Inklusivitas dalam Ibadah: Cimahi Hadirkan Juru Bahasa Isyarat di Peringatan Nuzulul Quran
Peringatan Nuzulul Quran yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Cimahi pada tahun 1447 Hijriyah/2026 Masehi di Masjid Agung Cimahi, Jalan Jenderal Amir Mahmud, Kota Cimahi, menandai sebuah tonggak sejarah baru. Untuk pertama kalinya di wilayah Bandung Raya, sebuah kegiatan keagamaan berskala besar mengintegrasikan kehadiran Juru Bahasa Isyarat (JBI). Inisiatif ini merupakan upaya nyata dalam mewujudkan layanan inklusif, memastikan bahwa masyarakat penyandang disabilitas rungu dapat mengikuti seluruh rangkaian acara keagamaan dengan nyaman dan penuh makna.
Acara peringatan Nuzulul Quran ini diisi dengan tausiah yang mendalam oleh KH. M.D. Ubaydillah AB dari Pondok Pesantren Roudhotul Ulum Cisasawi, Kabupaten Bandung Barat. Dalam ceramahnya, KH. Ubaydillah AB mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup yang hakiki. Beliau menekankan pentingnya memperkuat keimanan melalui pemahaman dan pengamalan ajaran Al-Quran, serta menumbuhkan nilai-nilai kebaikan yang universal dalam kehidupan bermasyarakat. Pesan-pesan ini diharapkan dapat meresap dan menjadi inspirasi bagi setiap individu untuk berkontribusi positif bagi lingkungan sekitar.
Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudisthira, menyatakan bahwa kehadiran Juru Bahasa Isyarat dalam kegiatan keagamaan ini merupakan bukti nyata komitmen Pemerintah Kota Cimahi dalam menciptakan lingkungan yang inklusif dan ramah bagi seluruh lapisan masyarakat. “Dengan adanya juru bahasa isyarat, pesan-pesan keagamaan yang disampaikan dalam peringatan Nuzulul Quran dapat diakses secara lebih luas oleh masyarakat tanpa terkecuali,” ujar Adhitia Yudisthira. Ia menambahkan bahwa ini adalah langkah krusial untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal dalam mengakses informasi dan spiritualitas.
Mendorong Akses Universal dalam Kegiatan Keagamaan
Kehadiran Juru Bahasa Isyarat dalam peringatan Nuzulul Quran di Masjid Agung Cimahi ini diharapkan menjadi katalisator untuk mendorong penyelenggaraan berbagai kegiatan publik lainnya agar semakin inklusif. Harapannya adalah seluruh elemen masyarakat, tanpa memandang latar belakang fisik maupun kemampuan, dapat merasakan manfaat dan keberkahan dari setiap kegiatan keagamaan yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun lembaga lainnya.
Pemerintah Kota Cimahi berharap nilai-nilai luhur Al-Quran tidak hanya berhenti sebagai pedoman spiritual semata. Lebih dari itu, nilai-nilai tersebut diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi yang kuat dalam membangun tatanan sosial yang dilandasi oleh rasa saling menghormati, penghargaan terhadap perbedaan, serta terciptanya ruang partisipasi yang setara bagi seluruh warga negara. Dengan demikian, Al-Quran tidak hanya membentuk individu yang bertakwa, tetapi juga masyarakat yang harmonis dan adil.
Semangat Inklusivitas dalam Bingkai Ramadan
Melalui penyelenggaraan peringatan Nuzulul Quran yang secara khusus menghadirkan Juru Bahasa Isyarat, Pemerintah Kota Cimahi ingin menegaskan kembali prinsip fundamental bahwa nilai-nilai Al-Quran sejatinya adalah untuk seluruh umat manusia, tanpa pandang bulu. Semangat bulan Ramadan, yang identik dengan kepedulian, kebersamaan, dan peningkatan spiritualitas, menjadi momentum yang sangat tepat untuk membuka ruang yang setara bagi setiap warga, termasuk mereka yang menyandang disabilitas.
Langkah progresif ini juga merupakan bagian integral dari komitmen Pemerintah Kota Cimahi dalam upaya membangun sebuah kota yang semakin inklusif, ramah, dan senantiasa memberikan akses yang sama bagi seluruh masyarakat. Akses yang sama ini mencakup berbagai aspek, mulai dari kegiatan keagamaan, kegiatan sosial, hingga berbagai bentuk pelayanan publik yang disediakan oleh pemerintah. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan di mana setiap individu merasa dihargai dan memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi aktif.
Pihak pemerintah berharap inisiatif yang telah diambil ini dapat menjadi inspirasi berharga bagi berbagai pihak, baik pemerintah daerah lain, lembaga keagamaan, maupun komunitas masyarakat. Diharapkan semangat inklusivitas ini tidak hanya menjadi sebuah program sesaat, tetapi dapat terus tumbuh dan mengakar kuat menjadi sebuah budaya dalam kehidupan bermasyarakat di Kota Cimahi dan bahkan meluas ke daerah-daerah lain. Dengan demikian, cita-cita menciptakan masyarakat yang adil, setara, dan penuh kasih dapat terwujud.






