Lonjakan Kasus Campak Mengkhawatirkan, Jabar dan Sejumlah Provinsi Lainnya Siaga
Data terbaru dari Kementerian Kesehatan hingga minggu ke-8 tahun 2026 menunjukkan angka yang mengkhawatirkan terkait kasus campak di Indonesia. Tercatat sebanyak 10.453 suspek campak, dengan 8.372 kasus terkonfirmasi dan sayangnya, 6 kasus kematian. Situasi ini diperparah dengan munculnya 45 Kejadian Luar Biasa (KLB) campak yang tersebar di 29 kabupaten/kota di 11 provinsi. Jawa Barat menjadi salah satu provinsi yang terdampak signifikan.
Selain Jawa Barat, KLB campak juga dilaporkan terjadi di berbagai wilayah lain, meliputi Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Banten, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah. Kondisi ini menuntut perhatian serius dan tindakan cepat dari seluruh pihak terkait.
Respons Cepat Dinas Kesehatan Jawa Barat
Menanggapi lonjakan kasus dan penetapan KLB campak, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat melalui Kepala Dinas Kesehatan, dr. Vini Adiani Dewi, telah mengambil langkah-langkah strategis. Tindak lanjut utama yang dilakukan adalah pendampingan intensif untuk wilayah-wilayah yang telah memenuhi kriteria Definisi Operasional KLB. Pendampingan ini diwujudkan melalui pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) campak.
“Yang sudah melaksanakan ORI itu Kabupaten Bogor, Kota Cirebon dan Kabupaten Garut,” ujar dr. Vini pada Selasa, 10 Maret 2026. Langkah proaktif ini diharapkan dapat menekan laju penularan dan melindungi masyarakat dari ancaman campak.
Selain pelaksanaan ORI, Dinas Kesehatan Jabar juga menggelar pertemuan penguatan surveilans dan imunisasi pada 5 Maret 2026. Pertemuan ini melibatkan perwakilan kabupaten dan kota se-Jawa Barat untuk menyelaraskan strategi dan meningkatkan kewaspadaan.
“Kami juga melakukan pemantauan dari sistem kewaspadaan dini kemudian kami konfirmasi ke kabupaten/kota setiap minggunya, bila ada kasus suspek atau konfirmasi kami feedback ke kabupaten/kota yang bersangkutan,” tutur dr. Vini. Mekanisme pemantauan yang ketat ini memungkinkan identifikasi dini dan respons cepat terhadap potensi penyebaran.
Dinas Kesehatan Jabar juga berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat melalui berbagai media edukasi. Kolaborasi dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jabar turut digalakkan melalui penyelenggaraan webinar yang membahas kewaspadaan terhadap campak.
Salah satu program unggulan yang sedang digencarkan adalah pelaksanaan imunisasi kejar MR (Measles-Rubella) atau catch-up campaign. Program ini dilaksanakan secara serentak di 8 kabupaten/kota prioritas yang meliputi Kabupaten Bogor, Kabupaten Subang, Kota Bekasi, Kota Bandung, Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, Kota Bogor, dan Kota Depok.
Pentingnya Vaksinasi dan Risiko Penolakan
Dr. Vini kembali menekankan bahwa penyebab utama munculnya kasus campak adalah adanya penolakan imunisasi di sebagian masyarakat. Ia menegaskan kembali betapa pentingnya vaksinasi, mengingat campak merupakan virus yang sangat menular. Tanpa imunisasi, campak dapat menimbulkan komplikasi serius seperti radang otak, kebutaan, radang paru-paru, hingga malnutrisi berat.
Kewaspadaan di Kota Cimahi dan Tren Nasional
Di tingkat kota, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cimahi juga menyerukan kewaspadaan terhadap potensi penularan campak. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Cimahi, dr. Dwihadi Isnalini, menyatakan bahwa kenaikan kasus campak pada anak di Indonesia menjadi perhatian serius yang membutuhkan keterlibatan semua pihak.
“Harus waspada akan potensi penularan dan melakukan upaya antisipasi dengan vaksinasi,” ujar dr. Dwihadi pada Senin, 9 Maret 2026.
Data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengindikasikan bahwa Indonesia saat ini menduduki peringkat kedua di dunia dalam hal KLB campak. Lonjakan kasus yang signifikan tercatat sepanjang tahun 2025 hingga awal tahun 2026.
Dinkes Kota Cimahi sendiri mencatat peningkatan kasus campak yang cukup drastis pada periode Maret 2026 dibandingkan tahun sebelumnya. “Berdasarkan data ada peningkatan kasus sampai bulan Maret ini dibandingkan tahun sebelumnya. Sampai pekan ke-9 tahun 2025 ada 1 kasus, sedangkan 2026 sudah ada 11 kasus yang positif campak. Semuanya anak-anak,” ungkap dr. Dwihadi.
Memahami Penularan dan Faktor Risiko Campak
Campak disebabkan oleh infeksi virus dari keluarga Paramyxoviridae, khususnya genus Morbillivirus, yang dikenal sangat menular. Penularan virus ini sangat mudah terjadi melalui percikan ludah (droplet) ketika penderita batuk atau bersin, kontak langsung, atau bahkan menghirup udara di ruangan tertutup yang telah terkontaminasi virus.
Faktor risiko utama terpapar campak adalah pada individu yang belum mendapatkan vaksinasi. “Salah satu faktor risiko utama terpapar campak yaitu pada anak-anak atau orang dewasa yang belum mendapatkan vaksin campak atau vaksin Measles, Mumps, Rubella (MMR),” jelas dr. Dwihadi.
Selain itu, sistem kekebalan tubuh yang lemah juga menjadi pemicu seseorang lebih rentan tertular campak. “Sistem imun lemah disebabkan kekurangan vitamin A atau kondisi kesehatan tertentu yang menurunkan daya tahan tubuh memudahkan penularan campak,” tambahnya.
Faktor lain yang turut memengaruhi penyebaran adalah mobilitas tinggi masyarakat, terutama di wilayah dengan cakupan imunisasi yang rendah. Perjalanan ke daerah dengan cakupan imunisasi rendah dapat meningkatkan risiko terpapar karena di kawasan tersebut kekebalan kelompok (herd immunity) belum terbentuk secara optimal.
Masa inkubasi virus campak, yaitu rentang waktu dari mulai terpapar hingga muncul gejala, berkisar antara 7 hingga 14 hari.
Meskipun demikian, dr. Dwihadi menginformasikan bahwa cakupan imunisasi MR dosis pertama (MR1) di Kota Cimahi telah melampaui target yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Cakupan imunisasi yang tinggi ini sangat krusial dalam membentuk kekebalan tubuh individu dan pada akhirnya membangun herd immunity. “Target Provinsi Jabar 95%, di Kota Cimahi cakupan MR1 tercapai 98,5%,” ujarnya.
Namun, diakui masih terdapat anak-anak yang belum menerima vaksinasi dasar lengkap. Ditambah lagi, posisi Kota Cimahi yang berada di kawasan Bandung Raya turut memfasilitasi transmisi penyebaran campak karena tingginya mobilitas antarwilayah.






