Kadin: Perang Iran-AS Ancam Ekonomi Timur Tengah

Kondisi Ekonomi di Timur Tengah yang Terancam oleh Perang Iran dan AS

Ketua Komite Bilateral Saudi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Mohamad Bawazeer, menyampaikan bahwa perang antara Iran dan Amerika Serikat yang didukung oleh Israel sangat memengaruhi aktivitas ekonomi di kawasan Timur Tengah, terutama di wilayah Teluk. Menurutnya, jika kawasan Teluk dapat terhindar dari ancaman serangan, maka perdagangan akan berjalan lebih lancar.

“Saya menyarankan agar daerah Teluk ini aman dari ancaman serangan, maka otomatis perdagangan akan lebih mudah,” ujar Bawazeer dalam pernyataannya di Jakarta, Sabtu, 4 April 2026.

Bawazeer menjelaskan bahwa dampak perang Iran-AS telah merusak perekonomian di kawasan tersebut. Salah satu efeknya adalah peningkatan tarif dasar biaya pengiriman barang internasional melalui laut, yang naik sekitar tiga kali lipat. Selain itu, beberapa perusahaan pelayaran tidak berani mengeluarkan nomor booking karena takut risiko perang. Mereka memilih untuk “wait and see” atau menunggu situasi membaik sebelum melakukan aktivitas.

Beberapa perusahaan pelayaran memilih untuk menghindari Bab-el-Mandeb (Laut Merah) dan berputar melalui benua Afrika sebelum masuk ke Terusan Suez (Mesir). Hal ini menyebabkan waktu pengiriman bisa mencapai dua bulan, padahal dalam kondisi normal hanya butuh 15-20 hari untuk sampai di Pelabuhan Dammam dan Jeddah.

Selain itu, ribuan kontainer terjebak di Pelabuhan Jabal Ali karena tidak bisa keluar melalui Selat Hormuz. Hanya beberapa perusahaan pelayaran yang diperbolehkan keluar atau masuk Selat Hormuz setelah mendapatkan persetujuan dari otoritas setempat.

Kondisi ini sangat mengganggu bisnis di Arab Saudi, baik untuk produk jadi maupun bahan baku yang digunakan dalam perdagangan atau industri. Akibatnya, harga barang diprediksi akan meningkat.

“Jadi sebenarnya kondisi ini disebabkan oleh peperangan yang tidak jelas,” kata Bawazeer.

Dampak pada Sektor Perdagangan Indonesia

Sementara itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan bahwa eskalasi antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi memengaruhi sejumlah sektor perdagangan Indonesia, terutama yang berkaitan langsung dengan energi dan biaya logistik.

Budi Santoso menilai dampak terbesar akan terasa jika distribusi minyak global terganggu, termasuk kemungkinan penutupan Selat Hormuz. Menurutnya, sektor energi akan menjadi yang paling awal terdampak.

Ia juga menyebutkan bahwa sektor manufaktur menjadi salah satu yang paling rentan. Industri Indonesia yang bergantung pada energi untuk proses produksi akan menghadapi kenaikan biaya operasional.

Selain itu, kenaikan ongkos produksi berisiko menekan margin usaha atau mendorong kenaikan harga barang. Kondisi ini berpotensi menurunkan daya saing produk Indonesia di pasar global.

Lebih lanjut, sektor ekspor akan menghadapi tekanan ganda, yakni kenaikan biaya produksi dan pelemahan permintaan global akibat ketidakpastian ekonomi. Hal ini memperkuat kekhawatiran tentang stabilitas ekonomi Indonesia dalam menghadapi situasi geopolitik yang tidak menentu.

Pos terkait