Pembatalan Perdamaian, Iran Menolak Negosiasi dan Mengungkap Haknya di Selat Hormuz, Mengkritik Blokade Trump: Kegagalan

Iran Menolak Segala Bentuk Negosiasi yang Dilakukan di Bawah Tekanan AS

Iran menunjukkan sikap tegas dalam merespons dinamika geopolitik dengan Amerika Serikat dan Israel. Pernyataan tersebut disampaikan oleh anggota parlemen Iran, Rouhollah Izadkhah, yang merujuk pada arahan dari pemimpin tertinggi negara. Ia menegaskan bahwa kebijakan ini sejalan dengan pandangan Sayyed Motjaba Khamenei sebagai figur sentral dalam arah politik Iran.

Menurutnya, tujuan utama negosiasi bukan untuk menyerah, melainkan untuk menegaskan batas dan kepentingan Iran di hadapan Washington. Dengan pendekatan tersebut, Iran ingin memastikan bahwa setiap dialog berlangsung secara setara tanpa adanya dominasi pihak lain.

Izadkhah menekankan bahwa Iran tidak menutup pintu dialog, namun hanya akan bernegosiasi dari posisi yang kuat. “Jika negosiasi terjadi, kita akan memasukinya dari posisi yang kuat dan dengan keyakinan penuh pada angkatan bersenjata kita,” ujar Izadkhah, mengutip Al Mayadeen, Senin (20/4/2026). Ia juga menyampaikan kesiapan Iran dalam menghadapi tekanan dari Presiden AS, Donald Trump, serta sekutu-sekutunya di kawasan.

Lebih jauh, Izadkhah menegaskan bahwa kepentingan strategis negara tidak akan dikompromikan dalam kondisi apa pun. “Kami tidak akan berkompromi dengan siapa pun, dan kami bersikeras pada hak-hak kami di Selat Hormuz.” Ia menambahkan bahwa pengelolaan Selat Hormuz akan tetap berada dalam kendali Iran dengan kerangka yang sesuai aturan global. “Kami akan menetapkan kerangka kerja khusus untuk mengaturnya sesuai dengan hukum internasional,” ujarnya.

Mengejek Kebijakan Blokade Trump

Izadkhah juga mengejek kebijakan blokade yang diberlakukan Trump di Selat Hormuz sebagai pertunjukan yang gagal, dan menilai bahwa AS tidak berani melakukan serangan langsung terhadap Iran. Hal ini menunjukkan bahwa Iran tidak takut dengan ancaman yang datang dari pihak luar.

Di sisi lain, kantor berita resmi Iran, IRNA, membantah laporan mengenai adanya putaran kedua negosiasi (Iran dan AS-Israel) di Islamabad. IRNA menegaskan bahwa laporan tersebut “tidak benar” dan menyebut bahwa hingga kini belum ada keputusan untuk melanjutkan dialog dengan Washington.

Sikap AS yang Dinilai Tidak Konsisten

IRNA juga menyoroti sikap AS yang dinilai tidak konsisten. Mereka menyebut maksimalisme dan tuntutan yang berlebihan dan tidak realistis, serta perubahan posisi yang terus terjadi menjadi penghambat utama. Dalam kondisi tersebut, IRNA menegaskan, tidak ada prospek yang jelas untuk negosiasi yang membuahkan hasil.

Bahkan, laporan-laporan dari pihak AS disebut sebagai “permainan media” yang bertujuan menekan Iran. Di sisi lain, kantor berita dan menyebut bahwa Teheran masih belum memfinalisasi sikap terkait partisipasi dalam pembicaraan yang diusulkan.

Situasi yang Masih Tidak Jelas

Situasi saat ini digambarkan tidak terlalu positif, dengan salah satu syarat utama Iran adalah pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhannya. Dengan posisi yang tegas dan keberanian untuk menolak segala bentuk negosiasi yang dilakukan di bawah tekanan, Iran menunjukkan bahwa mereka tidak akan mudah terpengaruh oleh ancaman atau tekanan eksternal.

Strategi diplomasi Iran yang menempatkan kedaulatan sebagai prioritas utama dalam setiap perundingan menunjukkan bahwa mereka akan terus menjaga kepentingan nasional mereka, bahkan jika harus menghadapi tekanan besar dari pihak luar. Dengan demikian, Iran menunjukkan bahwa mereka siap menghadapi segala tantangan yang muncul, baik itu dari AS maupun dari negara-negara lain yang mendukung AS dalam konflik ini.

Pos terkait