Kontroversi Kepulangan Lionel Messi: Xavi Hernandez Ungkap Peran Joan Laporta
Kisah kepulangan Lionel Messi ke Barcelona yang batal terwujud terus menjadi sorotan publik. Terbaru, mantan pelatih Barcelona, Xavi Hernandez, mengungkap fakta mengejutkan yang menyoroti peran presiden klub, Joan Laporta, dalam kegagalan kepulangan sang megabintang. Pernyataan Xavi ini membuka tabir di balik keretakan hubungan antara Messi dan Laporta, yang telah menjadi perbincangan hangat sejak Messi meninggalkan Camp Nou pada tahun 2021.
Pada tahun 2021, kepergian Messi dari Barcelona menjadi pukulan telak bagi para penggemar. Keputusan tersebut diambil karena kontraknya tidak dapat diperpanjang, dengan alasan utama adalah besarnya gaji yang diterima Messi yang dinilai mengancam kondisi finansial klub berjuluk Blaugrana tersebut. Joan Laporta sendiri mengakui hal ini dalam sebuah kesempatan, menyatakan bahwa klub tidak ingin menandatangani kesepakatan CVC demi mendaftarkan Messi.
“Kami tidak ingin menandatangani CVC agar dapat mendaftarkannya karena kami menganggap hal itu merugikan klub,” ujar Laporta, menekankan prinsip bahwa Barcelona lebih tinggi dari pemain, direktur, atau presidennya. “Barca berada di atas pemain, direktur, atau presiden, dan kami tidak bisa melakukannya. Itulah yang membuat saya paling sedih sebagai presiden,” tambahnya.
Setelah meninggalkan Barcelona, Messi bergabung dengan Paris Saint-Germain (PSG) secara gratis dan kemudian berstatus bebas transfer pada musim panas 2023. Momen inilah yang seharusnya membuka peluang bagi Messi untuk kembali ke klub masa kecilnya. Namun, menurut Xavi, kepulangan itu digagalkan oleh Laporta.
Kronologi Pembatalan Kepulangan Messi Versi Xavi
Xavi Hernandez menceritakan bahwa Lionel Messi telah menyatakan keinginannya untuk kembali ke Barcelona setelah berhasil menjuarai Piala Dunia 2022. Menurut mantan pelatih berusia 46 tahun itu, segala persiapan telah berjalan lancar. Baik pihak Messi, pihak klub, maupun La Liga (Liga Spanyol) telah memberikan lampu hijau.
“Pada Januari 2023, setelah memenangkan Piala Dunia, kami saling menghubungi, dan dia (Messi) mengatakan kepada saya bahwa dia ingin kembali,” ungkap Xavi. Ia melanjutkan, “Kami berbicara hingga Maret, dan saya mengatakan kepadanya, ‘Oke, ketika kamu memberi saya persetujuan, saya akan memberi tahu presiden (Laporta)’.”
Proses negosiasi kontrak antara Messi dan Barcelona berjalan mulus. Xavi mengklaim bahwa persetujuan dari La Liga juga telah didapatkan. “Presiden mulai menegosiasikan kontrak dengan ayah Leo dan kami mendapat lampu hijau dari LaLiga, tetapi presidenlah yang membatalkan semuanya.”
Alasan Laporta Menolak Kepulangan Messi
Fakta mengejutkan terungkap ketika Xavi membeberkan alasan sebenarnya di balik penolakan Laporta. Joan Laporta diduga tidak mengizinkan Messi kembali ke Camp Nou karena kekhawatiran akan munculnya “perang gaji” di ruang ganti pemain.
“Laporta mengatakan kepada saya secara terang-terangan bahwa jika Leo kembali, akan terjadi perang gaji dan dia tidak bisa membiarkannya,” jelas Xavi. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kekhawatiran Laporta bukan semata-mata terkait finansial klub secara umum, melainkan lebih spesifik pada potensi konflik internal antar pemain jika Messi kembali dengan gaji yang besar.
Akibatnya, Messi pun merasa kecewa dan akhirnya menghentikan komunikasi. “Lalu tiba-tiba Leo berhenti menjawab panggilan saya karena dia diberi tahu dari pihak lain bahwa hal itu (kembali ke Barcelona) tidak mungkin dilakukan,” pungkas Xavi.
Pindah ke Inter Miami: Pilihan Finansial yang Menguntungkan
Setelah kegagalan kepulangan ke Barcelona, Lionel Messi mengambil keputusan untuk melanjutkan kariernya di Major League Soccer (MLS) bersama Inter Miami. Kepindahan ke Amerika Serikat ini ternyata memberikan keuntungan tersendiri bagi Messi, terutama dari sisi finansial.
Pemilik Inter Miami, Jorge Mas, mengungkapkan bahwa klubnya mengeluarkan dana yang sangat besar untuk gaji Messi. Per tahunnya, Messi dilaporkan menerima bayaran antara 60 hingga 70 juta euro, yang setara dengan sekitar Rp1,2 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun telah memasuki usia yang mendekati kepala empat, Messi tetap menjadi aset yang sangat berharga di dunia sepak bola, baik dari segi performa maupun nilai komersialnya.
Kontroversi ini kembali mengingatkan publik akan kompleksitas dalam manajemen klub sepak bola besar, di mana keputusan strategis seringkali melibatkan pertimbangan finansial, politik internal, dan tentu saja, aspirasi para pemain bintang. Kisah Messi dan Barcelona seolah menjadi pengingat bahwa dalam sepak bola, terkadang impian tidak selalu dapat terwujud, meskipun semua pihak telah berusaha keras.






