Penggabungan BUMN Karya Selesaikan Tahun 2026, Tinggalkan 3 Perusahaan

Rencana Penggabungan BUMN Infrastruktur yang Diharapkan Selesaikan di Akhir 2026

Direktur Utama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), Agung Budi Waskito (BW), menyampaikan bahwa rencana penggabungan tujuh BUMN sektor infrastruktur atau karya akan rampung pada akhir tahun 2026. Dengan penggabungan ini, tujuh perusahaan BUMN karya, yaitu PT Hutama Karya (Persero), PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, PT PP (Persero) Tbk, PT Brantas Abipraya (Persero), dan PT Nindya Karya (Persero) akan dilebur menjadi tiga perusahaan.

“BUMN konstruksi yang awalnya berjumlah 7, dari Danantara akan menjadikan berjumlah 3, yang mudah-mudahan mestinya bisa terlaksana di akhir 2026 ini,” ujar Agung BW dalam media briefing di Jakarta Utara, Senin (6/4/2026).

Penyehatan Keuangan Sebagai Langkah Awal

Sebelum proses penggabungan dilakukan, BUMN karya harus melakukan penyehatan keuangan terlebih dahulu. Agung BW menjelaskan bahwa beberapa BUMN karya masih mencatatkan kinerja negatif, salah satunya adalah WIKA yang mengalami kerugian sebesar Rp9,71 triliun pada tahun 2025.

Selain itu, BUMN karya juga harus memiliki kesepakatan restrukturisasi utang sebelum merger dapat dilakukan. “Danantara mengutamakan di 2025-2026 ini semuanya BUMN karya untuk fokus kepada dua hal, yaitu yang pertama bagaimana supaya penyehatan daripada semua karya didahulukan, termasuk di dalamnya jika ada restrukturisasi keuangan. Yang kedua bagaimana supaya pelaporan lebih transparan dan lebih baik dibanding sebelumnya,” tambah Agung BW.

Efisiensi Jumlah Anak Usaha

Merger BUMN karya merupakan bagian dari upaya perampingan jumlah BUMN yang sedang difokuskan oleh Danantara. Target yang ditetapkan adalah mengurangi jumlah BUMN dan anak usaha dari lebih dari 1.000 perusahaan menjadi di bawah 300 perusahaan.

Agung BW menjelaskan bahwa WIKA juga telah ditugaskan oleh Danantara untuk melakukan efisiensi jumlah anak usaha. “Selain merger di induk tadi saya sampaikan dari 7 menjadi 3. Di kami, di anak perusahaan pun kita memang diminta oleh Danantara untuk menata ulang anak perusahaan, maupun cucu anak perusahaan,” ujarnya.

Penutupan Anak Usaha yang Tidak Berkinerja Baik

Agung BW menyampaikan bahwa WIKA tidak segan untuk menutup anak usaha atau cucu usaha yang kinerjanya tidak dapat dipertahankan. Saat ini, proses pemetaan anak usaha yang berpotensi ditutup sedang dilakukan.

“Yang tidak sustain ya tentu kami akan kurangi atau kita tutup atau kita apakan, itu yang sedang kita kaji. Tapi akan sudah mulai di tahun 2026. Ada beberapa cucu yang mungkin sedang kita evaluasi juga,” jelas dia.

Penggunaan Lahan BUMN untuk Program 3 Juta Rumah

Pemerintah juga merencanakan penggunaan lahan BUMN di lima kota untuk program pembangunan 3 juta rumah. Selain itu, pemerintah juga ingin membangun 800 unit rusun di lahan BUMN yang diharapkan selesai pada Juni.

WIKA sendiri mengalami kerugian sebesar Rp1,8 triliun setiap tahun akibat masalah yang disebut “Whoosh”. Hal ini menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi oleh perusahaan dalam meningkatkan kinerja keuangan.

Pos terkait