Pelabuhan Wisata Kalianget Mangkrak, Rp 3,8 Miliar Terancam Mubazir
Pembangunan Pelabuhan Wisata Kalianget di Kabupaten Sumenep, yang menelan anggaran fantastis sebesar Rp 3,8 miliar, kini menjadi sorotan masyarakat. Rampung sejak tahun 2024, infrastruktur vital yang berlokasi di pesisir Kota Keris ini hingga kini belum juga difungsikan. Kondisi ini memicu kekhawatiran warga bahwa proyek yang diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi dan mempermudah akses transportasi ini justru terancam menjadi bangunan mangkrak dan terbuang sia-sia.
Ahmad (32), seorang warga Kecamatan Talango, menyuarakan kekecewaannya. Ia menilai bahwa dermaga yang telah selesai dibangun ini terkesan mubazir karena tidak ada aktivitas penyeberangan yang signifikan. “Pembangunannya sudah lama selesai. Tapi sampai sekarang tidak pernah ada aktivitas, hanya banyak orang nongkrong,” ujarnya dengan nada prihatin. Ia menambahkan bahwa jika pelabuhan wisata ini difungsikan, setidaknya dapat membantu mengurai antrean panjang penyeberangan rute Kalianget – Talango yang selama ini hanya bertumpu pada satu dermaga. “Kalau itu difungsikan untuk dermaga kapal tongkang khusus penyeberangan Kalianget – Talango kan lebih bagus,” tuturnya, menggambarkan potensi besar yang belum tergarap.
Menanggapi keluhan masyarakat, Kepala Bidang Prasarana dan Keselamatan Transportasi Dinas Perhubungan (Disperkimhub) Sumenep, Imam Afif Rusidy, menyatakan bahwa secara teknis, pelabuhan tersebut sebenarnya sudah layak untuk digunakan. “Itu panjangnya sudah cukup, jadi sudah bisa difungsikan,” jawabnya saat dikonfirmasi. Namun, ia mengakui bahwa hingga saat ini belum ada operasional rutin yang berjalan. Pihaknya masih terus berupaya melakukan komunikasi intensif dengan para pemilik kapal tongkang dan perahu terkait rencana pemanfaatan dermaga tersebut. “Kami masih mau berkomunikasi lebih lanjut dengan para pihak. Baik itu pemilik tongkang maupun perahu,” jelasnya, menandakan bahwa kendala utama bukan pada kesiapan infrastruktur, melainkan pada koordinasi dengan para pemangku kepentingan.
Proyek Pembangunan Bertahap: Sejarah dan Anggaran
Perjalanan pembangunan Pelabuhan Wisata Kalianget ini memang tergolong panjang dan dilakukan secara bertahap. Proyek ini dimulai sejak tahun 2021 dan baru benar-benar rampung pada tahun 2024.
- Tahap Awal (2021): Pembangunan dimulai dengan kucuran dana sebesar Rp 1,5 miliar yang bersumber dari Bantuan Keuangan (BK) Provinsi Jawa Timur.
- Tahun Kedua (2022): Pembangunan dilanjutkan dengan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Sumenep senilai Rp 1,3 miliar.
- Kendala dan Penyempurnaan (2023-2024): Meskipun telah menerima dana dari dua tahap sebelumnya, pelabuhan tersebut belum dapat dioperasikan pada tahun 2023. Alasan yang dikemukakan adalah panjang dermaga yang dinilai masih kurang memadai. Menindaklanjuti hal tersebut, pada tahun 2024, kembali dianggarkan dana sebesar Rp 1 miliar melalui APBD Sumenep untuk melakukan penyempurnaan.
Total keseluruhan anggaran yang telah terserap untuk pembangunan Pelabuhan Wisata Kalianget ini mencapai Rp 3,8 miliar. Angka yang tidak sedikit ini, ditambah dengan waktu pembangunan yang cukup lama, membuat masyarakat semakin berharap agar pelabuhan ini segera dioperasikan dan memberikan manfaat nyata.
Menanti Kepastian Fungsi dan Manfaat Ekonomi
Hingga kini, masyarakat Kabupaten Sumenep dan sekitarnya masih terus menanti kepastian kapan Pelabuhan Wisata Kalianget ini akan benar-benar difungsikan. Harapan besar disematkan pada pelabuhan ini, tidak hanya untuk mempermudah arus penyeberangan dan mengurangi kepadatan di dermaga yang ada, tetapi juga untuk mendorong aktivitas ekonomi warga. Potensi pengembangan sektor pariwisata dan peningkatan mobilitas barang dan jasa sangat mungkin terwujud jika pelabuhan ini dapat beroperasi secara optimal.
Pemerintah Kabupaten Sumenep diharapkan dapat segera menyelesaikan komunikasi dan negosiasi dengan para pemilik kapal serta pelaku transportasi laut lainnya. Solusi yang komprehensif dan berkelanjutan sangat dibutuhkan agar anggaran miliaran rupiah yang telah dikeluarkan tidak menjadi sia-sia. Selain itu, transparansi dalam proses operasionalisasi dan pemanfaatan pelabuhan juga akan sangat membantu membangun kepercayaan masyarakat terhadap proyek-proyek pemerintah di masa mendatang.
Kini, mata masyarakat tertuju pada langkah selanjutnya dari pemerintah daerah. Apakah Pelabuhan Wisata Kalianget akan segera menjadi denyut nadi baru bagi transportasi dan ekonomi Sumenep, ataukah akan terus menjadi monumen megah yang terbengkalai? Jawaban atas pertanyaan ini akan sangat menentukan nasib investasi publik senilai Rp 3,8 miliar tersebut.






