Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa Indonesia telah berhasil mengalihkan sumber impor liquified petroleum gas (LPG) dari wilayah Timur Tengah ke sejumlah negara lain. Hal ini dilakukan sebagai respons terhadap ketegangan yang terjadi dalam konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel, yang telah berlangsung sejak akhir Februari lalu dan masih berlangsung hingga saat ini.
“Kami sudah melakukan pengalihan pasokan ke negara-negara seperti AS, Australia, dan beberapa negara lainnya,” ujar Bahlil saat ditemui di Kementerian ESDM, Senin (6/4).
Meskipun situasi geopolitik memicu perubahan dalam aliran pasokan, Menteri ESDM memastikan bahwa pasokan LPG di Indonesia tetap dalam kondisi aman dan stabil. Perang di kawasan Timur Tengah telah menyebabkan gangguan terhadap pasokan migas dari Teluk Persia ke pasar global. Oleh karena itu, pemerintah tidak hanya mengalihkan pasokan LPG, tetapi juga minyak mentah (crude oil) yang sebelumnya berasal dari Timur Tengah.
“Untuk crude oil, kami mengalihkannya ke negara-negara seperti Angola, Nigeria, dan beberapa negara di Afrika,” tambah Bahlil.
Bahlil juga mencatat bahwa pada tahun ini, Indonesia mengimpor sebanyak 7,8 juta ton LPG. Dari total impor tersebut, sebesar 70% berasal dari AS, sedangkan 30% berasal dari produksi Saudi Aramco.
Ketahanan Stok LPG Selama Ramadan dan Idulfitri
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) melaporkan bahwa rata-rata ketahanan stok LPG atau elpiji selama periode Ramadan dan Idulfitri tahun ini mencapai 11,6 hari, dengan rentang antara 10 hingga 13 hari.
Perhitungan ini dilakukan sejak tanggal 12 hingga 31 Maret 2026, atau selama 20 hari posko ESDM yang berlangsung selama bulan Ramadan dan Idulfitri 2026. Keputusan ini didasarkan pada Keputusan Menteri ESDM Nomor 116.K/HK.02/MEM.S/2026.
Anggota Komite BPH Migas Erika Retnowati menjelaskan bahwa rata-rata penyaluran LPG selama periode posko ini mencapai 34.206 metrik ton, meningkat sebesar 6,5% dibandingkan rerata normal. Puncak kenaikan terjadi pada 16 Maret 2026, yaitu sebesar 33.428 metrik ton, naik 4,1% dari rerata normal sebesar 32.111 metrik ton.
Ditjen Migas melakukan pemantauan secara berkala terhadap volume stok dan realisasi penyaluran LPG harian. Selain itu, mereka juga melakukan pengawasan lapangan untuk memastikan penyediaan dan pendistribusian LPG kepada penyalur serta sub penyalur LPG berjalan lancar.
Beberapa wilayah sempat mengalami isu kelangkaan LPG, namun situasi ini dapat segera ditangani dengan baik oleh pihak terkait.
Langkah Pemerintah dalam Memastikan Ketersediaan LPG
Pemerintah terus memantau situasi pasokan LPG secara intensif. Penyediaan LPG menjadi prioritas utama, terutama selama masa libur Lebaran yang biasanya mengalami peningkatan permintaan. Selain itu, pemerintah juga bekerja sama dengan para pemangku kepentingan untuk memastikan distribusi LPG merata dan tidak mengganggu masyarakat.
Adapun langkah-langkah yang diambil meliputi:
- Pemantauan rutin terhadap stok dan distribusi LPG.
- Koordinasi dengan pihak swasta dan pelaku usaha terkait.
- Penyediaan cadangan strategis untuk menghadapi fluktuasi permintaan.
Dengan langkah-langkah ini, pemerintah optimis bahwa pasokan LPG akan tetap stabil dan cukup untuk kebutuhan masyarakat, bahkan dalam situasi ketidakpastian global.






