Katadata ESG Insight Ukur Kepatuhan 200 Perusahaan



Perusahaan yang bergerak di bidang keberlanjutan, Metta, secara resmi meluncurkan ESG Insight (KESGI) di Bursa Efek Indonesia (BEI), pada Senin (6/4). KESGI merupakan sebuah dashboard yang dirancang untuk mengukur kinerja keberlanjutan perusahaan publik dan sejumlah perusahaan pelat merah di Indonesia.

Co-Founder dan CEO Metta Dharmasaputra menjelaskan bahwa penilaian ESG telah dilakukan selama lebih dari empat tahun. Namun, dashboard yang dirilis tahun ini memiliki pendekatan yang lebih komprehensif.

“Akan ada scoring, ada communication, ada activations. Pada ujungnya ada consulting activity yang kami lakukan. Ini layanan yang terintegrasi dalam bentuk dashboard,” kata Metta dalam sambutannya di ESG Forum: ESG untuk Akselerasi Dekarbonisasi dan Bisnis Hijau di Jakarta, Senin (6/4).

Melalui KESGI, masyarakat dapat melihat kinerja keberlanjutan oleh lebih dari 200 perusahaan di Indonesia pada sembilan sektor, yaitu perbankan, batu bara, perkebunan, minyak dan gas, makanan dan minuman, transportasi dan logistik, rumah tangga, mineral, serta telekomunikasi.

Kebutuhan Investasi Berkelanjutan Tinggi

Dalam konteks yang sama, Eastpring menawarkan dua reksa dana ESG untuk memenuhi permintaan pasar akan investasi berkelanjutan. Selain itu, BEI mencatat pertumbuhan signifikan dalam produk investasi berbasis ESG di Indonesia.

Beberapa data menunjukkan bahwa transaksi GSS Bonds melonjak 156 kali lipat, dengan total capaian mencapai Rp 78 triliun. Hal ini menunjukkan meningkatnya minat investor terhadap instrumen keuangan yang ramah lingkungan.

KESGI Terapkan 100 Indikator

KESGI menerapkan 100 indikator untuk menilai keberlanjutan perusahaan. Hasil penilaian ini dapat diakses melalui dashboard KESGI yang akan terus diperbarui setiap tahun. Metta juga tidak menutup kemungkinan bertambahnya jumlah perusahaan yang ikut ditinjau melalui penilaian KESGI.

Keberadaan KESGI tidak lepas dari kebutuhan industri untuk melengkapi laporan keberlanjutannya. Sejauh ini, tingkat kepatuhan perusahaan untuk merilis laporan keberlanjutan – terutama yang melantai di BEI – sudah mencapai lebih dari 90 persen.

Namun, ketersediaan data dan informasi mengenai ESG masih menjadi tantangan, di samping keterbatasan sumber daya manusia. “Jadi ini sebetulnya sangat dibutuhkan ketersediaan data yang memadai,” ucap Metta.

Inisiatif untuk Menutup Celah dan Tantangan

Karena itu, KESGI menjadi inisiatif yang dilakukan untuk menutup celah dan tantangan tersebut. Dalam kesempatan yang sama, Pejabat Sementara Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik pun mengapresiasi langkah tersebut.

“Kami tentu sangat mengapresiasi inisiatif dalam menghadirkan forum ini sebagai ruang dialog yang konstruktif dan sekali lagi berbasis data,” ucap Jeffrey. Menurut dia, inisiatif ini relevan seiring meningkatnya urgensi transformasi menuju ekonomi yang rendah karbon.

Keuntungan dari Dashboard KESGI

Dashboard KESGI memberikan manfaat bagi berbagai pihak, termasuk investor, perusahaan, dan masyarakat. Dengan akses mudah ke data ESG, pengambil keputusan dapat membuat kebijakan yang lebih tepat dan berkelanjutan.

Selain itu, dashboard ini juga membantu perusahaan dalam memperbaiki kinerja mereka, baik secara lingkungan maupun sosial. Dengan adanya penilaian yang transparan, perusahaan bisa meningkatkan reputasi dan daya saing di pasar global.

Masa Depan ESG di Indonesia

Metta menegaskan bahwa KESGI adalah bagian dari upaya bersama untuk memperkuat sistem ESG di Indonesia. Dengan kerja sama antara pemerintah, swasta, dan institusi keuangan, target keberlanjutan nasional dapat tercapai.

Pengembangan dashboard seperti KESGI juga diharapkan mampu mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) yang telah ditetapkan oleh PBB. Dengan demikian, Indonesia dapat menjadi contoh negara yang mampu menjalankan prinsip ESG secara efektif dan berkelanjutan.

Pos terkait