Tekanan Pasar Global Dorong Teknologi Kuatkan ESG dan Keberlanjutan

Peran ESG dalam Meningkatkan Daya Saing Perusahaan Teknologi

Penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) semakin menjadi faktor penting dalam menentukan daya saing perusahaan teknologi. Dengan meningkatnya tuntutan transparansi dan keberlanjutan dari pelanggan global, ESG kini tidak lagi hanya sekadar komitmen etis, tetapi menjadi bagian dari strategi bisnis dan manajemen risiko.

Di tengah ketidakpastian ekonomi dan pengetatan standar rantai pasok internasional, banyak perusahaan teknologi yang beroperasi di pasar B2B, terutama yang melayani sektor perbankan, industri, dan pemerintahan, menghadapi tekanan untuk memastikan operasionalnya selaras dengan standar keberlanjutan global. Penilaian pihak ketiga pun semakin digunakan sebagai tolok ukur kesiapan tata kelola perusahaan.

Salah satu contoh yang mencerminkan tren ini adalah Global Infotech Solution (GIS), sebuah perusahaan sistem integrator yang beroperasi di Indonesia. Pada 2026, GIS kembali menjalani penilaian keberlanjutan oleh lembaga evaluasi internasional EcoVadis, yang menilai aspek lingkungan, ketenagakerjaan dan hak asasi manusia, etika, serta pengadaan berkelanjutan.

Keberlanjutan penilaian ini diklaim menunjukkan upaya perusahaan untuk menjaga konsistensi tata kelola di tengah dinamika industri teknologi yang semakin kompetitif. Managing Director GIS, Amon Fernandes, menyebut bahwa ESG kini memiliki implikasi langsung terhadap keberlangsungan bisnis. “ESG bukan lagi pembeda, melainkan prasyarat agar perusahaan bisa tetap relevan dan dipercaya, terutama dalam industri teknologi yang sangat terhubung dengan pasar global,” ujar dia.

ESG dan Efisiensi Operasional

Dari perspektif ekonomi, integrasi ESG semakin dipandang sebagai instrumen untuk meningkatkan efisiensi dan ketahanan operasional. Sepanjang 2025 hingga awal 2026, GIS mengimplementasikan berbagai kebijakan internal yang diarahkan pada optimalisasi penggunaan energi, digitalisasi proses kerja untuk mengurangi konsumsi kertas, serta peningkatan standar keselamatan dan kesejahteraan karyawan.

Langkah-langkah tersebut sejalan dengan kecenderungan perusahaan teknologi yang mulai menempatkan ESG sebagai bagian dari pengendalian biaya jangka panjang, bukan sekadar aktivitas kepatuhan. Efisiensi energi, pengelolaan limbah, serta rantai pasok yang bertanggung jawab dinilai dapat menekan risiko operasional sekaligus meningkatkan kepercayaan mitra bisnis.

Dalam konteks ketenagakerjaan, penerapan prinsip Diversity, Equity, and Inclusion (DEI) serta peningkatan standar keselamatan kerja menjadi bagian dari upaya menjaga produktivitas sumber daya manusia di tengah persaingan talenta digital yang semakin ketat.

Tekanan ESG juga berdampak pada hubungan perusahaan dengan pemasok dan mitra. GIS, misalnya, mulai mendorong keterlibatan pemasok yang menerapkan prinsip pengadaan berkelanjutan. Pendekatan ini mencerminkan perubahan lanskap bisnis, di mana perusahaan tidak hanya dinilai dari kinerja internal, tetapi juga dari praktik keberlanjutan seluruh rantai pasoknya.

Inisiatif Sosial dan Lingkungan

Selain aspek operasional, GIS melanjutkan sejumlah inisiatif sosial dan lingkungan. Beberapa di antaranya meliputi pengelolaan dan daur ulang limbah operasional, pelestarian lingkungan melalui penanaman mangrove, serta program pendidikan di bidang teknologi informatika.

Inisiatif-inisiatif ini diposisikan sebagai bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam membangun ekosistem bisnis yang berkelanjutan. Dengan demikian, GIS tidak hanya fokus pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga pada kontribusi positif terhadap masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Pos terkait