Khamenei Naik, Garda Revolusi Siap, Trump Sesumbar

Mojtaba Khamenei Terpilih Sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, Amerika Serikat Merespons dengan Ancaman

Iran kini memiliki pemimpin tertinggi yang baru, yaitu Mojtaba Hosseini Khamenei, putra kedua dari Ayatollah Ali Khamenei. Keputusan bersejarah ini diambil oleh Majelis Pakar Iran setelah musyawarah yang mendalam, menunjuk Mojtaba untuk menggantikan ayahnya yang gugur dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Peristiwa ini menandai babak baru dalam lanskap politik Iran, yang segera memicu reaksi keras dari Amerika Serikat.

Proses Pemilihan yang Lintas Ancaman

Majelis Ahli Kepemimpinan Iran mengeluarkan pernyataan resmi yang mengumumkan penunjukan Ayatollah Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin ketiga Republik Islam Iran. Pernyataan tersebut, yang diawali dengan Bismillah, menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas syahidnya Ayatollah Imam Khamenei dan para korban lainnya, termasuk para komandan kehormatan, angkatan bersenjata yang setia, serta para siswa di Kabupaten Minab.

Meskipun negara sedang menghadapi situasi perang yang genting dan ancaman langsung terhadap institusi negara, termasuk pengeboman terhadap kantor Sekretariat Majelis Ahli Kepemimpinan yang merenggut nyawa staf dan tim keamanan, Majelis Ahli menegaskan komitmennya untuk menjalankan tugas konstitusionalnya. Sidang luar biasa segera digelar untuk memperkenalkan pemimpin baru, dengan perencanaan dan koordinasi yang cermat untuk mengumpulkan para perwakilan Majelis dari seluruh penjuru negeri. Langkah ini memastikan bahwa negara tidak akan mengalami kekosongan kepemimpinan, meskipun Pasal 111 Konstitusi Iran mengatur pembentukan dewan sementara.

Majelis Ahli Kepemimpinan juga menegaskan kembali penghormatan terhadap posisi tinggi Kepemimpinan Ulama (Wilayat al-Faqih) di era kegaiban Imam Mahdi, serta menekankan pentingnya kepemimpinan dalam sistem Republik Islam. Mereka juga mengenang 47 tahun pemerintahan bijaksana yang telah dijalankan berdasarkan martabat, kemerdekaan, dan otoritas para Imam Revolusi.

Melalui tinjauan mendalam dan memanfaatkan kapasitas Pasal 108 Konstitusi, Majelis Ahli secara bulat mengangkat Ayatullah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai pemimpin tertinggi ketiga Republik Islam Iran. Sebagai penutup, Majelis menyampaikan apresiasi kepada dewan sementara dan mengundang seluruh rakyat Iran, terutama para elit dan intelektual dari kalangan seminari maupun universitas, untuk menyatakan kesetiaan (ba’at) kepada kepemimpinan baru. Seruan untuk persatuan di sekitar poros Kepemimpinan bergema, disertai permohonan rahmat dan karunia Allah Yang Maha Kuasa bagi bangsa dan rakyat Iran.

Garda Revolusi Siap Jalankan Perintah

Menyusul penunjukan Mojtaba Khamenei, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan dukungan penuh mereka. IRGC menegaskan kesiapan mereka untuk mematuhi perintah pemimpin baru dan melindungi nilai-nilai Revolusi Islam. Menurut laporan Kantor Berita Tasnim, pemilihan pemimpin baru ini diharapkan dapat diterima oleh bangsa Iran sebagai kelanjutan dari kepemimpinan mendiang Ayatollah Seyed Ali Khamenei.

IRGC, atau Sepah-e Pasdaran, merupakan kekuatan militer dan politik yang sangat dominan di Iran, didirikan pasca-Revolusi 1979. Berbeda dengan militer reguler yang fokus pada pertahanan perbatasan, IRGC dibentuk secara khusus untuk menjaga stabilitas sistem teokrasi dan ideologi revolusi, di bawah komando langsung Pemimpin Agung. Keberadaan IRGC menciptakan struktur kekuasaan ganda di Iran, di mana pengaruhnya seringkali melampaui pemerintah pusat dalam menentukan kebijakan strategis negara. Selain kekuatan militernya, IRGC telah berkembang menjadi konglomerat ekonomi raksasa yang menguasai sektor-sektor vital seperti konstruksi, perminyakan, dan perbankan. Melalui unit elitnya, Pasukan Quds, IRGC juga memainkan peran kunci dalam geopolitik Timur Tengah, membangun jaringan aliansi bersenjata di berbagai negara.

Respons Keras dari Donald Trump

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan respons yang tajam terhadap penunjukan pemimpin tertinggi Iran yang baru. Trump menyatakan bahwa pemimpin Iran berikutnya tidak akan dapat bertahan lama tanpa persetujuan dari Washington. Ia menekankan, “Dia harus mendapatkan persetujuan dari kami. Jika dia tidak mendapatkan persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama.”

Pernyataan Trump ini disampaikan dalam konteks strategis, dengan tujuan untuk menghindari keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik lain dengan Iran di masa depan. “Saya tidak ingin orang-orang harus kembali dalam lima tahun dan melakukan hal yang sama lagi, atau lebih buruk lagi, membiarkan mereka memiliki senjata nuklir,” ujar Trump.

Para pejabat Iran dengan tegas menolak komentar tersebut. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelumnya menyatakan bahwa pemilihan pemimpin negara berikutnya adalah “urusan rakyat Iran semata” dan menolak segala bentuk campur tangan asing. Trump sebelumnya juga menyatakan harapannya untuk terlibat secara pribadi dalam proses seleksi tersebut dan bahkan meremehkan Mojtaba Khamenei sebagai “orang yang tidak berpengaruh”.

Ketegangan regional meningkat tajam pekan lalu, menyusul serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.200 orang.

Profil Singkat Mojtaba Khamenei

Mojtaba Khamenei, yang berusia 56 tahun, adalah putra kedua dari Ali Khamenei. Ia menikah dengan Zahra Haddad-Adel, putri dari Gholam-Ali Haddad-Adel, seorang politikus konservatif Iran dan mantan Ketua Parlemen. Pernikahan mereka dilaporkan terjadi pada tahun 2004. Sayangnya, Zahra dilaporkan tewas pada tahun 2026 akibat serangan AS dan Israel ke Iran. Pasangan ini dikaruniai tiga orang anak, meskipun detail mengenai mereka sangat terbatas.

Mojtaba Khamenei dikenal memiliki hubungan yang kuat dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Meskipun ia bukan seorang ulama berpangkat tinggi dan tidak pernah memegang jabatan resmi, ia diyakini memiliki pengaruh yang signifikan di balik layar. Ia pernah bertugas di angkatan bersenjata Iran selama perang Iran-Irak.

Meskipun banyak pihak telah lama memprediksi Mojtaba sebagai kandidat terdepan untuk menggantikan ayahnya, para ahli memiliki pandangan yang beragam. Bahkan, dilaporkan bahwa Ali Khamenei sendiri tidak memasukkan nama Mojtaba dalam daftar calon pengganti yang dibuatnya tahun lalu. Dalam tradisi ulama Muslim Syiah di Iran, suksesi dari ayah ke anak tidak selalu dipandang secara positif.

Mojtaba Khamenei dikenai sanksi oleh Amerika Serikat pada tahun 2019. Namun, sebuah laporan Bloomberg mengungkap bahwa ia berhasil membangun kerajaan properti global dan menyalurkan dana miliaran dolar ke pasar Barat. Kekayaan bersihnya yang sebenarnya tidak diketahui, namun beberapa sumber memperkirakan ia adalah seorang miliarder yang mengelola kerajaan investasi besar. Kekuatan finansialnya dilaporkan mencakup rekening bank di Swiss dan properti mewah di Inggris senilai lebih dari $138 juta. Ben Cowdock dari Transparency International UK mengkritik investasi Mojtaba di Inggris, menyatakan bahwa pasar properti Inggris seharusnya tidak menjadi tempat penyimpanan aset bagi kroni-kroni rezim represif.

Pos terkait