PALANGKA RAYA, .CO
– Perubahan kepemimpinan terjadi di tubuh Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kalimantan Tengah. Habib Ismail bin Yahya secara resmi melepas jabatan Ketua DPW PKB Kalteng dan memberi ruang bagi Rahmanto untuk mengambil alih kepemimpinan partai.
Perubahan ini disebut sebagai bagian dari strategi regenerasi internal PKB Kalteng, sekaligus upaya mempersiapkan kader potensial agar estafet kepemimpinan berjalan lancar.
Habib Ismail menegaskan bahwa keputusannya mundur dari posisi Ketua Tanfidz dilakukan secara sadar demi memberi ruang kepada Rahmanto.
“Rahmanto adalah kader yang kami siapkan untuk memimpin PKB ke depan. Dia loyal terhadap partai dan terpilih sesuai dengan keinginan teman-teman,” ujar Habib Ismail, Minggu (25/1/26).
Ia mengakui bahwa langkah mundur tersebut menjadi kunci agar Rahmanto bersedia maju. “Jika saya tidak mundur, Rahmanto tidak mau mencalonkan diri. Itu alasan utama saya membuka jalan ini,” jelasnya.
Meski menyerahkan kepemimpinan eksekutif partai, Habib Ismail belum sepenuhnya meninggalkan peran politik. Atas permintaan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PKB dan Rahmanto, ia bersedia mengemban amanah sebagai Ketua Dewan Syuro.
“Saya sebenarnya ingin pensiun, menikmati masa tua, fokus ibadah, serta mengurus majelis taklim dan pesantren. Tapi karena masih diminta DPP dan Rahmanto, sementara ini saya iyakan dulu,” tuturnya.
Ia menyebut peran tersebut bersifat transisi untuk mendampingi kepengurusan baru hingga pelantikan rampung, sekaligus mempersiapkan figur pengganti ke depan.
Pelantikan pengurus DPW PKB se-Indonesia dijadwalkan berlangsung serentak di Jakarta pada 3 Februari mendatang.
“Pelantikan serentak tanggal 3 Februari di Jakarta, untuk Ketua dan Sekretaris Dewan Syuro, serta Ketua, Sekretaris, dan Bendahara Tanfidz,” jelasnya. Adapun pelantikan lengkap di tingkat daerah direncanakan sebelum Ramadan.
Terkait susunan pengurus harian, khususnya posisi bendahara, Habib Ismail menekankan pentingnya figur yang memahami akuntansi dan memiliki tingkat kepercayaan tinggi dari ketua.
“Bendahara itu jangan yang bersaing dengan ketua. Harus orang yang paham keluar masuk dana dan mengerti akuntansi, supaya tidak ada masalah ke depan,” pungkasnya.






