Rupiah Anjlok Rp17.000: Perang Iran dan Defisit APBN Jadi Biang Kerok

Rupiah Terperosok ke Rp17.000 per Dolar AS, Eskalasi Konflik Timur Tengah dan Kekhawatiran Domestik Jadi Biang Kerok

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan signifikan, bahkan menyentuh angka Rp17.000 per dolar AS pada Senin, 9 Maret 2026. Sejumlah faktor, baik dari kancah internasional maupun domestik, menjadi pemicu utama anjloknya mata uang Garuda ini. Eskalasi konflik di Timur Tengah dan kekhawatiran terkait kondisi fiskal dalam negeri menjadi sorotan utama yang menekan rupiah.

Gejolak Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia

Analisis dari para pakar pasar keuangan menunjukkan bahwa pemilihan pemimpin baru Iran, Muqtaba Khomeini, yang dinilai memiliki pandangan konservatif, telah memicu respons negatif di pasar global. Hal ini berpotensi memperpanjang konflik di kawasan tersebut dan meningkatkan ancaman terhadap jalur pelayaran vital, yaitu Selat Hormuz.

  • Ancaman Penutupan Selat Hormuz: Ketegangan yang meningkat di Timur Tengah diperkirakan akan berdampak langsung pada potensi penutupan Selat Hormuz. Selat ini merupakan salah satu jalur perdagangan minyak terpenting di dunia.
  • Kenaikan Harga Minyak Mentah: Penutupan atau ancaman penutupan Selat Hormuz secara otomatis akan mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia. Harga minyak jenis crude oil maupun Brent diprediksi akan melambung tinggi, bahkan menembus level US$117 per barel.
  • Proyeksi Harga Minyak Jangka Panjang: Jika konflik di Timur Tengah tidak kunjung menemukan titik terang dalam kurun waktu satu bulan ke depan, para analis memproyeksikan harga minyak mentah berpotensi mencapai US$200 per barel.

Dampak Lonjakan Minyak terhadap Anggaran Negara

Lonjakan harga minyak mentah yang jauh melampaui asumsi harga minyak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, yang ditetapkan sebesar US$92 per barel, memberikan tekanan berat pada perekonomian Indonesia. Kondisi ini berpotensi melebar defisit anggaran negara melebihi batas aman yang telah ditentukan.

  • Potensi Defisit Anggaran: Diperkirakan, pemerintah akan menghadapi defisit anggaran yang bisa mencapai 3,6%. Angka ini lebih tinggi dari proyeksi awal dan menimbulkan kekhawatiran serius.
  • Dampak pada Program Strategis: Defisit anggaran yang melebar dapat menggerus alokasi dana untuk berbagai program strategis nasional. Salah satu program yang dikhawatirkan terdampak adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menjadi prioritas pemerintah untuk mengatasi masalah stunting dan gizi buruk.

Sentimen Domestik Ikut Memperkeruh Suasana

Selain tekanan dari faktor eksternal seperti lonjakan harga minyak, sentimen negatif dari dalam negeri juga turut memperburuk kondisi pasar uang Indonesia. Wacana mengenai arah diplomasi luar negeri Indonesia yang semakin tegas di panggung internasional menjadi salah satu isu yang memicu dinamika pasar.

Kombinasi antara gejolak eksternal dan ketidakpastian sentimen domestik ini menciptakan efek domino yang signifikan. Para pelaku pasar bereaksi terhadap ketidakstabilan tersebut, yang pada akhirnya berdampak pada pergerakan nilai tukar dan indeks saham.

Indeks Dolar AS Menguat Tajam, Mata Uang Asia Tertekan

Akibat dari akumulasi berbagai faktor negatif tersebut, indeks dolar AS dilaporkan mengalami gap up atau lonjakan signifikan saat pembukaan pasar. Penguatan dolar AS ini memberikan tekanan tambahan bagi mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.

Dampak langsung dari penguatan dolar AS ini sangat terasa pada nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda tidak hanya terdepresiasi tajam hingga menyentuh level Rp17.000 per dolar AS, tetapi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami koreksi yang cukup dalam, yaitu hingga 5% pada awal perdagangan.

“Carut-marut inilah yang membuat pada saat pembukaan pasar tadi jam 06.00, indeks dolar terjadi gap up yang cukup tajam. Harga-harga semua mengalami pelemahan termasuk rupiah ke Rp17.000,” jelas seorang analis pasar keuangan.

Secara rinci, pergerakan nilai tukar pada awal perdagangan Senin, 9 Maret 2026, menunjukkan hal berikut:

  • Rupiah: Dibuka melemah 76 poin atau 0,45% ke level Rp17.001 per dolar AS.
  • Indeks Dolar AS: Menguat 0,70% dan bergerak menuju level 99,67.

Situasi ini juga mencerminkan tren pelemahan yang dialami oleh mayoritas mata uang di Asia terhadap dolar AS. Beberapa mata uang utama di kawasan Asia yang turut melemah antara lain:

  • Yen Jepang: Terdepresiasi sebesar 0,58%.
  • Won Korea: Melemah 0,85%.
  • Rupee India: Mengalami pelemahan 0,16%.
  • Ringgit Malaysia: Melemah 0,49% terhadap dolar AS.

Kondisi ini menuntut perhatian serius dari pemerintah dan Bank Indonesia untuk meredam volatilitas pasar dan menjaga stabilitas ekonomi makro di tengah gejolak global dan tantangan domestik.

Pos terkait