Pengungkapan Fakta Baru: Penyerangan Maut di Area Tambang Freeport oleh Kelompok Bersenjata
Aparat keamanan berhasil mengungkap fakta baru yang mengejutkan terkait insiden penyerangan di area tambang PT Freeport Indonesia yang berlokasi di Mile 50, Tembagapura, Mimika, Papua Tengah. Pengungkapan ini datang dari Satgas Operasi Damai Cartenz, yang telah bekerja keras untuk mengurai kronologi dan motif di balik serangan brutal tersebut. Peristiwa yang terjadi pada 11 Februari 2026 ini tidak hanya merenggut nyawa dua orang, tetapi juga mengakibatkan perampasan senjata api.
Menurut informasi yang berhasil dihimpun, kelompok bersenjata yang diduga kuat berada di balik serangan ini dipimpin oleh Jeki Murib, seorang tokoh yang kini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Aksi keji ini dilakukan dengan modus penyamaran yang licik, di mana para pelaku menyusup sebagai penumpang biasa di dalam kendaraan yang melintas.
Kronologi Kejadian yang Mengerikan
Insiden ini bermula sekitar pukul 15.10 Waktu Indonesia Timur (WIT) di area Rest Area Mile 50, Distrik Tembagapura. Sebuah mobil jenis LWB dengan nomor lambung 01-5087 yang dikemudikan oleh Serka Hendrikus sedang dalam perjalanan dari Timika menuju Tembagapura. Di dalam kendaraan tersebut, selain Serka Hendrikus, terdapat beberapa penumpang.
Penyelidikan lebih lanjut mengungkap bahwa di antara penumpang tersebut terdapat Jeki Murib (DPO) beserta beberapa rekan lainnya. Diduga kuat, mereka telah merencanakan aksi perampasan senjata sejak awal. Untuk melancarkan aksinya, mereka diduga telah menyembunyikan senjata tajam berupa sangkur di dalam sepatu mereka, sebuah taktik yang sangat tersembunyi dan berbahaya.
Setibanya di Rest Area Mile 50, Jeki Murib, yang berpura-pura hendak pergi ke toilet untuk buang air, sempat menerima helm dari Serka Hendrikus. Momen inilah yang dimanfaatkan oleh para pelaku. Tidak lama setelah itu, Jeki Murib secara tiba-tiba melakukan serangan membabi buta terhadap Serka Hendrikus menggunakan sangkur yang telah disiapkannya. Secara bersamaan, pelaku lain yang berada di dalam kendaraan yang sama turut menyerang Sertu Arifin Cepa, yang duduk di bagian belakang mobil.
Akibat serangan mendadak dan brutal tersebut, Sertu Arifin Cepa dinyatakan meninggal dunia di dalam kendaraan. Sementara itu, Serka Hendrikus mengalami luka tikam yang serius, namun ia berhasil keluar dari mobil dan berupaya mencari pertolongan.
Dampak yang Meluas dan Kerugian Nyawa Tambahan
Tragisnya, insiden penyerangan ini tidak berhenti sampai di situ. Dalam waktu yang hampir bersamaan, terdengar suara tembakan di sekitar lokasi kejadian. Tembakan tersebut mengenai kendaraan lain yang kebetulan melintas di area tersebut. Pengemudi mobil yang tertembak, bernama Erman Rustaman, mengalami luka tembak di bagian kepala. Sayangnya, meskipun telah mendapatkan perawatan medis, Erman Rustaman dinyatakan meninggal dunia pada 16 Februari 2026 akibat luka yang dideritanya.
Setelah berhasil melancarkan aksinya yang sadis, para pelaku tidak berhenti sampai di situ. Mereka berhasil merampas dua pucuk senjata api laras panjang jenis SS2 V2 dari lokasi kejadian. Dengan hasil rampasan tersebut, para pelaku kemudian melarikan diri menuju arah kali, memanfaatkan medan yang ada untuk menghindari kejaran aparat.
Komitmen Penegakan Hukum dan Pengejaran Pelaku
Saat ini, Satgas Operasi Damai Cartenz masih terus melakukan proses penyidikan secara intensif terhadap kasus ini. Tujuannya adalah untuk mengungkap secara tuntas seluruh pihak yang terlibat dalam jaringan kelompok Jeki Murib dan memastikan tidak ada celah bagi para pelaku untuk lolos dari jeratan hukum.
Kepala Operasi Damai Cartenz, Brigjen Pol Faizal Ramadhani, menegaskan kembali komitmen kuat pihaknya dalam menegakkan hukum terhadap setiap bentuk aksi kekerasan yang dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di wilayah Papua. Faizal menyatakan bahwa pengejaran terhadap pelaku-pelaku lain yang terlibat dalam jaringan Jeki Murib akan terus dilakukan tanpa henti.
“Kami akan terus melakukan pengejaran terhadap pelaku lainnya yang terlibat dalam jaringan kelompok Jeki Murib,” tegas Brigjen Pol Faizal Ramadhani.
Beliau menambahkan bahwa Satgas Operasi Damai Cartenz berpegang teguh pada prinsip penegakan hukum yang tegas, namun tetap mengedepankan pendekatan yang profesional dan terukur. Hal ini penting demi menjaga stabilitas keamanan di Papua agar masyarakat dapat beraktivitas dengan aman dan tenteram. Upaya ini merupakan bagian integral dari komitmen pemerintah dalam menciptakan kedamaian di tanah Papua.






