Lonjakan Harga Minyak Dunia Picu Kekhawatiran Ekonomi Global
Harga minyak dunia mengalami lonjakan signifikan pada awal perdagangan Senin, 9 Maret 2026, mencapai level tertinggi sejak Juli 2022. Kenaikan tajam ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, yang berpotensi mengganggu pasokan minyak global melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran energi yang krusial.
Dalam perdagangan awal, kontrak berjangka minyak Brent sempat melesat 18,35 dolar AS atau 19,8% menjadi 111,04 dolar AS per barel. Pada pukul 23.14 GMT, harga Brent tercatat naik 14,38 dolar AS atau 15,5% menjadi 107,07 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga melonjak 15,27 dolar AS atau 16,8 persen menjadi 106,17 dolar AS per barel, setelah sebelumnya sempat mencapai 111,24 dolar AS per barel, dengan kenaikan 20,34 dolar AS atau 22,4 persen.
Lonjakan ini melanjutkan tren kenaikan yang sudah terjadi sebelumnya. Pekan lalu, harga Brent telah menguat 27 persen dan WTI meningkat 35,6 persen.

Kenaikan harga minyak mentah hingga lebih dari 22% ke atas US$110 per barel pada pembukaan perdagangan ini merupakan perpanjangan dari kenaikan rekor 36% yang terjadi pada pekan sebelumnya. Kenaikan ini terjadi setelah sejumlah produsen besar di Timur Tengah mengumumkan pemangkasan produksi.
Eskalasi Konflik dan Dampaknya pada Pasokan Energi
Militer Israel pada Ahad dini hari mengumumkan serangan terhadap komandan Iran di ibu kota Lebanon, Beirut. Operasi militer ini diperluas ke pusat kota setelah serangkaian serangan yang telah menewaskan hampir 400 orang dalam beberapa hari terakhir.
Lebih lanjut, militer Israel juga mengeluarkan ancaman untuk membunuh siapa pun yang menggantikan kepemimpinan Iran saat ini. Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa perang tersebut kemungkinan baru akan berakhir jika militer dan kepemimpinan Iran berhasil dilumpuhkan sepenuhnya.
Situasi konflik yang memanas ini berpotensi memberikan dampak yang signifikan bagi konsumen dan pelaku usaha di seluruh dunia. Kenaikan harga bahan bakar diperkirakan akan terjadi selama beberapa pekan, bahkan berbulan-bulan, meskipun konflik yang baru berlangsung sekitar sepekan ini dapat berakhir dengan cepat.
Selain kenaikan harga, pasokan energi secara keseluruhan juga terancam akibat berbagai faktor, termasuk kerusakan fasilitas produksi, gangguan pada rantai logistik, serta peningkatan risiko bagi kapal-kapal pengangkut minyak.
Upaya Mitigasi dan Pemangkasan Produksi
Sebagai negara eksportir minyak terbesar di dunia, Arab Saudi dilaporkan telah meningkatkan pengiriman minyaknya melalui Laut Merah. Namun, berdasarkan data pengiriman yang tersedia, volume peningkatan tersebut masih belum cukup untuk sepenuhnya menggantikan penurunan pasokan yang berasal dari Selat Hormuz yang terdampak krisis.
Menyikapi potensi ancaman terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz, Kuwait, yang merupakan produsen minyak terbesar kelima di OPEC, telah mengumumkan pemangkasan produksi minyak dan output kilang sebagai langkah pencegahan.
Di Irak, situasi yang sama juga terjadi. Produksi dari tiga ladang minyak utama di wilayah selatan dilaporkan mengalami penurunan drastis sekitar 70%, dari sebelumnya 4,3 juta barel per hari menjadi hanya 1,3 juta barel per hari sebelum perang Iran.
Sementara itu, Uni Emirat Arab menyatakan bahwa pihaknya sedang mengelola produksi lepas pantai secara hati-hati untuk menyesuaikan dengan kebutuhan penyimpanan minyak. Meskipun demikian, operasi produksi di darat dilaporkan masih berjalan normal.
Dampak dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah ini menjadi pengingat akan kerentanan pasokan energi global dan pentingnya stabilitas di wilayah-wilayah produsen minyak utama dunia.






