Banjir Bandang Terjang Donggala, Ratusan Rumah Terendam dan Akses Jalan Terputus
Donggala, Sulawesi Tengah – Bencana banjir bandang kembali melanda Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, memicu kepanikan warga dan menimbulkan kerugian materiil yang signifikan. Peristiwa alam ini, yang terjadi akibat curah hujan yang tinggi dan intens dalam beberapa waktu terakhir, telah merendam ratusan rumah warga serta mengganggu aktivitas transportasi di sejumlah wilayah vital.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah melaporkan bahwa dua kecamatan utama yang terdampak parah adalah Banawa dan Rio Pakava. Luapan air dari sungai-sungai yang meluap ke pemukiman warga menjadi penyebab utama terjadinya banjir bandang yang mengejutkan ini.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala BPBD Sulteng, Asbudianto, merinci area-area yang terdampak. Di Kecamatan Banawa Tengah, banjir merendam sedikitnya 10 rumah warga. Selain itu, akses Jalan Trans Sulawesi juga tergenang air, menghambat arus lalu lintas. Meski air dilaporkan telah surut, Asbudianto menekankan pentingnya normalisasi sungai segera dilakukan untuk mencegah terulangnya banjir di masa mendatang, terutama saat musim hujan kembali tiba.
“Untuk wilayah terdampak di Banawa Tengah, yakni 10 rumah warga dan jalan trans Sulawesi terendam banjir, saat ini air sudah surut, namun perlu dilakukan normalisasi sungai agar saat terjadi hujan tidak mengakibatkan banjir kembali,” jelas Asbudianto pada Senin, 12 Januari 2026.
Sementara itu, di Kecamatan Rio Pakava, dampak banjir juga tak kalah mengkhawatirkan. Banjir bandang menyebabkan jalan poros Desa Lalundu tergenang air, mengisolasi sebagian warga dan menyulitkan akses mobilitas.
“Kalau di Rio Pakava itu kebutuhan mendesaknya adalah perbaikan saluran drainase, terutama di jalan poros Desa Lalundu,” ujar Asbudianto, menyoroti kebutuhan mendesak untuk perbaikan infrastruktur drainase guna mengantisipasi genangan air di masa depan.
Lebih lanjut, data BPBD mencatat bahwa banjir tidak hanya terbatas pada dua kecamatan tersebut. Terdapat 11 desa lain yang juga diterjang banjir, memperluas cakupan area terdampak bencana. Desa-desa tersebut meliputi:
- Kecamatan Tanantovea:
- Desa Wani 1
- Desa Wani 2
- Desa Wani 3
- Desa Wani Lumbumpetigo
- Kecamatan Sindue:
- Desa Amal Dusun Maliko
- Desa Toaya
- Desa Kumbasa
- Desa Enu
- Desa Lero
- Desa Sumari
- Kecamatan Labuan:
- Desa Labuan Toposo Dusun Sisere
Respon Cepat Pemerintah Daerah
Menanggapi situasi darurat ini, Bupati Donggala, Vera Elena Laruni, segera mengambil langkah-langkah strategis. Ia telah memerintahkan BPBD setempat untuk menurunkan sejumlah alat berat guna membantu membersihkan sisa material banjir yang mengotori dan merusak wilayah terdampak.
Menurut Bupati Vera, BPBD Donggala telah bergerak sejak hari sebelumnya untuk melakukan pendataan kerusakan yang ditimbulkan oleh banjir. Pendataan ini mencakup kerusakan rumah warga, fasilitas umum, serta infrastruktur lainnya yang terkena dampak bencana.
“Hari ini saya bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait melakukan peninjauan ke lokasi banjir di Desa Wani, Kecamatan Tanantovea dan Sindue sekalian membawa bantuan kepada warga terdampak bencana banjir,” ungkap Bupati Vera saat melakukan peninjauan langsung ke lokasi bencana.
Selain melakukan peninjauan, Bupati Vera juga membawa bantuan langsung kepada warga yang terdampak bencana. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban para korban banjir yang kehilangan harta benda dan tempat tinggal.
Upaya Mitigasi dan Pemulihan
Peristiwa banjir bandang di Donggala ini kembali menjadi pengingat akan kerentanan wilayah tersebut terhadap bencana hidrometeorologi. Curah hujan ekstrem yang dipicu oleh perubahan iklim global menjadi salah satu faktor dominan yang memperparah kondisi.
Pemerintah daerah bersama BPBD terus berupaya melakukan mitigasi bencana, termasuk pemetaan wilayah rawan banjir, sosialisasi kepada masyarakat, serta pembangunan infrastruktur pengendali banjir seperti tanggul dan normalisasi sungai. Selain itu, upaya pemulihan pasca-bencana, seperti perbaikan rumah warga dan fasilitas umum, menjadi prioritas utama untuk mengembalikan kehidupan normal masyarakat yang terdampak.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan, terutama di musim penghujan. Kerjasama antara pemerintah dan masyarakat sangat dibutuhkan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan bencana agar dampak yang ditimbulkan dapat diminimalisir.





