Musim pembagian dividen final di Bursa Efek Indonesia (BEI) semakin mendekat, menghadirkan peluang menarik bagi para investor. Secara historis, emiten-emiten di BEI mulai menyalurkan dividen final mereka pada periode antara bulan Maret hingga Juni setiap tahunnya. Berbeda dengan dividen interim yang bisa dibagikan beberapa kali dalam setahun, dividen final hanya dibagikan satu kali setelah laporan keuangan tahunan emiten disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Periode musim dividen final sering kali menjadi momen puncak bagi investor untuk memaksimalkan keuntungan. Peluang ini tidak hanya datang dari pembagian dividen itu sendiri, tetapi juga dari potensi kenaikan harga saham emiten menjelang tanggal cum date dividen. Fenomena ini menciptakan kesempatan ganda bagi investor untuk meraih keuntungan, baik melalui capital gain (keuntungan dari kenaikan harga saham) maupun dividend yield (persentase dividen yang dibayarkan terhadap harga saham).
Indikasi positif dari tren ini sudah mulai terlihat. Hal ini tercermin dari pergerakan indeks IDX High Dividend20, sebuah indeks yang secara khusus berisi 20 saham emiten dengan dividen yang menarik. Sepanjang tahun berjalan, indeks ini telah mencatat kenaikan yang signifikan. Pada penutupan perdagangan Jumat pekan lalu, indeks IDX High Dividend20 berada di level 522,03, yang berarti mengalami penguatan sebesar 2,38% secara year to date (YtD).
Strategi Investasi di Musim Dividen
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, memberikan pandangannya mengenai indeks IDX High Dividend20. Ia menilai bahwa konstituen indeks ini masih dapat menjadi acuan yang baik bagi investor dalam memilih emiten yang berpotensi membagikan dividen menarik.
“Indeks HDIV20 tetap menjadi alat screening awal yang bagus, namun investor tidak boleh hanya mengandalkan indeks ini tanpa melakukan analisis lanjutan yang mendalam,” ujar Wafi. Ia menekankan pentingnya riset mandiri untuk memastikan keputusan investasi yang tepat.
Menurut Wafi, investor yang belum melakukan investasi pada saham pembagi dividen masih memiliki kesempatan. Mayoritas distribusi dividen final biasanya terjadi pada akhir Maret hingga Mei. Ini berarti masih ada ruang yang cukup bagi investor untuk mengamankan keuntungan capital gain sekaligus menikmati dividend yield.
Senada dengan pandangan tersebut, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyarankan agar investor memprioritaskan saham emiten dengan dividend yield di atas 5%. Nafan menambahkan bahwa emiten dari sektor perbankan dan komoditas umumnya menawarkan rasio dividen yang menarik.
Saham Perbankan Menjadi Sorotan
Nafan secara spesifik menyoroti saham-saham bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau yang akrab disebut bank Himbara sebagai pilihan yang menarik. Salah satu contoh yang ia sebutkan adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). BMRI diperkirakan akan membagikan dividen dari laporan keuangan tahun 2025 dengan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio – DPR) sekitar 78%, angka yang sama dengan tahun sebelumnya.
Dari sisi valuasi, saham BMRI masih tergolong menarik dengan rasio Harga terhadap Laba (Price Earning Ratio – PER) sebesar 8,50 kali. Angka PER yang rendah ini menunjukkan bahwa harga saham BMRI relatif murah dibandingkan dengan laba yang dihasilkan perusahaan.
Bank Mandiri sendiri mencatat kinerja keuangan yang solid pada tahun 2025, dengan laba bersih sebesar Rp 56,3 triliun, mengalami kenaikan sebesar 0,93% secara tahunan. Jika dividend payout ratio tetap di angka 78%, maka total dividen yang berpotensi dibagikan oleh Bank Mandiri dapat mencapai Rp 43,9 triliun, atau sekitar Rp 472 per saham. Berdasarkan harga saham BMRI pada penutupan Jumat (20/2), dividend yield yang ditawarkan sekitar 9,2%, angka yang cukup tinggi dan menarik bagi investor.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy, turut memberikan pandangannya. Ia menilai bahwa dengan harga saham yang relatif rendah, dividen yang ditawarkan oleh emiten-emiten tertentu dapat memberikan imbal hasil yang sangat menarik.
“Potensi dividend yield dari emiten bisa saja lebih tinggi dibandingkan dengan imbal hasil yang ditawarkan oleh bunga deposito atau kupon obligasi pemerintah. Saat ini, saham-saham emiten pembagi dividen masih relatif murah dan sangat menarik untuk dicermati lebih lanjut,” ujar Budi.
Lebih lanjut, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer, menambahkan bahwa saham-saham emiten perbankan diprediksi masih akan prospektif di tahun 2026. Kinerja sektor perbankan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor kunci, termasuk pertumbuhan penyaluran kredit, kualitas aset yang dikelola, serta tren suku bunga acuan.
“Belum terlambat bagi investor untuk mulai masuk ke saham-saham ini, asalkan valuasi yang ditawarkan masih masuk akal dan strategi investasi dilakukan secara bertahap dengan fokus utama pada fundamental perusahaan yang kuat,” pungkas Miftahul. Pendekatan investasi yang terencana dan berbasis fundamental menjadi kunci penting dalam meraih keuntungan optimal di tengah dinamika pasar modal.






