Mitos dan Fakta: Bahaya Minum Sambil Berdiri Terhadap Ginjal
Sebuah klaim yang beredar luas di berbagai platform media sosial belakangan ini menyatakan bahwa kebiasaan minum air sambil berdiri dapat membebani ginjal secara berlebihan dan berpotensi merusaknya. Narasi ini sering kali disertai dengan penjelasan bahwa air yang dikonsumsi dalam posisi berdiri tidak tersaring secara sempurna oleh lambung, sehingga memberikan beban ekstra pada organ ginjal.
Namun, klaim ini telah dibantah oleh para ahli medis. Dokter spesialis penyakit dalam, Tunggul Situmorang, dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada hubungan ilmiah yang dapat dibuktikan antara posisi tubuh saat minum dengan peningkatan beban kerja ginjal. Menurutnya, anggapan tersebut tidak lebih dari sekadar hoaks yang tidak memiliki dasar medis yang kuat.
“Saya kira itu tidak benar, itu hoaks. Apa hubungannya? Minum sambil berdiri dan duduk sama saja,” tegas dr. Tunggul.
Meskipun demikian, dr. Tunggul tetap menyarankan bahwa praktik terbaik adalah mengonsumsi air dalam posisi duduk. Alasan utamanya bukan karena potensi kerusakan ginjal, melainkan karena adanya risiko lain yang dapat mengintai ketika seseorang minum sambil berdiri.
Risiko Asfiksia Akibat Minum Sambil Berdiri
Salah satu kondisi yang paling dikhawatirkan dari kebiasaan minum sambil berdiri adalah terjadinya asfiksia. Asfiksia adalah kondisi serius yang terjadi ketika saluran pernapasan tersumbat, sehingga menghalangi masuknya oksigen ke dalam paru-paru. Dalam konteks minum, ini berarti air yang seharusnya masuk ke saluran pencernaan malah masuk ke saluran pernapasan.
“Kalau minum sambil berdiri yang ditakutkan adalah asfiksia, bukan ginjalnya,” jelas dr. Tunggul.
Asfiksia merupakan kondisi medis yang dapat berakibat fatal. Ketika tubuh tidak mendapatkan pasokan oksigen yang cukup, berbagai fungsi vital dapat terganggu.
Memahami Asfiksia Lebih Dalam
Asfiksia terjadi ketika proses normal pernapasan terganggu. Dalam keadaan normal, udara yang mengandung oksigen dihirup melalui hidung atau mulut, kemudian masuk ke paru-paru. Dari paru-paru, oksigen diedarkan ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Gangguan pada salah satu tahapan proses ini, baik saat menghirup oksigen maupun mengembuskan karbon dioksida, dapat menyebabkan seseorang mengalami pingsan, bahkan mengancam jiwa.
Pada kasus asfiksia yang berkaitan dengan minum, masalah utamanya adalah oksigen tidak dapat mencapai saluran pernapasan dengan baik. Salah satu jenis asfiksia yang relevan di sini adalah asfiksia fisik, yang terjadi ketika ada objek fisik yang menghalangi jalan napas.
Tersedak: Pemicu Utama Asfiksia Saat Minum
Tersedak adalah penyebab umum dari asfiksia fisik. Kondisi ini terjadi ketika makanan, cairan, atau benda asing lainnya tersangkut di saluran pernapasan, seperti tenggorokan atau trakea, sehingga menghalangi aliran udara menuju paru-paru.
Kebiasaan makan dan minum sambil berdiri, terutama jika dilakukan dengan tergesa-gesa atau sambil berbicara, secara signifikan meningkatkan risiko tersedak. Posisi tubuh yang tidak stabil saat berdiri dapat membuat seseorang lebih rentan kehilangan kontrol saat menelan, sehingga meningkatkan kemungkinan cairan masuk ke saluran yang salah.
Oleh karena itu, meskipun minum sambil berdiri tidak secara langsung merusak ginjal, kebiasaan ini membawa risiko kesehatan yang nyata dan perlu dihindari demi menjaga keselamatan diri. Penting untuk selalu makan dan minum dalam posisi yang nyaman dan tenang untuk mencegah komplikasi yang tidak diinginkan.






