Kebijakan MBG di Jember Diperiksa Pasca Insiden Keracunan Massal
Sebanyak 22 siswa dari tiga TK dan PAUD di Kecamatan Kaliwates, Jember, mengalami keracunan massal setelah menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran besar terhadap kualitas makanan yang disajikan oleh SPPG Kaliwates 3. Hasil uji laboratorium yang dirilis pada 2 Juni 2026 menunjukkan bahwa penyebab utama keracunan adalah kontaminasi bakteri Staphylococcus aureus pada dua jenis menu ayam suwir dalam program tersebut.
Penyebab Keracunan Terungkap
Bakteri Staphylococcus aureus ditemukan dalam dua hidangan ayam suwir bumbu kuning dan merah. Hal ini terungkap setelah Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat Surabaya melakukan pengujian mendalam terhadap empat jenis hidangan, yaitu nasi putih, ayam suwir bumbu kuning, ayam suwir bumbu merah, dan tahu kriuk. Dari hasil uji tersebut, hanya dua jenis ayam suwir yang terkontaminasi bakteri berbahaya tersebut.
Sementara itu, sampel nasi putih dan tahu kriuk tidak menunjukkan adanya kontaminasi. Dengan demikian, kedua makanan tersebut dianggap aman untuk dikonsumsi.
Awal Peristiwa Keracunan
Peristiwa ini bermula pada Rabu (20/5/2026), ketika 22 anak dari tiga TK dan PAUD di Kecamatan Kaliwates mengalami gejala keracunan setelah menyantap menu MBG dari SPPG Kaliwates 3. Gejala yang muncul meliputi lemas, mual, pusing, muntah, hingga diare akut yang memicu dehidrasi. Banyak korban harus segera dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.
Tanggapan dari Pihak Terkait
Ketua Satgas MBG Kabupaten Jember, Achmad Imam Fauzi, memberikan pernyataan resmi mengenai hasil pemeriksaan laboratorium. Menurutnya, bakteri Staphylococcus aureus yang ditemukan berasal dari cara pengolahan dan penyimpanan makanan yang tidak sesuai standar. Ia menjelaskan bahwa faktor utama yang menyebabkan kontaminasi adalah proses pengolahan, kebersihan personal, serta lingkungan kerja pengolah makanan.
Menurut data laboratorium, bakteri tersebut memang positif mengontaminasi olahan ayam. Meski secara alami Staphylococcus aureus dapat hidup di kulit dan hidung manusia tanpa menyebabkan gangguan kesehatan, bakteri ini bisa berbahaya jika masuk ke dalam tubuh melalui luka atau saat sistem imun menurun. Dampaknya bisa mencakup infeksi kulit ringan hingga infeksi aliran darah yang mematikan.
Fauzi juga mengonfirmasi bahwa sumber utama keracunan berasal dari makanan yang dikirim oleh SPPG Kaliwates 3. Meskipun ada dua jenis makanan yang terkontaminasi, hanya anak-anak yang mengonsumsi ayam suwir bumbu kuning yang mengalami keracunan. Ia menjelaskan bahwa hal ini tergantung pada jumlah kontaminasi yang terjadi.
Tindakan yang Diambil
Setelah kejadian tersebut, SPPG Kaliwates 3 masih dalam status suspend. Fauzi menegaskan bahwa Pemkab Jember merekomendasikan penutupan permanen terhadap SPPG tersebut. Selain itu, Pemkab Jember terus melakukan supervisi dan evaluasi terhadap seluruh SPPG di Kabupaten Jember. Sebanyak 209 SPPG se-Kabupaten Jember telah disupervisi oleh Tim gabungan sejak pekan lalu.
Reaksi dari Orang Tua
Seorang wali murid korban keracunan MBG di Kaliwates mengungkapkan rasa trauma akibat kejadian tersebut. Ia bahkan berharap agar program MBG dihentikan sementara waktu guna mencegah terulangnya insiden serupa.






