Minat Investor Rendah Picu Gagal Lelang Proyek Jalan Tol Strategis
Minat investor terhadap proyek jalan tol strategis di Indonesia terus menunjukkan penurunan, yang berdampak pada kegagalan lelang berkali-kali. Hal ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah dalam mempercepat pembangunan infrastruktur yang bertujuan meningkatkan konektivitas nasional.
Penyebab Utama Kegagalan Lelang
Beberapa faktor utama yang menyebabkan minat investor rendah antara lain ketidakpastian pengembalian modal, biaya konstruksi yang tinggi, dan prediksi lalu lintas (trafik) yang tidak sesuai dengan harapan. Data dari dokumen progres proyek KPBU 2020-2025 menunjukkan tren kegagalan pada proyek-proyek besar yang telah dicanangkan.
Salah satu contohnya adalah Tol Gilimanuk-Mengwi sepanjang 96,84 kilometer. Proyek ini mengalami gagal lelang berulang kali hingga skemanya harus diubah menjadi solicited (prakarsa pemerintah). Nilai investasi sebesar Rp 25,4 triliun belum mampu menarik investor karena adanya tinjauan trase dan studi kelayakan yang masih berlangsung hingga akhir 2025.
Sementara itu, Tol Getaci yang dirancang sebagai tol terpanjang di Indonesia juga mengalami dua kali kegagalan lelang. Proyek ini memiliki nilai investasi mencapai Rp 56,2 triliun, namun minat investor tetap rendah.
Sikap Menteri PU
Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, mengakui bahwa pemerintah kini lebih realistis dalam memprioritaskan proyek infrastruktur berdasarkan ketersediaan anggaran dan potensi trafik. Ia menjelaskan bahwa jika suatu proyek tidak banyak diminati, biasanya disebabkan oleh trafik yang kurang.
“Biasanya kalau satu proyek yang kita tawarkan itu tidak banyak minatnya, ya biasanya karena trafiknya kurang. Kita harus pilih-pilih, apakah lebih baik kita chip in di Getaci atau kita percepat konstruksi bendungan untuk penanganan banjir yang lebih mendesak,” ujar Dody saat menjawab pertanyaan Kompas.com, Jumat (11/4/2026).
Untuk Tol Gilimanuk-Mengwi, Dody menegaskan bahwa proses kualifikasi ulang (pre-qualification) masih terus digodok. Pemerintah berupaya memastikan struktur pembiayaan lebih menarik bagi konsorsium agar proyek yang sempat mangkrak pasca-mundurnya investor awal ini dapat segera berjalan.
Beban Finansial BUJT
Kondisi serupa juga dialami oleh Badan Usaha Jalan Tol (BUJT). Asosiasi Tol Indonesia (ATI) menyoroti tekanan finansial yang dialami oleh banyak BUJT. Beban bunga pinjaman dan biaya pemeliharaan yang terus naik tidak sebanding dengan pertumbuhan pendapatan dari tarif tol.
Banyak ruas tol baru memiliki tingkat lalu lintas harian (LHR) yang jauh di bawah proyeksi awal. Kondisi ini membuat masa pengembalian modal (payback period) menjadi jauh lebih lama dari kontrak konsesi. ATI mencatat, jika pemerintah tidak memberikan jaminan atau dukungan konstruksi yang lebih besar, risiko kebangkrutan atau gagal bayar utang oleh BUJT akan semakin meningkat.
Daftar Proyek dalam Ketidakpastian
Berikut daftar lengkap proyek jalan tol yang nasibnya mengambang:
- Tol Gilimanuk-Mengwi
- Gagal lelang berkali-kali.
- Nilai Investasi: Rp 25,4 triliun.
- Skema proyek diubah menjadi Solicited pada 2024, namun kualifikasi ulang (pre-qualification) ditunda hingga 2025 karena adanya reviu trase dan studi kelayakan.
Hingga akhir 2025, belum ada investor yang terikat.
Tol Getaci
- Gagal lelang sebanyak 2 kali.
- Nilai investasi: Rp 56,2 triliun.
- Proyek ini merupakan calon tol terpanjang di Indonesia, tetapi investor enggan masuk.
Rencananya akan dilakukan lelang ulang pada tahun 2026.
Tol Sentul Selatan-Karawang Barat
- Gagal lelang atau sedang dalam tahap penawaran kembali pada 2025.
Proyek harus dilelang ulang karena minimnya minat dari investor.
Tol Gedebage-Tasikmalaya-Ciamis
- Gagal lelang.
- Proyek ini masuk dalam daftar lelang ulang karena minimnya minat investor.






