Kekalahan Inter Milan dari rival sekota, AC Milan, dalam lanjutan Serie A musim 2025-2026 semakin memperkuat dugaan bahwa performa tim asuhan Cristian Chivu ini cenderung inkonsisten, terutama saat menghadapi tim-tim besar. Pada pekan ke-28 liga, Inter Milan harus mengakhiri rentetan 15 pertandingan tanpa kekalahan mereka setelah takluk 0-1 dari AC Milan pada Senin dini hari WIB. Gol tunggal yang menentukan kemenangan Rossoneri dicetak oleh Pervis Estupinan pada menit ke-35.
Hasil ini membuat jarak poin antara Inter Milan dan AC Milan kini terpaut 7 poin. Dengan sisa 10 pertandingan lagi, keunggulan tersebut belum sepenuhnya aman bagi La Beneamata untuk mengamankan gelar Scudetto. Lebih jauh lagi, kekalahan ini menyoroti sebuah catatan yang kurang menguntungkan bagi skuad asuhan Chivu.
Dominasi Terhadap “Tim Kurcaci”
Kekalahan terbaru ini semakin menegaskan bahwa Inter Milan di bawah Cristian Chivu kerap menunjukkan performa gemilang hanya ketika berhadapan dengan tim-tim yang dianggap “kurcaci” atau tim-tim yang berada di papan bawah klasemen. Analisis terhadap 28 pertandingan yang telah dilakoni Inter di Serie A musim 2025-2026 menunjukkan pola yang jelas.
Dari 28 laga tersebut, Inter Milan telah sembilan kali bertanding melawan tim-tim yang menghuni posisi tujuh besar klasemen sementara. Dalam sembilan pertandingan krusial tersebut, Inter Milan hanya mampu meraih empat kemenangan, satu hasil imbang, dan empat kali menelan kekalahan. Dua dari empat kekalahan tersebut datang dari rival sekota, AC Milan, dengan skor identik 0-1 pada Oktober 2025 dan Maret 2026. Kekalahan lainnya diderita dari Juventus dengan skor dramatis 3-4 pada September 2025, serta dari Napoli dengan skor 1-3 pada Oktober 2025.
Analisis 15 Laga Terakhir Sebelum Derby
Untuk memperkuat temuan ini, mari kita lihat performa Inter Milan dalam 15 pertandingan terakhir di Serie A sebelum menghadapi AC Milan. Sebelum duel Derby della Madonnina kedua musim ini, La Beneamata mencatatkan rekor impresif dengan 14 kemenangan dan satu hasil imbang. Namun, jika ditelisik lebih dalam, hanya tiga dari 14 kemenangan tersebut yang diraih melawan tim-tim penghuni tujuh besar klasemen. Tiga kemenangan itu adalah melawan Como (4-0), Atalanta (1-0), dan Juventus (3-2). Sebelas kemenangan sisanya justru diraih melawan tim-tim yang berada di papan tengah dan bawah klasemen Serie A 2025-2026.
Catatan ini seharusnya menjadi alarm serius bagi Cristian Chivu. Sejak ditunjuk sebagai pelatih, Chivu memang kerap mendapat sorotan tajam akibat hasil minor saat timnya berhadapan dengan klub-klub besar.
Performa Buruk di Kompetisi Eropa
Fenomena buruknya catatan Inter Milan arahan Cristian Chivu melawan klub-klub papan atas tidak hanya terlihat di kancah domestik, tetapi juga merambah ke kompetisi antarklub paling bergengsi di Eropa, Liga Champions. Di fase grup, I Nerazzurri menelan tiga kekalahan dari delapan pertandingan. Ketiga kekalahan tersebut diderita secara beruntun saat menghadapi tim-tim kuat seperti Atletico Madrid (1-2), Liverpool (0-1), dan Arsenal (1-3).
Lebih memprihatinkan lagi, mental juara Inter Milan sebagai salah satu klub top Eropa di momen-momen krusial juga dipertanyakan. Hal ini terlihat jelas saat mereka harus bertanding di babak play-off 16 besar melawan Bodo/Glimt. Dalam dua leg pertandingan melawan klub asal Norwegia tersebut, La Beneamata harus menyerah dengan agregat telak 2-5, sebuah hasil yang jauh dari ekspektasi klub sebesar Inter Milan.






