Banjir Langganan di Jalan Kudus-Purwodadi: Warga Terjebak, Solusi Saluran Air Dinanti
Jalan provinsi yang menghubungkan Kudus dan Purwodadi kembali menjadi saksi bisu keganasan banjir musiman. Genangan air setinggi 30 sentimeter kini merendam ruas jalan vital ini, membentang dari kawasan Proliman Tanjungkarang hingga Desa Jetiskapuan. Kondisi ini bukan hal baru bagi warga setempat, melainkan sebuah siklus tahunan yang tak kunjung usai setiap kali musim hujan tiba. Telah sepekan lamanya air menggenang, memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas sehari-hari dan menimbulkan kekhawatiran yang mendalam.
Warga yang melintasi jalur ini harus ekstra hati-hati. Tak sedikit pengendara motor yang terpaksa menuntun kendaraannya atau bahkan mengalami mogok mesin akibat nekat menerobos banjir. Taufik Hidayat (32), salah satu warga yang bernasib malang, menceritakan pengalamannya saat motor matic yang dikendarainya tiba-tiba mati mesin ketika mencoba melewati genangan air. Dalam perjalanan mengunjungi orang tuanya di Desa Wates, Kecamatan Undaan, Taufik harus menepi dan menurunkan istri serta anaknya yang masih balita. Setelah menunggu beberapa saat dan mencoba menyalakan kembali motornya dengan starter kaki, kendaraan itu hidup, namun keraguan untuk kembali menerobos banjir masih membayanginya.
“Saya tinggal di Ploso, Kecamatan Jati. Ini mau balik ke rumah orangtua di Desa Wates, Kecamatan Undaan, malah mogok motor saya,” keluh Taufik dengan nada prihatin saat ditemui di lokasi banjir. Ia menambahkan bahwa banjir yang terjadi di jalan provinsi ini seharusnya mendapatkan perhatian serius. Mengingat, jalur tersebut merupakan akses utama bagi warga di wilayah selatan Kudus, khususnya Kecamatan Undaan, untuk menuju pusat kota. “Untuk aktivitas sehari-hari pasti sangat terganggu. Hanya satu akses (jalan) ini, sangat menyulitkan kami sebagai warga Kudus,” tegasnya.
Banjir yang terjadi di Jalan Kudus-Purwodadi ini memang telah menjadi langganan setiap musim hujan. Keterlambatan surutnya air tidak hanya menghambat kelancaran lalu lintas, tetapi juga menjadi ancaman tersendiri bagi kendaraan bermotor. Pengendara harus memilih antara berputar arah mencari jalan lain yang mungkin lebih jauh, atau mengambil risiko menerobos genangan air yang berpotensi merusak kendaraan.
Harapan Pemerintah Daerah untuk Intervensi Provinsi
Menanggapi situasi yang terus berulang ini, Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, menyatakan bahwa banjir yang menggenangi Jalan Kudus-Purwodadi memerlukan solusi yang komprehensif. Ia secara tegas berharap Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) dapat segera turun tangan dan memberikan perhatian lebih. Mengingat, status jalan provinsi tersebut berada di bawah kewenangan Pemprov Jateng.
Bupati Sam’ani mengusulkan sebuah solusi konkret: pembangunan saluran air di sepanjang jalan tersebut. Saluran air ini nantinya diharapkan dapat berfungsi mengalirkan genangan air menuju sungai-sungai terdekat, seperti Sungai Bakinah dan Sungai Kencing. Dari kedua sungai tersebut, air akan diarahkan ke kolam retensi yang ada di Jati Wetan. Proses selanjutnya adalah penyedotan air dari kolam retensi untuk kemudian dialirkan menuju Sungai Wulan, sehingga mengurangi beban genangan di area jalan.
Menurut Bupati Sam’ani, sumber banjir yang menggenangi Jalan Kudus-Purwodadi ini berasal dari wilayah timur, khususnya Desa Gulang. Di wilayah tersebut, banjir juga terjadi akibat luapan dari sejumlah sungai, di antaranya Sungai Piji dan Sungai Dawe. Kedua sungai ini berhulu di lereng Gunung Muria. Aliran air dari lereng Muria seharusnya mengalir ke arah selatan, lalu berbelok ke barat dan timur. Aliran ke barat melalui Sungai Bakinah atau Kencing, sedangkan aliran ke timur melalui sungai yang tersambung hingga ke Juwana, Pati.
Namun, masalah utama yang menyebabkan genangan di Jalan Kudus-Purwodadi adalah terhambatnya aliran air ke arah timur. Hal ini disebabkan oleh tingginya debit air di sungai yang mengarah ke Pati. Ketika terjadi banjir di area tersebut, air tidak dapat mengalir lancar menuju Sungai Juwana. “Air yang seharusnya mengarah ke Juwana tersendat karena terjadi banjir,” jelas Bupati Sam’ani. Kondisi ini menciptakan efek domino, di mana genangan di wilayah hulu secara perlahan merambat dan menggenangi jalan provinsi yang menjadi urat nadi transportasi di wilayah tersebut.
Dampak Banjir dan Kebutuhan Solusi Jangka Panjang
Banjir yang terjadi tidak hanya menimbulkan ketidaknyamanan, tetapi juga kerugian ekonomi bagi warga. Selain biaya perbaikan kendaraan yang mogok, aktivitas jual beli dan mobilitas warga juga terganggu. Para petani yang mengandalkan akses jalan ini untuk mengangkut hasil panen mereka juga merasakan dampak negatifnya.
Pembangunan saluran air yang diusulkan oleh Bupati Kudus diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah banjir langganan ini. Kolaborasi antara pemerintah daerah dan pemerintah provinsi menjadi kunci utama dalam merealisasikan rencana tersebut. Dengan adanya saluran air yang memadai, diharapkan genangan air di Jalan Kudus-Purwodadi dapat diminimalisir secara signifikan, bahkan dihilangkan sama sekali.
Lebih dari sekadar perbaikan infrastruktur, dibutuhkan pula kajian mendalam mengenai sistem tata air di wilayah tersebut. Pengelolaan sumber daya air yang terpadu, mulai dari lereng Gunung Muria hingga muara sungai, menjadi krusial untuk mencegah bencana banjir yang berulang setiap tahunnya. Kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan sungai dan tidak membuang sampah sembarangan juga perlu ditingkatkan. Dengan sinergi dari berbagai pihak, diharapkan Jalan Kudus-Purwodadi dapat kembali berfungsi normal dan menjadi akses yang aman serta nyaman bagi seluruh pengguna jalan.






