Xavi: Laporta Halangi Kepulangan Messi, La Liga Setuju

Gagalnya Kepulangan Messi ke Barcelona: Pengakuan Mengejutkan dari Xavi

Klub sepak bola legendaris Barcelona kembali menjadi sorotan publik, bukan karena performa di lapangan, melainkan karena pengakuan mengejutkan dari mantan pelatih kepala mereka, Xavi Hernández. Dalam sebuah wawancara yang mendalam, Xavi membongkar alasan di balik kegagalan kepulangan Lionel Messi ke Camp Nou, sebuah saga yang telah lama menjadi spekulasi di kalangan penggemar.

Xavi, yang menjabat sebagai pelatih kepala Barcelona hingga Mei 2024, mengungkapkan bahwa kesepakatan untuk membawa kembali megabintang Argentina itu hampir terwujud pada awal tahun 2023. Menurut Xavi, Messi sendiri sangat antusias untuk kembali ke klub yang membesarkannya, terutama setelah meraih gelar Piala Dunia bersama Argentina di Qatar. Bahkan, Xavi sempat menggambarkan momen tersebut sebagai “tarian terakhir seperti Jordan” kepada ayah Messi, Jorge. Namun, pada akhirnya, kepulangan impian ini harus pupus, dan Messi memilih untuk bergabung dengan klub MLS, Inter Miami, setelah kontraknya bersama Paris Saint-Germain berakhir.

Rencana Kepulangan yang Terganjal Politik Internal

Dalam pengakuannya, Xavi secara gamblang menyatakan bahwa kegagalan kesepakatan tersebut tidak lepas dari peran Presiden Barcelona, Joan Laporta. Xavi mengklaim bahwa pada Januari 2023, setelah Messi memenangkan Piala Dunia, ia telah menghubungi sang pemain. Messi menunjukkan antusiasme tinggi untuk kembali, dan percakapan intensif berlangsung hingga Maret.

“Leo sudah ditandatangani. Pada Januari 2023, setelah memenangkan Piala Dunia, kami menghubungi dia, dan dia mengatakan kepada saya bahwa dia bersemangat untuk kembali, dan saya melihatnya,” ungkap Xavi. “Kami berbicara hingga Maret, dan saya mengatakan kepadanya, ‘Oke, ketika kamu memberi saya lampu hijau, saya akan memberitahu presiden karena saya melihatnya sebagai langkah yang baik dari perspektif sepak bola.'”

Namun, menurut Xavi, proses negosiasi yang sudah hampir mencapai kata sepakat justru digagalkan oleh presiden klub. Xavi menuturkan bahwa Presiden Laporta secara pribadi menyampaikan kepadanya bahwa ia tidak bisa mengizinkan kepulangan Messi.

“Presiden juga tidak jujur di sana,” ujar Xavi. “Lalu apa yang terjadi? Presiden mulai bernegosiasi kontrak dengan ayah Leo, dan kami sudah mendapat persetujuan La Liga, tapi presidenlah yang menggagalkan semuanya. Apakah dia menjelaskan alasannya? Laporta mengatakan kepada saya, dan saya kutip, bahwa jika Leo kembali, dia akan berperang melawan dia dan tidak bisa mengizinkannya.”

Akibatnya, Messi, yang sebelumnya sudah memberikan lampu hijau, tiba-tiba berhenti merespons panggilan Xavi. Jorge Messi, ayah sang pemain, juga sempat kesulitan berkomunikasi dengan pihak klub. Xavi bersikeras bahwa ia dan timnya telah berkomunikasi dengan Messi selama lima bulan dan kepulangan tersebut sangat mungkin terjadi, baik dari segi sepak bola maupun finansial, bahkan jika harus bermain di stadion sementara, Montjuïc.

Kerusakan Hubungan dan Kebohongan yang Terungkap

Insiden yang mengecewakan ini ternyata berdampak besar pada hubungan antara Xavi dan Messi. Xavi, yang pernah menjadi rekan satu tim terdekat Messi di Barcelona, merasa hubungannya dengan sang bintang sempat merenggang. Messi, yang terpaksa meninggalkan Barcelona pada tahun 2021 karena kendala finansial klub, kembali merasakan kekecewaan mendalam saat upaya kepulangannya gagal.

“Apakah butuh waktu lama sebelum saya berbicara lagi dengan Messi? Ya, karena dia berpikir saya terlibat dalam skema tersebut,” aku Xavi. “Hal itu sangat mempengaruhi hubungan saya dengan Leo, tapi sekarang sudah baik lagi. Dia tahu sekarang, dia mengerti sekarang, tapi ada periode ketika saya tidak bisa berkomunikasi dengannya. Itu sayang, tapi itu karena mereka yang memegang kendali.”

Xavi menegaskan bahwa alasan kegagalan kepulangan Messi bukanlah karena permintaan uang dari Jorge Messi atau La Liga, melainkan murni karena keputusan Presiden Laporta.

“Leo Messi tidak akan kembali ke Barcelona hanya karena Laporta tidak menginginkannya. Bukan karena La Liga atau Jorge Messi meminta uang, itu semua bohong. Laporta yang mengatakan kepada timnya bahwa klub tidak mampu membayarnya,” tegas Xavi.

Saat ini, Joan Laporta tengah mencalonkan diri untuk ketiga kalinya sebagai presiden Barcelona, bersaing dengan calon lain seperti Victor Font dan Marc Ciria.

Merasa Dikhianati oleh Lingkaran Kekuasaan di Barcelona

Lebih lanjut, Xavi juga mengungkapkan rasa kekecewaannya terhadap Joan Laporta dan lingkaran dalamnya. Ia merasa telah disesatkan oleh presiden klub selama bulan-bulan terakhir masa jabatannya sebagai pelatih. Xavi menyoroti peran Alejandro Echevarría, penasihat presiden, yang ia yakini sebagai sosok yang sebenarnya memegang kendali operasional klub di balik layar.

“Dia berkata, dan saya kutip: ‘Xavi, saya tidak bisa membayangkan tim tanpa kamu, saya tidak bisa membayangkan Camp Nou baru tanpa kamu, saya tidak bisa membayangkan peringatan ke-125 klub tanpa kamu sebagai pelatih.’ Dan, karena saya masih memiliki motivasi dan melihat masa depan yang cerah untuk tim dengan generasi muda berbakat yang akan datang, saya merasa mampu,” kata Xavi, merujuk pada ucapan Laporta yang membuatnya bertahan.

Xavi merasa dikhianati karena akhirnya ia dipecat tanpa mendapatkan penjelasan yang sebenarnya. Ia menduga keputusan pemecatan tersebut dipengaruhi oleh Echevarría.

“Aku menandatangani kontrak dengan Barça berkat dia, tapi dia akhirnya mengecewakanku. Mengapa? Dia memecatku sebagai pelatih tanpa memberitahuku kebenarannya, dipengaruhi oleh seseorang yang menurutku berada di atas presiden, Alejandro Echevarría. Dengan kata lain, Alejandro lah yang memecatku sebagai pelatih. Begitulah cara Barça beroperasi, praktis dijalankan oleh Alejandro Echevarría.”

Pengakuan Xavi ini membuka tabir mengenai kompleksitas politik internal di Barcelona dan bagaimana hal tersebut dapat memengaruhi keputusan-keputusan krusial yang berdampak pada masa depan klub dan para pemainnya.

Pos terkait