Renungan Harian Katolik
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Salam damai dan sukacita bagi kita semua. Pekan Paskah ketiga mengajak kita untuk menyelami iman yang semakin tumbuh setelah kebangkitan Yesus: iman bukan hanya reaksi sesaat, tetapi keputusan untuk percaya.
Injil hari ini menunjukkan bahwa orang-orang mencari Yesus, namun mereka masih memusatkan perhatian pada tanda dan manfaat. Yesus mengarahkan mereka kepada inti dari iman: bukan sekadar mengejar hasil, melainkan percaya. Tema “Hendaklah kamu percaya” menjadi undangan yang menyejukkan dan sekaligus menantang.
Bacaan Perikop Kisah Para Rasul 6:8-15
Bacaan perikop ini menceritakan tentang Stefanus yang dikenal penuh rahmat dan karunia, sehingga ia bersaksi dengan berani. Namun kebenaran yang ia bawa justru membuat sebagian orang tergerak untuk menentang. Ia mengalami fitnah dan ancaman, tetapi tetap berdiri dalam iman.
Bacaan ini menunjukkan bahwa iman yang benar tidak selalu membuat nyaman; kadang iman mengundang salib kecil—dan Roh tetap menopang. Dalam situasi seperti ini, kita diingatkan bahwa iman adalah pilihan yang memerlukan keteguhan dan keberanian.
Injil Yohanes 6:22-29
Dalam Injil (Yoh 6:22-29), orang-orang mengejar Yesus setelah melihat tanda-tanda. Mereka bertanya apa yang harus mereka lakukan agar “pekerjaan Allah” dapat terjadi. Yesus menjawab inti yang mengejutkan: pekerjaan Allah adalah percaya kepada Dia yang telah diutus.
Artinya, iman bukan upaya untuk “membeli” rahmat, melainkan menerima Kristus sebagai sumber hidup. Poin refleksi kita adalah: apakah kita lebih sering mencari tanda atau mencari Kristus? Orang banyak itu terus mencari Yesus, tetapi sering kali mereka hanya tertarik pada hal-hal yang bisa mereka peroleh.
Refleksi Pribadi
Permenungan kita: saat kita berdoa, kita lebih sering menuntut kepastian/hasil, atau benar-benar datang kepada Yesus sendiri? Mintalah rahmat untuk mengarahkan hati dari “apa yang saya dapat” menuju “siapa yang saya percaya”.
“Menjadi percaya”: Untuk bisa menjadi percaya tidak selalu lahir dari situasi yang mudah tapi kadang justru lahir saat ditentang. Stefanus dicemari tuduhan, tetapi ia tetap setia. Permenungan kita: dalam situasi kita saat ini, ada bagian mana yang membuat kita canggung bersikap jujur/beriman?
Ajaklah Roh untuk memberi keteguhan. “Percaya kepada Kristus”: Itu berarti memberi ruang bagi-Nya memimpin cara hidup kita. Yesus menyebut percaya sebagai “pekerjaan Allah”. Permenungan kita: keputusan apa yang kita tunda karena takut/pertimbangan dunia? Hari ini, pilih satu langkah kecil untuk bertindak selaras dengan iman: jujur, setia, mengampuni, atau melayani.
Pesan untuk Kita
Pesan untuk kita, pertama, pekan Paskah ketiga ini mengajak kita kembali pada pusat iman: Hendaklah kamu percaya kepada Dia yang diutus Bapa. Kedua, percaya bukan berarti menutup mata terhadap masalah, melainkan menyerahkan hidup pada Tuhan yang memberi arti dan tujuan. Ketiga, seperti Stefanus bersaksi dengan berani, dan seperti Yesus menegaskan inti iman, kita dipanggil untuk menempuh jalan percaya—meski perjalanan belum sepenuhnya jelas.
Tuhan memberkati kita semua.






