebuah organisasi kerja sama ekonomi yang beranggotakan negara-negara berkembang. Anggota pendirinya meliputi Indonesia, Bangladesh, Mesir, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan, dan Turki. Organisasi ini didirikan dengan tujuan untuk meningkatkan kerja sama di berbagai bidang ekonomi, seperti perdagangan, industri, pertanian, energi, dan pariwisata, serta untuk memperkuat posisi negara-negara berkembang di kancah ekonomi global.

Selain anggota pendiri, D-8 juga terus berkembang. Pada bulan Desember 2024, Azerbaijan secara resmi bergabung sebagai anggota terbaru, menambah kekuatan dan cakupan geografis organisasi ini.

Indonesia Siap Menjadi Tuan Rumah KTT D-8

Sebagai puncak dari rangkaian keketuaan D-8 untuk periode 2026–2027, Indonesia akan mendapatkan kehormatan untuk menjadi tuan rumah KTT ke-12 D-8. Acara akbar ini dijadwalkan akan diselenggarakan di ibu kota Indonesia, Jakarta, pada bulan April 2026. KTT ini diharapkan menjadi momentum penting untuk mengevaluasi kemajuan kerja sama D-8 dan merumuskan strategi baru untuk menghadapi tantangan global.

Rangkaian kegiatan menjelang KTT utama akan diawali dengan pertemuan tingkat pejabat tinggi yang akan membahas agenda-agenda teknis dan persiapan lebih lanjut. Setelah itu, akan dilanjutkan dengan pertemuan tingkat menteri luar negeri, yang akan menjadi forum strategis untuk menyelaraskan pandangan dan memfinalisasi keputusan sebelum diajukan ke KTT para kepala negara atau pemerintahan.

Melalui perannya sebagai Ketua D-8, Indonesia berupaya tidak hanya memajukan agenda ekonomi antaranggota, tetapi juga memainkan peran diplomatik yang signifikan dalam menjaga perdamaian dan stabilitas global, terutama dalam meredakan ketegangan di Timur Tengah.

Pos terkait