Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara telah resmi membentuk sebuah entitas baru bernama PT Daya Energi Bersih Nusantara atau PT Denera. Perusahaan ini akan fokus pada pengolahan sampah menjadi energi listrik, yang dikenal dengan istilah waste to energy (WtE).
Proyek WtE saat ini menjadi prioritas utama bagi Danantara. Mereka berambisi membangun fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik di beberapa kota besar. Proyek ini merupakan bagian dari program nasional yang bertujuan untuk mengatasi masalah sampah perkotaan sekaligus meningkatkan ketahanan energi nasional.
Menurut Direktur Investasi Danantara sekaligus Lead Proyek WtE Fadli Rahmah, proyek jumbo ini diperkirakan memiliki nilai investasi mencapai Rp 91 triliun. Keberadaan holding WtE menurutnya penting untuk memastikan proyek berjalan sesuai regulasi pemerintah.
“Holding akan bekerja sama dengan perusahaan pemenang tender WtE,” ujar Fadli dalam acara update proyek WtE.
Saat ini, Danantara memproyeksikan investasi per proyek berkisar antara Rp 2,5 triliun hingga Rp 2,8 triliun untuk setiap lokasi. Proyek ini ditargetkan dibangun di 33 lokasi, dengan masing-masing proyek mampu mengelola 1.000 ton sampah per hari.
Pembentukan Denera tidak lepas dari ambisi Danantara untuk menggarap proyek WtE secara masif di berbagai daerah. Program ini menjadi bagian dari agenda nasional untuk mengatasi persoalan sampah perkotaan sekaligus mendorong penggunaan energi terbarukan.
Profil PT Denera
PT Denera Holding Baru dari Danantara resmi berdiri pada 1 April 2026. Entitas ini dibangun sebagai perusahaan pengelolaan sampah terintegrasi.
PT Denera dibentuk langsung oleh PT Danantara Investment Management (DIM) dan akan berperan sebagai perusahaan induk (holding) untuk seluruh proyek WtE di Indonesia. Melalui struktur tersebut, Denera akan mengonsolidasikan kegiatan investasi, pengembangan hingga operasional proyek WtE di berbagai wilayah.
Setiap proyek nantinya dijalankan melalui Badan Usaha Pengembang dan Pengelola (BUPP), yaitu perusahaan patungan antara Denera dan konsorsium mitra terpilih. Sebagai Lead of WtE, Fadli Rahman menjelaskan bahwa Denera akan menjadi anak dari DIM.
“Denera inilah yang memegang dari sisi saham dan juga dari sisi operasional dan pengelolaan untuk seluruh PSEL dibawah Danantara Investment,” ujar Fadli dalam acara update proyek WtE.
Denera akan memegang porsi saham di setiap proyek PSEL, dengan struktur kepemilikan sebesar 70% untuk mitra BUPP dan 30% oleh Denera. Selain itu, Denera juga akan bertanggung jawab atas operasional proyek. Setiap pembangunan satu unit PSEL membutuhkan investasi sebesar Rp 2,5 triliun hingga Rp 2,8 triliun.
Fadli menjelaskan, Denera tidak hanya berperan sebagai pengelola proyek hilir, tetapi juga akan mendorong pengelolaan sampah terintegrasi dari hulu ke hilir. Program WtE disebut sebagai katalis untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh.
Ia menilai proyek WtE tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga mencakup pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir, mulai dari tempat pembuangan, pengolahan hingga daur ulang. Upaya ini mencakup peningkatan tingkat pengumpulan sampah (collection rate), penguatan sistem pengelolaan seperti DPS3R hingga edukasi masyarakat agar lebih sadar dalam mengelola sampah.
Selain sampah rumah tangga, ke depan Denera juga akan mengembangkan pengelolaan untuk jenis sampah lain, termasuk limbah industri hingga limbah berbahaya.
Proyek WtE Danantara
Danantara sudah memulai pembangunan proyek WtE. Proyek tahap pertama sedang berlangsung. Dari empat kota terpilih yang akan dibangun fasilitas WtE, tiga di antaranya sudah diumumkan pemenang tender yang akan mengelola fasilitas tersebut.
Danantara telah menetapkan pemenang tender untuk proyek WtE di Denpasar, Bogor dan Bekasi. Nilai investasi masing-masing proyek diperkirakan berkisar antara Rp 2,5 triliun hingga Rp 2,8 triliun. Angka tersebut sangat besar karena kapasitas fasilitas yang tergolong besar.
Sementara itu, untuk kota Yogyakarta, pemenang tender masih belum diumumkan. Fadli menjelaskan, proses penentuan mitra di Yogyakarta masih berlangsung karena adanya sejumlah hal yang perlu dinegosiasikan. “Di Yogyakarta kita masih dalam proses pemilihan mitra. Ada beberapa hal yang terkait negosiasi,” ujar Fadli dalam acara update proyek WtE.
Ia menjelaskan, pemilihan mitra untuk proyek di Yogyakarta sangat mempertimbangkan kecepatan pembangunan. Hal ini sejalan dengan urgensi penanganan masalah sampah di daerah tersebut.
Selanjutnya, Danantara akan membuka tender proyek WtE tahap kedua untuk 25 kota di Indonesia. Proses tender tahap kedua ini ditargetkan mulai dibuka pada bulan ini, April 2026.






