Strategi Rahasia Iran dalam Menjatuhkan Pesawat Tempur AS
Iran berhasil menembak jatuh dua pesawat tempur milik Amerika Serikat (AS) yang melakukan serangan ke wilayahnya. Dua pesawat tersebut adalah F-15E Strike Eagle dan A-10 Warthog. Keberhasilan ini menimbulkan pertanyaan tentang strategi apa yang digunakan oleh Iran untuk menghadapi ancaman udara dari pesawat-pesawat canggih AS.
Penembakan Pesawat Tempur AS
Pada 3 April 2026, pesawat F-15E Strike Eagle milik AS ditembak jatuh di wilayah Iran Tengah. Dalam pesawat tersebut terdapat dua awak. Salah satu dari mereka berhasil diselamatkan beberapa jam setelah kejadian, sementara yang lain sempat hilang dan menjadi fokus pencarian intensif. Beberapa waktu kemudian, pesawat kedua yang ditumbangkan Iran adalah A-10 Warthog. Pilot pesawat tersebut berhasil keluar dan tetap mengendalikan pesawat hingga mencapai wilayah udara Kuwait sebelum akhirnya diselamatkan.
Teknik yang Digunakan Iran
Bukan dengan menggunakan radar untuk mendeteksi pesawat-pesawat tempur AS, melainkan dengan sensor optik dan inframerah (IR) untuk melacak jet tempur AS. Strategi ini kemudian dikombinasikan dengan rudal Majid sebagai senjata utamanya.
Sistem ini bekerja dengan membaca jejak panas yang dihasilkan mesin pesawat serta gesekan badan pesawat di udara. Dengan teknologi electro-optical/infrared (EO/IR), operator dapat mengunci target tanpa memancarkan sinyal radar, sehingga tidak mudah terdeteksi oleh sistem peringatan dini lawan. Berbeda dari radar aktif, metode ini bersifat pasif.
Operator hanya perlu mengarahkan peluncur hingga sensor menemukan sumber panas paling kuat, lalu sistem akan mengikuti pergerakan target sampai rudal menghantam sasaran.
Rudal Majid: Senjata Unggulan Iran
Rudal yang digunakan oleh Iran diduga adalah rudal buatan dalam negeri Iran, Majid (AD-08). Sistem ini dirancang untuk menghadapi ancaman udara di ketinggian rendah dan pertama kali diperkenalkan pada 2021.
Kemampuan utama dari rudal Majid antara lain:
- Dipasang pada kendaraan taktis Aras-2 (4×4) yang membuatnya mudah berpindah posisi.
- Mampu mendeteksi target hingga jarak 15 kilometer tanpa radar.
- Menjangkau sasaran dari 700 meter hingga 8 kilometer dengan ketinggian hingga 6 kilometer.
- Melesat hingga kecepatan Mach 2.
- Dapat melacak dan menyerang hingga empat target secara bersamaan.
Kemampuan tersebut menjadikan sistem ini efektif sebagai pertahanan titik, terutama terhadap pesawat yang terbang rendah, drone, maupun rudal jelajah.
Penggunaan Sensor Optik dan Inframerah
Rekaman yang dirilis oleh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menunjukkan penggunaan sensor optik dan inframerah (IR) untuk melacak jet tempur AS. Teknologi ini memberikan keuntungan besar karena tidak memancarkan sinyal radar, sehingga sulit dideteksi oleh sistem pengintai lawan.
Dengan pendekatan ini, Iran mampu menghadapi ancaman udara tanpa mengandalkan teknologi radar yang lebih rentan terhadap deteksi. Ini menunjukkan bahwa Iran telah mengembangkan strategi pertahanan udara yang inovatif dan efektif.






