Longsor di TPST Bantargebang: Zona 4 Ditutup Sementara, Upaya Evakuasi dan Pencarian Korban Berlangsung Intensif
Peristiwa tragis melanda Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Kota Bekasi pada Minggu, 8 Maret 2026. Longsor yang terjadi di Zona 4 TPST Bantargebang memaksa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menutup sementara area tersebut. Penutupan ini diberlakukan guna memberikan ruang penuh bagi proses evakuasi korban dan investigasi mendalam terkait penyebab insiden.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (Kadis LH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menjelaskan bahwa rata-rata volume sampah yang masuk ke TPST Bantargebang setiap harinya mencapai 7.300 hingga 7.500 ton, diangkut oleh sekitar 1.200 rit truk. Angka yang sangat besar ini menjadi perhatian utama dalam upaya mengelola dampak longsor dan menghindari penumpukan sampah di Jakarta.
Mencari Alternatif Titik Buang dan Memaksimalkan Fasilitas RDF
Menghadapi situasi darurat ini, Pemprov DKI Jakarta secara proaktif mencari solusi alternatif. Salah satu langkah penting adalah mengupayakan pencarian titik pembuangan sampah di zona-zona lain yang masih aman di TPST Bantargebang. Tujuannya adalah untuk mencegah penumpukan sampah yang berpotensi memperburuk masalah di ibukota.
Selain itu, optimasi operasional fasilitas pengelolaan sampah berbasis Refuse Derived Fuel (RDF) di Rorotan, Jakarta Utara, menjadi prioritas. Fasilitas ini diharapkan dapat segera beroperasi secara penuh untuk membantu mengurangi beban TPST Bantargebang, meskipun kapasitasnya saat ini belum mencapai maksimal. “Kami berharap fasilitas RDF di Rorotan bisa segera beroperasi besok untuk sedikit mengurangi beban, meskipun kapasitasnya belum maksimal,” ujar Asep Kuswanto.
Aktivasi Operasi Tanggap Darurat oleh DLH DKI Jakarta
Menyikapi insiden longsor di TPST Bantargebang, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta bergerak cepat dengan mengaktifkan Operasi Tanggap Darurat. Tindakan terkoordinasi ini dirancang untuk memastikan keselamatan seluruh petugas di lapangan, penanganan para korban, serta stabilisasi area yang terdampak. Pemulihan layanan pengelolaan sampah menjadi tujuan utama setelah situasi terkendali.
Sejak laporan kejadian diterima, DLH DKI Jakarta langsung mengerahkan tim ahli dan mengoordinasikan upaya penanganan bersama berbagai instansi terkait. Kolaborasi lintas sektoral ini melibatkan unsur-unsur penting seperti Yon Armed 7/155 GS Kodam Jaya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, BPBD Kota Bekasi, Dinas Pemadam Kebakaran Kota Bekasi, Polsek Bantargebang, dan Koramil 05/Bantargebang. Kepala DLH DKI Jakarta, Asep Kuswanto, memimpin langsung jalannya operasi tanggap darurat di lokasi kejadian.
“Begitu kejadian dilaporkan, kami langsung mengaktifkan operasi tanggap darurat. Prioritas utama adalah keselamatan petugas, penanganan korban, serta percepatan evakuasi kendaraan yang tertimbun longsoran,” tegas Asep Kuswanto dalam sebuah pernyataan.

Empat Korban Meninggal Dunia, Pencarian Korban Lain Terus Dilakukan
Tragedi longsor sampah di TPST Bantargebang ini menelan korban jiwa. Kepala Kantor SAR Jakarta, Desiana Kartika Bahari, mengkonfirmasi bahwa sebanyak empat orang ditemukan meninggal dunia akibat tertimbun longsoran. Keempat korban yang teridentifikasi adalah Enda Widayanti (25), Sumine (60 tahun), Dedi Sutrisno, dan Irwan Suprihatin (42).
“Ada dua orang selamat dan empat orang ditemukan meninggal dunia,” ungkap Desiana pada Minggu malam.
Hingga berita ini diturunkan, tim SAR gabungan masih terus melakukan upaya pencarian terhadap korban-korban lain yang diduga masih tertimbun di bawah timbunan sampah. Operasi pencarian ini menjadi fokus utama setelah penutupan sementara Zona 4.

Peristiwa ini menimbulkan keprihatinan mendalam dan menyoroti pentingnya manajemen risiko yang lebih baik di area pengelolaan sampah skala besar. Berbagai laporan terkait insiden ini, termasuk jumlah korban tewas yang bertambah dan kronologi awal, terus diperbarui seiring dengan perkembangan situasi di lapangan.






