Padang — Pemerintah Kota Padang, Sumatra Barat, mengungkapkan bahwa aktivitas perdagangan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) khususnya di sektor kuliner berkontribusi signifikan terhadap pendapatan asli daerah (PAD).
Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Padang, Fuji Astomi, menyampaikan bahwa kota yang dikenal sebagai destinasi kuliner kini sedang bertransformasi menjadi kota kreatif gastronomi dunia.
“Sebagai kota gastronomi, Padang menjadi tujuan wisatawan, dan hal ini turut meningkatkan aktivitas perdagangan di sektor UMKM,” ujarnya, Senin (6/4/2026).
Menurut Fuji, peningkatan jumlah wisatawan yang datang untuk mencicipi kuliner khas Padang berdampak pada kenaikan PAD dari sektor Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) makanan dan minuman.
Ia menjelaskan bahwa sejak Padang mendeklarasikan diri sebagai Kota Gastronomi, PAD dari sektor tersebut meningkat menjadi Rp5,6 miliar. Sebelumnya, pendapatan dari sektor kuliner berada di kisaran Rp4 miliar.
Fuji menambahkan bahwa kenaikan pendapatan mulai terlihat pada akhir 2025 dan terus berlanjut selama periode libur Lebaran 2026.
“Semua itu karena banyaknya perantau yang pulang dan ingin mencicipi kuliner khas Kota Padang,” jelasnya.
Selain sektor kuliner, Bapenda Kota Padang juga mencatat kontribusi PAD dari beberapa sektor lain. Berikut rincian pendapatan dari sektor-sektor tersebut:
- Jasa Perhotelan: Tercatat sebesar Rp3.460.240.373
- Jasa Parkir: Mencapai Rp129.323.265
- Jasa Kesenian dan Hiburan: Sebesar Rp654.035.255
Fuji juga merinci kontribusi dari sektor retribusi yang mencapai Rp255.344.505. Dari jumlah tersebut, retribusi Dinas Perhubungan menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp218.103.000, sementara retribusi Dinas Pariwisata tercatat sebesar Rp37.241.505.
“Hingga akhir libur lebaran lalu, PAD di seluruh sektor ini terkumpul sebesar Rp10.148.090.495,” tutupnya.






