Tips untuk Wisatawan Muslim yang Berkunjung ke Solo
Kota Solo, Jawa Tengah, dikenal sebagai kota budaya yang masih menjaga adat-istiadat leluhur hingga saat ini. Bagi wisatawan, terutama yang beragama Islam, penting untuk memperhatikan jenis makanan yang dikonsumsi agar tidak salah dalam memilih menu yang halal. Beberapa istilah kuliner di Solo bisa menyesatkan dan mengandung bahan non-halal, seperti daging anjing atau babi.
Berikut beberapa istilah kuliner non-halal yang sering ditemukan di Solo:
1. Saren
Saren adalah makanan yang dibuat dari darah hewan, biasanya sapi, ayam, atau babi. Darah tersebut dikukus hingga padat dan memiliki tekstur mirip dengan hati. Banyak orang yang salah mengira saren adalah hati karena warna dan bentuknya yang mirip. Namun, saren dari hati sapi lebih lembut teksturnya. Makanan ini masih tersedia di beberapa tempat di Kota Solo.
2. Sate Jamu
Sate jamu adalah olahan daging anjing yang cukup populer di Solo dan sekitarnya. Istilah “jamu” merujuk pada pengobatan atau obat, meski konon dipercaya bisa meningkatkan stamina. Namun, klaim ini belum didukung oleh bukti ilmiah. Sate jamu sulit ditemukan di daerah lain dan menjadi salah satu kuliner ekstrem di Solo.
3. B1 dan B2
Istilah B1 dan B2 digunakan untuk menunjukkan jenis daging yang digunakan dalam masakan. B1 merujuk pada daging anjing, sedangkan B2 merujuk pada daging babi. Kode ini umum ditemukan di beberapa restoran atau warung makan di Solo. Jika Anda melihat kode ini, sebaiknya hindari makanan tersebut jika Anda mencari menu halal.
4. Sate Guguk / Scooby Doo / Wedus Balap
Sate guguk, scooby doo, atau wedus balap merujuk pada olahan daging anjing. Nama-nama ini sering digunakan sebagai nama dagang agar menarik perhatian konsumen. Di kalangan masyarakat Solo, anjing juga sering disebut sebagai “wedus balap” karena kecepatannya yang cepat. Meskipun demikian, konsumsi daging anjing tidak dianjurkan karena tidak sesuai dengan prinsip kebersihan dan kesehatan.
5. Sengsu
Sengsu adalah istilah untuk tongseng anjing, yaitu masakan daging anjing yang dimasak seperti rica-rica. Ada mitos yang menyebutkan bahwa mengonsumsi sengsu dapat meningkatkan stamina. Namun, hal ini tidak didukung oleh penelitian ilmiah. Ahli kesehatan menekankan bahwa anjing bukanlah hewan yang layak dikonsumsi.
Tips untuk Wisatawan Muslim
Jika Anda berkunjung ke Solo dan pertama kali mendengar istilah-istilah di atas, sebaiknya menolak untuk mencoba makanan tersebut. Selalu perhatikan label atau keterangan pada menu makanan. Jika ragu, tanyakan langsung kepada pelayan atau pemilik warung. Dengan pengetahuan yang cukup, Anda bisa menikmati kuliner Solo tanpa khawatir tentang kehalalan makanan.







