Masjid Kayu Beltim 70 Tahun Terancam Runtuh

Masjid Nurul Hidayah: Saksi Bisu Arsitektur Unik dan Sejarah yang Terlupakan di Belitung Timur

Di tengah hamparan ilalang yang merayap dan sunyi, sebuah bangunan kayu tua di Desa Tanjung Batu Itam, Kecamatan Simpang Pesak, Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, berdiri sebagai saksi bisu perjalanan waktu. Bangunan yang kini tampak rapuh ini adalah Masjid Nurul Hidayah, sebuah rumah ibadah yang dulunya merupakan denyut nadi kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat setempat.

Kondisi masjid ini kini sungguh memprihatinkan. Dinding luarnya yang pernah dicat kuning cerah kini telah mengelupas, menyisakan warna kusam yang memudar. Atap sengnya yang berlubang tak mampu lagi menahan gempuran hujan, membiarkan air masuk dan membasahi lantai yang kini tertutup pasir dan kotoran. Jendela-jendela yang dulunya bening kini banyak yang pecah, sementara kusen kayunya telah keropos dimakan rayap dan usia.

Bahkan, identitas fisik masjid ini pun mulai tergerus. Batu plakat nama masjid yang terpasang kokoh di masa lalu kini tak lagi menyisakan satu huruf pun yang dapat dibaca, seolah sejarahnya pun ikut terkubur.

Jejak Sang Marbot: Mengenang Kejayaan Masjid Nurul Hidayah

Di antara reruntuhan yang tersisa, duduk Azharudin, 66 tahun, akrab disapa Udin. Ia adalah seorang marbot masjid yang telah menyaksikan langsung kejayaan Masjid Nurul Hidayah. Di rumahnya yang tenang, Udin membuka lembaran memori, mengenang bagaimana masjid ini pernah menjadi pusat kehidupan spiritual warga.

Udin mengungkapkan bahwa Masjid Nurul Hidayah dibangun sekitar 70 tahun yang lalu. Usia yang cukup panjang untuk sebuah bangunan yang seluruhnya terbuat dari kayu, apalagi berlokasi di daerah pesisir yang rentan terhadap cuaca. Bahkan, saat Udin lahir, bangunan masjid ini sudah berdiri megah tanpa satu pun tiang penyangga di bagian tengahnya, menandakan betapa tua dan kuatnya kayu yang menopang struktur bangunan tersebut.

Keajaiban Arsitektur Tanpa Tiang Tengah

Keunikan utama Masjid Nurul Hidayah terletak pada strukturnya yang berlawanan dengan logika bangunan pada umumnya. Dengan ukuran sekitar 20×30 meter, masjid ini berdiri tegak tanpa satu pun tiang penyangga di tengah ruangan. Keajaiban arsitektur ini diciptakan oleh seorang tukang bernama Marjuhan.

Udin menjelaskan bahwa Marjuhan sengaja merancang masjid tanpa tiang tengah untuk menguji kekuatan kayu yang digunakan. “Arsiteknya memang ingin menguji kekuatan kayu itu,” ujar Udin. Jika kayu yang digunakan tidak berkualitas prima, mustahil bangunan sebesar itu dapat bertahan selama puluhan tahun.

Meluruskan Kesalahpahaman Nama: Masjid Nurul Hidayah, Bukan Masjid Aidit

Sayangnya, keunikan arsitektur ini seringkali tertutup oleh kesalahpahaman sejarah. Banyak orang luar yang lebih mengenal bangunan ini dengan sebutan Masjid Aidit, sebuah label yang ditampik keras oleh Udin.

Menurut Udin, masjid ini sebenarnya didirikan oleh seorang tokoh bernama Haji Muhammad Nur melalui wakaf. Nama Aidit muncul karena adanya kaitan keluarga dengan Ahmad Aidit, yang merupakan nama asli dari tokoh yang kemudian dikenal sebagai D.N. Aidit. D.N. Aidit sendiri memiliki garis keturunan dari daerah ini melalui ibundanya yang bernama Silan.

Udin dengan tegas meluruskan silsilah yang seringkali simpang siur. Ia menjelaskan bahwa nama D.N. Aidit sebenarnya diambil dari nama sang ayah, Ahmad Aidit. Tokoh asli yang memiliki kaitan dengan masjid ini adalah Ahmad Aidit yang ibundanya, Silan, adalah penduduk asli setempat yang sangat dihormati.

“Bukan tokoh Aidit yang punya, tapi memang Umak (Ibu) dari Ahmad Aidit itu tinggal di sini,” ucapnya.

Udin juga menceritakan bahwa saat pergolakan politik di masa lalu, keluarga Ahmad Aidit sempat menumpang tinggal di rumah nenek Udin. Keluarganya bahkan memberikan perlindungan bagi keluarga Aidit hingga nenek dari tokoh tersebut wafat di Tanjung Batu Itam. Makam Silan pun masih berada di area sekitar sebagai bukti sejarah yang tak terpisahkan.

Ahmad Aidit (D.N. Aidit) sendiri, menurut Udin, tercatat hanya pernah mengunjungi lokasi tersebut satu kali seumur hidupnya, yaitu saat Udin masih duduk di bangku kelas 3 SD. Kunjungan tersebut dilakukan untuk bersedekah dan membaca Yasinan. Setelah itu, ia tidak pernah kembali lagi.

Di Ambang Kehancuran Total

Kini, Masjid Nurul Hidayah berada di ambang kehancuran total. Bagian dalam masjid tampak sangat memprihatinkan. Dek atau lantai masjid sudah ada yang hampir roboh. Udin menjelaskan alasan mengapa masjid ini akhirnya tidak lagi digunakan oleh masyarakat.

  • Kondisi Alang Tengah yang Rapuh: Alang tengah atau balok penyangga atap dilaporkan sudah mulai keropos dan sangat rapuh. Hal ini menjadi alasan utama mengapa masjid ini tidak lagi aman untuk digunakan.
  • Ketidakmampuan Struktur: Ketidakmampuan struktur bangunan yang tanpa tiang tengah menjadi kerentanan tersendiri ketika material kayu mulai lapuk.
  • Keinginan Beribadah di Tempat yang Aman: Masyarakat desa akhirnya memilih untuk beribadah di masjid baru yang lokasinya lebih aman dan terawat.

“Alasannya karena tidak bertiang tadi, alangnya sudah mulai rapuh. Sayang sekali, sebenarnya ini sangat bersejarah,” ujarnya dengan nada prihatin.

Masjid lama pun perlahan ditinggalkan dari aktivitas ibadah. Kini, Masjid Nurul Hidayah di Tanjung Batu Itam berdiri dalam kesunyian, hanya menjadi monumen peringatan akan kehebatan arsitektur kayu masa lalu yang kini terlupakan dan terabaikan.

Pos terkait