Sejarah dan Perubahan Taman Musik Centrum
Taman Musik Centrum, yang dulu dikenal sebagai Taman Centrum atau Taman Pengki, pernah menjadi salah satu ruang publik yang tidak hanya hijau, tetapi juga penuh dengan irama musik. Taman ini sebelumnya menjadi pusat kehidupan musik kota Bandung, tempat di mana alunan gitar dan tepuk tangan penonton sering terdengar. Namun kini, suasana tersebut mulai menghilang, berganti dengan ketenangan yang justru membuat taman ini terasa lebih sepi.
Taman ini berada di Jalan Belitung, Sumurbandung, dan diresmikan pada 1 Maret 2014 oleh Arief Prasteya. Peresmian ini bukan hanya sekadar pembukaan ruang publik baru, tetapi juga menjadi simbol penghormatan terhadap korban tragedi konser band Beside di AACC tahun 2008. Instalasi gitar raksasa yang ada di taman ini memuat sebelas nama korban tragedi tersebut, memberikan makna mendalam bagi setiap pengunjung.
Hadirnya Taman Musik Centrum juga merupakan bagian dari visi besar Ridwan Kamil dalam merevitalisasi ratusan taman kota agar lebih fungsional dan inklusif. Pada masa jayanya, taman ini bukan hanya sekadar ruang hijau, tetapi juga menjadi “rumah” bagi para musisi indie, seniman jalanan, serta komunitas kreatif lintas bidang. Panggung kecil sering dipenuhi oleh penampilan musik independen, diskusi budaya, hingga pertunjukan seni. Taman ini juga dikenal ramah disabilitas dan menjadi ruang ekspresi yang terbuka bagi siapa saja.
Namun, waktu membawa perubahan. Setelah melalui renovasi, geliat musik yang dulu menjadi identitas utama taman ini justru meredup. Saat Aksara Jabar meninjau langsung pada Sabtu (04/04/2026), tidak tampak lagi keramaian konser atau persiapan panggung. Yang terlihat justru pelajar dan mahasiswa yang duduk santai di bawah pepohonan rindang, mengerjakan tugas atau sekadar berbincang.
Aktivitas yang tersisa pun mulai berubah. Berdasarkan pantauan dari media sosial resminya, agenda yang kini hadir lebih banyak diisi kegiatan seperti yoga, bersepeda, hingga diskusi komunitas—jauh dari nuansa musik yang dulu mendominasi.
“Udah lama nggak ada event musik,” ujar Kokom, pedagang lontong sayur yang sudah berjualan sejak taman ini pertama kali dibuka. Ia menjadi saksi bagaimana taman ini dulu hidup dengan alunan musik dan keramaian pengunjung.
Kini, Taman Musik Centrum masih berdiri sebagai ruang publik yang nyaman, namun kehilangan identitas yang dulu membuatnya istimewa. Pertanyaannya, apakah ini hanya jeda sementara—atau tanda bahwa panggung musik di ruang terbuka kota Bandung mulai kehilangan tempatnya?
Fungsi dan Peran Taman Musik Centrum
Taman Musik Centrum memiliki peran penting dalam mendorong partisipasi masyarakat dalam kehidupan budaya. Dulu, taman ini menjadi tempat berkumpul bagi musisi, seniman, dan komunitas kreatif. Aktivitas yang sering dilakukan antara lain:
- Pertunjukan musik independen yang menampilkan berbagai genre
- Diskusi budaya dan seni yang melibatkan kalangan akademisi dan praktisi
- Kegiatan seni rupa yang bisa dinikmati oleh semua kalangan
Selain itu, taman ini juga dirancang untuk menjadi ruang yang ramah disabilitas, sehingga semua pengunjung dapat menikmati fasilitas yang tersedia. Hal ini mencerminkan komitmen pemerintah daerah dalam menciptakan ruang publik yang inklusif dan menyenangkan bagi semua warga.
Perubahan dalam Aktivitas Taman
Setelah melalui beberapa tahap renovasi, aktivitas di Taman Musik Centrum mulai berubah. Beberapa perubahan yang terjadi antara lain:
- Penurunan frekuensi acara musik yang diadakan
- Perpindahan fokus ke kegiatan non-musik seperti yoga dan bersepeda
- Penurunan jumlah pengunjung yang datang untuk menikmati pertunjukan musik
Perubahan ini menunjukkan bahwa taman ini sedang mengalami transisi dari fungsi awalnya sebagai pusat musik ke arah yang lebih umum. Meskipun demikian, taman ini tetap menjadi tempat yang nyaman bagi masyarakat untuk bersantai dan beraktivitas.
Komentar dari Pengunjung
Banyak pengunjung yang merasa kehilangan nuansa musik yang dulu mengisi taman ini. Mereka berharap suatu saat nanti, taman ini bisa kembali menjadi tempat yang penuh dengan kehidupan musikal. Namun, sampai saat ini, aktivitas yang tersisa lebih cenderung tenang dan tidak begitu dinamis seperti dulu.






