Angga Yunanda kembali menunjukkan kehadirannya di dunia perfilman Indonesia. Pada April 2026, ia akan hadir dalam film terbarunya yang berjudul Para Perasuk. Film ini menjadi tantangan baru bagi Angga dalam memperdalam perannya. Salah satu adegan utama bahkan mengharuskannya mengecat seluruh tubuhnya menjadi seperti manusia silver.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu momen paling berkesan selama proses syuting. Angga pun berbagi cerita tentang bagaimana ia mengalami transformasi fisik tersebut. Ia menjelaskan bahwa penggunaan cat tidak menyebabkan rasa sakit, meskipun teksturnya cukup tebal dan sulit untuk mencapai hasil yang sempurna.
“Untungnya tidak sakit catnya, cuma emang tebel banget gitu karena emang lumayan susah mungkin ya untuk bisa achieve sesilver itu,” ujarnya saat berada di kawasan Casablanca, Jakarta Selatan pada Senin (30/3/2026).
Menurut Angga, tampilan di kamera film berbeda dengan yang terlihat secara langsung. Hal ini membuat proses make-up harus dilakukan dengan sangat detail. Ia menjelaskan bahwa setiap bagian dari tubuh harus diperhatikan agar terlihat sempurna di layar.
“Apalagi kamera film kan beda gitu ya jadi apa yang kelihatan di aslinya belum tentu sama seperti yang di kamera film. Jadi bener-bener harus di-touch up yang luar biasa sampai ke sela-sela terkecil gitu,” katanya.
Meski terlihat rumit saat diaplikasikan, ternyata proses paling sulit justru terjadi setelah syuting selesai. Angga mengaku kesulitan saat harus membersihkan cat dari tubuhnya. Ia menyebutkan bahwa membersihkan cat adalah hal yang paling melelahkan.
“Jadi yang paling susah sebenarnya bukan apply dan syutingnya gitu, ngelepasnya catnya. Membersihkannya itu susah sekali,” ungkapnya.
Untuk membersihkan cat tersebut, pria berusia 25 tahun ini menggunakan bahan tertentu. Ia mengingat bahwa proses itu dilakukan dengan bantuan baby oil. Menurutnya, penggunaan bahan tersebut cukup efektif namun memakan waktu cukup lama.
“Kayaknya iya pakai baby oil seingat aku sih itu, lumayan lama sih. Lama untuk ngelepasnya sama lama untuk memakainya,” ucapnya.
Selain itu, waktu yang dibutuhkan untuk mengecat tubuhnya juga tidak sebentar. Bahkan, ia harus melalui proses poles berulang agar hasilnya maksimal. Angga mengatakan bahwa proses tersebut memakan waktu sekitar satu jam.
“Kayaknya ya sejam lah ada dipoles-poles sampai semuanya terus pulang dalam kondisi silver gitu, pulang masih silver,” lanjutnya.
Pengalaman tersebut ternyata memberikan perspektif baru bagi pria kelahiran Lombok ini. Ia menjadi lebih memahami kehidupan para manusia silver yang sering ditemui di jalanan. Angga mengaku kini memiliki empati yang lebih besar terhadap mereka.
Pengalaman merasakan langsung prosesnya membuatnya lebih menghargai perjuangan orang lain. “Pandangannya pasti gitu sangat berbeda dan aku merasakan bagaimana susahnya untuk mencari uang gitu ya dan bagaimana cara mereka untuk bisa melakukan segala cara untuk bisa bertahan hidup,” tuturnya.
Pengalaman itu juga memberikan pelajaran berharga dalam hidupnya. Ia menjadi lebih menghargai setiap pekerjaan yang dilakukan orang demi bertahan hidup. “Dan aku ngerasa jadi semakin bersimpati sama apapun pekerjaan yang sedang kita lakukan untuk kita bisa bertahan hidup demi diri sendiri dan keluarga,” pungkasnya.






