Perintah Trump Memblokade Selat Hormuz
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Minggu (12/4/2026), memerintahkan Angkatan Laut AS untuk memulai blokade di Selat Hormuz. Keputusan ini diambil setelah Iran menolak menghentikan ambisi nuklirnya dalam perundingan damai yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu (11/4/2026). Meskipun pembicaraan maraton disebut berjalan cukup baik dan sebagian besar poin telah disepakati, isu program nuklir tetap menjadi ganjalan utama.
Trump menyatakan bahwa blokade akan segera diberlakukan terhadap semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz. “Mulai sekarang, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang terbaik di dunia, akan memulai proses MEMBLOKADE setiap dan semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz,” tulis Trump di platform Truth Social. Ia juga mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran. “Setiap warga Iran yang menembaki kami atau kapal, akan DIHANCURKAN!” tegasnya.
Dampak Pada Harga BBM di Amerika
Kebijakan Trump memblokade Selat Hormuz bisa memukul Trump di Amerika. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mengeluarkan peringatan kepada warga Amerika Serikat (AS) untuk “menikmati” harga BBM saat ini. “Nikmati harga bensin saat ini,” tulisnya di X. Menurut Baqer, warga AS akan segera “merindukan” harga bahan bakar $4–$5 per galon seperti dikutip dari PressTV Iran.
Harga BBM di AS akan segera naik menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump memblokade Selat Hormuz, jalur pelayaran global untuk minyak dan gas, yang masih dikuasai Iran. Trump mengumumkan blokade tersebut setelah pembicaraan perdamaian tingkat tinggi di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan. Menurut American Automobile Association, harga rata-rata bensin reguler di AS saat ini berada di angka $4,125 per galon. Angka tersebut sudah naik lebih dari 40 persen dari level sebelum perang sebesar $2,98, dan para ahli memperingatkan harga bisa naik lebih tinggi lagi jika blokade Selat Hormuz dilakukan.
Kesiapan Putin Untuk Turun Tangan
Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan kesiapannya untuk membantu upaya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Pernyataan itu disampaikan langsung kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam percakapan telepon pada Minggu (12/4/2026). Kremlin mengungkapkan bahwa Putin menegaskan komitmen Rusia untuk berperan aktif dalam meredakan konflik. “Vladimir Putin menekankan kesiapannya untuk terus memfasilitasi penyelesaian politik dan diplomatik atas konflik, serta untuk memediasi upaya mencapai perdamaian yang adil dan berkelanjutan di Timur Tengah,” demikian pernyataan Kremlin.
Putin sebelumnya juga menyoroti pentingnya penghentian segera aksi militer dan mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi, bukan kekuatan bersenjata. Rusia bahkan disebut terus berkomunikasi dengan berbagai pihak, termasuk negara-negara Teluk, sebagai bagian dari upaya menurunkan eskalasi.
Dampak Ke Asia
Langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan militernya memblokade Selat Hormuz sebenarnya perintah konyol. Keputusan yang dimaksudkan untuk mencekik ekonomi Iran tersebut malah berisiko memperdalam krisis ekonomi yang terjadi di negara-negara sekutu AS di Asia yang sangat bergantung pada energi. Ancaman memburuknya ekonomi juga akan terjadi pada China, yang di perang kali ini menjadi sekutu Iran.
“Bagi ekonomi dan pasar global, perkembangan terbaru ini menggeser fokus kembali ke risiko penurunan, mengarah pada harga minyak yang lebih tinggi dan pukulan yang lebih besar terhadap pertumbuhan serta peningkatan inflasi,” tulis analis Bloomberg Economics, Jennifer Welch, dalam sebuah laporan dikutip Bloomberg. Harga minyak mentah Brent global melonjak hingga 8,6 persen pada 13 April menjadi di atas 103 dolar AS per barel, sementara harga gas berjangka Eropa melonjak hampir 18 persen pada satu titik.
Pasukan AS akan mulai menerapkan blokade, yang hanya berlaku untuk kapal yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan Iran, mulai pukul 10 pagi waktu New York (10 malam waktu Singapura) pada 13 April, kata Komando Pusat AS. Pengumuman Trump tentang rencana blokade tersebut disampaikan beberapa jam setelah Amerika Serikat dan Iran gagal mencapai kesepakatan dalam pembicaraan langsung di Pakistan.
Negara-negara Asia, termasuk sekutu AS seperti Jepang dan Korea Selatan, menggunakan lebih dari 80 persen energi yang biasanya melewati selat tersebut. Pemerintah di seluruh wilayah tersebut telah berupaya keras untuk mengatur pasokan minyak dan gas alternatif, mencoba mengurangi penggunaan energi dengan langkah-langkah seperti menyalakan AC pada suhu yang lebih hangat, dan menerapkan langkah-langkah untuk mengurangi dampak negatif bagi konsumen dan bisnis.
Kapal tanker yang terkait dengan Iran, serta kapal tanker lain dari negara-negara termasuk China, telah melintasi jalur air utama tersebut, pergerakan yang akan menjadi target blokade. Menjelang kunjungan Trump ke China pada pertengahan Mei, Beijing mungkin akan berupaya menekan Washington untuk mencabut blokade tersebut, dengan analis Bloomberg mengatakan bahwa mereka dapat memanfaatkan dominasi mereka atas mineral-mineral penting jika diperlukan.
Dalam laporan terpisah, Bloomberg Economics mengeksplorasi tiga skenario untuk perang dan ekonomi global. Dalam skenario dasar, konflik berlanjut dengan intensitas yang lebih rendah, dengan harga minyak rata-rata US$105 per barel pada kuartal kedua sebelum turun menjadi US$85 pada kuartal keempat. PDB global tumbuh 2,9 persen pada tahun 2026 dalam skenario tersebut, sementara inflasi mencapai 4,2 persen pada kuartal keempat.
Pertempuran dengan intensitas lebih tinggi, dengan Selat Hormuz sebagian besar tertutup selama beberapa bulan, akan menyebabkan harga minyak naik menjadi US$170. Pertumbuhan global melambat menjadi 2,2 persen dan inflasi berakhir tahun ini pada 5,4 persen dalam skenario tersebut. Gencatan senjata yang langgeng atau runtuhnya Iran dapat menyebabkan selat terbuka lebih cepat dan biaya minyak turun kembali ke tingkat sebelum perang, dengan pertumbuhan global sebesar 3,1 persen dan inflasi berakhir tahun ini pada 3,7 persen, tulis para analis.






