Sunyi, Suara yang Tidak Terdengar
Rocky Gerung pernah mengatakan, “Sunyi adalah suara yang sembunyi.” Kalimat ini pendek, tetapi penuh makna. Ia tidak menjelaskan secara langsung, hanya menunjuk. Dengan demikian, pembaca dibiarkan berjalan sendiri untuk memahami maksudnya.
Pada suatu malam yang tenang, ketika waktu seperti lupa menghitung detiknya sendiri, saya mencoba menguji keberadaan sunyi. Malam itu bukan malam yang ramai oleh deru mesin atau suara notifikasi pesan singkat. Bukan juga malam yang masih menyisakan dengus percakapan. Malam itu datang perlahan, menanggalkan suara satu per satu, seperti pohon meranggas di musim kemarau.
Aneh memang, sunyi bisa didengar. Ini terasa paradoks bagi akal. Namun barangkali justru di situlah daya tariknya. Sesuatu yang tak bisa dipastikan, tapi terus mengganggu. Sunyi menggoda pikiran, menyentuh rasa, memancing tanya, dan kadang, senyum kecil yang tak tahu sebabnya.
Sejak saat itu, pertanyaan-pertanyaan muncul. Tidak serentak, tidak gaduh. Mereka hadir satu-satu, diam-diam, seperti tamu yang tahu kapan harus mengetuk. Dua tanya mengemuka dalam hening malam:
- Mengapa sunyi bisa berbunyi?
- Mengapa ia justru membutuhkan latar yang tak bersuara?
Dalam filsafat, hal-hal semacam ini sudah dikenal sejak lama. Martin Heidegger pernah berkata bahwa keheningan bukanlah ketiadaan, melainkan cara lain dari kehadiran. Sunyi bukan nol, melainkan jarak. Ia memberi ruang agar sesuatu bisa tampak. Dalam diam, yang biasanya tertutup oleh hiruk-pikuk, justru muncul ke permukaan, yakni diri kita sendiri.
Martin Heidegger adalah seorang filsuf Jerman abad ke-20, lahir pada 1889 di Messkirch dan wafat pada 1976. Ia dikenal sebagai salah satu pemikir paling berpengaruh, sekaligus paling kontroversial dalam filsafat modern, terutama dalam tradisi fenomenologi dan eksistensialisme.
Lanjut ke sunyi. Saat itu dan hingga kini, sunyi tidak sibuk menjelaskan. Ia tidak menawarkan definisi. Ia hanya menyediakan sela. Dalam sela itulah makna beringsut masuk, tanpa diminta, dan tanpa dipaksa. Maka, sunyi barangkali, hanya ingin berteriak sekadar ada. Tidak lebih. Ia menolak diurai lewat sederet kata, sebab kata-kata sering kali justru menjadi kebisingan lain. Ia pun tak menuntut dipahami. Kehadirannya serasa cukup.
Namun zaman kita bukan zaman yang ramah pada jarak. Ini zaman yang gemar bersuara, memproduksi opini, mengumumkan sikap, mempromosikan diri. Media sosial menjelma tembok tempat semua orang ingin meninggalkan jejak. Di situ, bunyi sunyi terasa ganjil. Bahkan subversif.
Subversif karena ia seperti sikap menolak. Menolak menjual diri, menolak menukar diam dengan tepuk tangan, menolak larut dalam pengakuan yang disediakan kekuasaan. Sunyi lalu menjadi semacam kecanggungan moral. Sesuatu yang membuat sebagian intelektual merasa terancam, sebab tak semua hal bisa dibela dengan pernyataan.
Ludwig Wittgenstein pernah mengingatkan, “Tentang apa yang tak dapat kita bicarakan, kita harus diam.” Tetapi diam di sini bukan menyerah. Ia justru bentuk tanggung jawab. Sebab tidak semua yang penting bisa diumumkan.
Jadi, mungkin memang tak perlu bertanya terlalu jauh. Sejak dulu hingga kini, sunyi tetap seperti itu, yakni tak selesai ditafsirkan. Namun, dalam kelangkaan renungan dan kealpaan perhitungan, ia hadir sebagai jeda yang mengingatkan.
Sunyi adalah suara yang sembunyi. Tapi benarkah? Atau justru kitalah yang terlalu bising untuk mendengarnya.





