ASN Kota Surakarta Coba Program Kerja Jarak Jauh: Pengalaman, Tantangan, dan Adaptasi
Pemerintah Kota Surakarta mulai menguji coba program inovatif “Work from Anywhere” (WFA) bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungannya. Pelaksanaan perdana program ini dilakukan pada Rabu, 14 Januari 2026, menandai babak baru dalam fleksibilitas bekerja bagi para abdi negara. Meskipun baru tahap uji coba, pengalaman awal para ASN memberikan gambaran mengenai potensi dan tantangan yang dihadapi.
Pengalaman Awal dan Adaptasi Tempat Kerja
Pada hari pertama uji coba, para ASN dihadapkan pada realitas baru dalam menjalankan tugas mereka. Berbeda dengan rutinitas di kantor, kini mereka harus mencari dan menyiapkan sendiri tempat kerja yang representatif. Tim Kerja Kepegawaian dan Organisasi Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Surakarta, yang dipimpin oleh Ratna Susilowati, memilih lokasi kerja di Shelter Manahan dan Warung Combo.
Pemilihan lokasi ini bukan tanpa pertimbangan. Jarak yang relatif dekat dengan kediaman anggota tim menjadi faktor utama, memastikan efisiensi waktu tempuh. “Kami memilih titik lokasi di Shelter Manahan dan titik kedua di Warung Combo. Titik temunya di tengah-tengah. Meramaikan UMKM,” ungkap Ratna.
Namun, kenyamanan bekerja di luar kantor tidak selalu mulus. Suasana yang ramai di warung makan, termasuk suara musik dan obrolan pengunjung, menjadi salah satu tantangan utama. Gangguan suara ini sempat memengaruhi konsentrasi. Selain itu, akses internet yang bergantung pada koneksi hotspot pribadi juga menjadi perhatian. Berbeda dengan fasilitas kantor yang memadai, di lokasi WFA, para ASN harus memastikan ketersediaan colokan listrik yang memadai untuk perangkat kerja mereka.
“Tetap ada kendala karena di fasilitas umum terkait internet nyambung hotspot masing-masing. Colokan ada fasilitas, tapi tidak seperti di kantor. Sempat terganggu suara musik, ada yang ngobrol-ngobrol. Tapi kami fokus, lama-lama juga jalan,” jelas Ratna mengenai tantangan yang dihadapi timnya.
Biaya Tambahan dan Perspektif Pengeluaran
Salah satu aspek yang membedakan WFA dengan bekerja di kantor adalah adanya pengeluaran pribadi untuk kebutuhan akses internet dan konsumsi. Para ASN harus merogoh kocek sendiri untuk memastikan konektivitas lancar dan kebutuhan dasar selama bekerja terpenuhi.
Meskipun demikian, Ratna Susilowati menegaskan bahwa hal ini bukanlah masalah besar. Ia menilai bahwa pengeluaran yang dikeluarkan ASN saat WFA tidak jauh berbeda dengan pengeluaran saat mereka berada di kantor.
“Kalau di kantor tetap jajan nglarisi di kantin. Kalau ini melarisi UMKM. Kurang lebih hampir sama,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pilihan tempat kerja sangat fleksibel, tidak harus di kafe, tetapi bisa di mana saja yang mendukung, termasuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), restoran, maupun warung makan.
Dengan demikian, program WFA ini juga diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal, khususnya UMKM, dengan mendorong ASN untuk berbelanja dan menggunakan fasilitas di tempat-tempat tersebut.
Rutinitas Tetap Berjalan, Koordinasi Diperkuat
Terlepas dari perubahan lokasi kerja, rutinitas kedinasan ASN tetap berjalan seperti biasa. Apel pagi, yang biasanya dilaksanakan secara tatap muka, kini dilakukan secara daring. Proses presensi individu maupun tim, baik saat berangkat maupun pulang kerja, juga tetap wajib dilakukan.
“Karena baru uji coba pertama kali hanya penyesuaian waktu. Tadi juga melaksanakan apel secara daring di Shelter Manahan,” kata Ratna.
Menariknya, Ratna merasakan bahwa program WFA justru memperkuat intensitas koordinasi antaranggota tim. Dengan target kinerja yang jelas, para ASN dituntut untuk lebih fokus dan efisien dalam menyelesaikan tugas-tugas yang telah disepakati bersama atasan.
“Lebih intens untuk koordinasi. Lebih mengenai sasaran. Kami sudah di awal menargetkan tugas-tugas yang harus dilakukan. Itu sudah disepakati dengan atasan. Di WFA ini, melakukan apa saja yang menjadi titik fokus untuk dikerjakan,” tuturnya.
Fokus Tugas dan Evaluasi Mendalam
Pada hari pertama pelaksanaan WFA, tim Ratna memfokuskan pekerjaan mereka pada beberapa area krusial, antara lain urusan kepegawaian, peningkatan kepuasan masyarakat, dan reformasi birokrasi.
Beberapa tugas spesifik yang dikerjakan meliputi:
- Pemantauan Kenaikan Pangkat (KP) dan Kenaikan Gaji Berkala (KGB): Persiapan usulan KP dan KGB yang akan diajukan pada Maret 2026.
- Pemetaan Pelayanan BKPSDM: Melakukan survei kepuasan masyarakat terhadap layanan yang diberikan oleh BKPSDM, dengan tujuan menyelaraskan dengan standar pelayanan yang berlaku.
- Pemenuhan Reformasi Birokrasi: Upaya pencapaian target-target yang telah ditetapkan dalam kerangka reformasi birokrasi.
Program WFA ini merupakan inisiatif penting yang tidak hanya menawarkan fleksibilitas bagi ASN, tetapi juga mendorong adaptasi terhadap teknologi dan metode kerja baru. Evaluasi mendalam terhadap pelaksanaan uji coba ini akan menjadi kunci untuk penyempurnaan program di masa mendatang, memastikan efektivitas dan efisiensi pelayanan publik di Kota Surakarta.






